1 |
Sonya Rury
Cerpen
Indra Tranggono
Mendengar isak tangisnya, aku terhisap memasuki lorong panjang, penuh kelokan.
Pada setiap tikungan, aku menemukan jejak luka yang dalam. Aku tak
ingin mencari sebab di balik matanya yang sembab. Aku sangat...
Dimuat di
Kompas
07/18/2010 |
2 |
Ia Tak Bunuh Diri di Hari Minggu
Cerpen
Indra Tranggono
Tubuh Sateer membeku. Kapan jantungnya memutuskan untuk berhenti
berdegup, hanya dia yang tahu. Sebuah riwayat telah ditutup dengan cara
yang begitu teaterikal.
Di reruntuhan bangunan dekat pasar
dan rumah ibadah di Kota Dazblath, Sateer merencanakan...
Dimuat di
Jawa Pos
08/09/2009 |
3 |
Pesan Pendek dari Sahabat Lama
Cerpen
Indra Tranggono
Aku telah kehilangan dia mungkin sekitar 30 tahun, sejak kerusuhan di Ibu Kota
itu meletus dan nyawa-nyawa membubung bagai gelembung- gelembung busa sabun:
pecah di udara, lalu tiada.
Waktu itu, di tengah...
Dimuat di
Kompas
04/26/2009 |
4 |
Kristal-Kristal Kesunyian
Cerpen
Indra Tranggono
Ya, kesunyian telah lama mengkristal di kota kami. Kesunyian telah memadat, nyaris tanpa celah, tanpa rongga atau sekadar pori-pori. Kesunyian telah menjelma serupa dinding kaca. Bening. Bercahaya. Namun tak teraba. Kami,...
Dimuat di
Jawa Pos
03/01/2009 |
5 |
Apa Kabar, Malam?
Cerpen
Indra Tranggono
SEORANG
Perempuan menulis sajak dalam benak dengan tinta hitam malam. Seluruh
pori-porinya mengembang. Peluhnya sangat deras menjelma ribuan kata,
ribuan kalimat yang mengalir dari telaga kenangan. Kadang Perempuan itu
cemas, kadang Perempuan itu gemas pada...
Dimuat di
Jawa Pos
07/13/2008 |
6 |
Kisah Kota Kwon
Cerpen
Indra Tranggono
Gemuruh deru kereta api menggergaji waktu. Selalu begitu, setiap hari di Kota Kwon. Di stasiun tua itu, yang kayu-kayunya telah merapuh, ratusan orang setia duduk-duduk hingga senja jatuh. Mereka menunggu kereta...
Dimuat di
Jawa Pos
03/04/2007 |
7 |
Jas, Tongkat dan Kesunyian
Cerpen
Indra Tranggono
Laki-laki tua itu berjalan terbungkuk-bungkuk, diiringi derai suara batuk. Dengan tongkatnya, ia menyusuri jalanan desa Tawang Abang. Jas potongan kuno yang riuh dengan hiasan pangkat-pangkat telah lekat di badan karena cucuran...
Dimuat di
Kompas
10/29/2006 |
8 |
Upacara Menunggu Kunang-kunang
Cerpen
Indra Tranggono
SEJAK pindah di kota Glazy, aku sering disekap kesunyian yang begitu kukuh, begitu perkasa. Apalagi bila senja mulai merambati langit, merambati perbukitan, merambati lembah-lembah, merambati gerumbulan pepohonan pinus, tangan-tangan kesunyian yang...
Dimuat di
Suara Merdeka
10/08/2006 |
9 |
Air Mata Kristal
Cerpen
Indra Tranggono
BURSALA mengangguk-angguk, sambil mengelus-elus jenggotnya yang rimbun. Dari balik jendela kamar lantai 111, ia memandang semburan lumpur kuning yang berbuncah-buncah. Bursala tak perlu memakai masker. Bau bacin yang menyengat dari danau...
Dimuat di
Jawa Pos
08/20/2006 |
10 |
Pembunuh Naga
Cerpen
Indra Tranggono
”IBU naga itu sebesar apa? Pohon kelapa? Atau...?” ujar Warih, anak lima tahun itu di gendongan Warsi, ibunya. ”Ibu belum pernah melihat. Hanya bisa merasakan, ketika dia lewat di bawah rumah...
Dimuat di
Kedaulatan Rakyat
07/09/2006 |