Logo Sriti Home | Cerpen | Tentang | Kontak
 


 








 
 

Ajal Sang Bayangan

Cerpen Eka Kurniawan Silakan Simak!
Dimuat di Koran Tempo Silakan Kunjungi Situsnya! 05/23/2004 Telah Disimak 1678 kali

 

DI BAWAH pohon maja, para lelembut melihat kedua petarung saling berhitung. Jauh di suatu tempat, barangkali di sebuah teratak di punggung bukit, seseorang meniup serunai demikian menyayat hati. Para lelembut ikut memandang, mempertaruhkan akhir pertarungan, senyampang kedua pendekar mempersiapkan jurus andalan.Siapa kedua bocah bagus ini, pikir mereka. Dua lajang gagah saling bersitatap, dengan sikap seolah mereka tengah menentang cermin. Bahkan napas mereka, pun lambaian ujung rambut keduanya, tampak seirama. Percayalah, seorang dari pengintip itu berbisik, mereka sama sakti sama ilmu. Pengintip lain menimpali, salah satunya jelas kidal.Tapi apalah artinya kidal, Sayangku, jika tangan kirinya seberdaya tangan kanan musuhnya. Dan apa yang kita pikir sebagai musuhnya itu barangkali tak bukan bayangannya sendiri. Lalu mereka mulai berselisih tentang yang mana wujud sesungguhnya. Lihatlah, Sayangku, itu bukan bayangan. Pendekar ini hendak beradu raga dengan dirinya sendiri.Sebagaimana dikisahkan, para lelembut ini tak lain Bedugul, Bedigil, Menawa, dan Menawi. Mereka terkesiap ketika dua kelebatan kecil mengirimkan desing. Namun sejurus kemudian kedua pendekar kembali mematung, dalam sikap tubuh yang tetap kembar. Para pengintip di bawah pohon maja membisu, menunggu. Bahkan burung-burung belatuk ikut terdiam.Keduanya menggenggam badik: yang satu di tangan kiri, yang lain di tangan kanan. Kedua badik teracung pada sudut yang sama. Juga lipatan-lipatan cindai kain petola mereka serupa betul. Tapi, Sayang, lihatlah wajah keduanya. Mereka bukan dua lelaki kembar, meski sama tinggi sama bobot. Si kidal berhidung lebih bangir, dengan segurat luka di dahinya, dan matanya cokelat cemerlang. Musuhnya memiliki luka pendek di rahang kanan, dengan bibir lebih lebar serta mata hitam gelap. Maka yang tersisa tak terbedakan bahkan oleh setan belang penghuni rimba.Mengapa mereka begitu lama berancang-ancang, bisik satu di antara lelembut. Mereka yang telah ditakdirkan memiliki kibasan-kibasan serupa, jimat-jimat kembar, kesaktian-kesaktian tak terbedakan, cukup saling menatap untuk melihat takdir dalam pertarungan tersebut. Mereka telah meramalkannya, saling mengerti gerakan apa pun yang akan dilakukan sang musuh, sebab gerakan itu pula yang akan dilakukannya sendiri. Bahkan mereka bisa menghitung pada helaan napas keberapa kuda-kuda itu akan berganti.Sekonyong kedua pendekar saling melesat. Mereka beradu di udara, menimbulkan bunyi lesak bersahut-sahutan. Pakaian mereka berkibaran, mengapungkan dedaunan yang ranggas. Burung belatuk kembali menotok batang maja mencari kutu pohon, dan suara serunai terngiang digiring angin. Bebunyian itu serupa pengiring suatu pertarungan yang segera berdarah, saling membalas saling berkait, seolah seorang bidadari dari atas angin mendendangkan seloka pedih.Lihatlah, Sayang, mereka saling bentur. Tendangan kaki kanan menjejak kaki kiri, dan ujung badik bercumbu memercikkan api. Dua tetes darah meluruh jatuh ke segerumbul rumput. Dan lihatlah pula, seolah ada dinding kukuh tak kasat mata di antara keduanya, mengandaikan cermin dua sisi, dan mereka tak pernah sanggup menerobosnya. Bahkan percikan peluh mereka pun berpadu dan melebur di sana.Demikianlah, bersama lenyapnya nyanyian serunai, Bedugul, Bedigil, Menawa, dan Menawi segera memejamkan mata seolah tak sudi menyaksikan akhir pertarungan yang teramalkan itu. Akhir yang bahkan telah dikenali oleh kedua pendekar itu sendiri.BETAPA risau Sang Hyang Guru tak beroleh kabar dari kedua sahabatnya. Apa yang terjadi denganmu, wahai Dora dan Sembada? Sejenis wangsit menyiratkan sesuatu yang mencemaskan, sehingga Sang Hyang Guru bergegas. Ia yang kini beroleh nama Ajisaka dan memerintah negeri Medangkamulan, minta disiapkan seekor bagal. Ia akan pergi ke Majeti, tempat Dora dan Sembada mestinya berada. Duh Sahabat, semoga kalian tak beroleh lawan.Perjalanan itu seperti mendendangkan kidung sedih. Barangkali duka ini, yang bakal dihadapinya di satu padang ilalang, juga telah diramalkan sebagaimana ia beroleh kemuliaan maharaja tiga tahun saja. Hilanglah rasa jumawa dalam dirinya, sekonyong ia menyadari kesementaraan segala bahagia. Apakah ini semilir busuk mayat kalian, wahai Dora dan Sembada? Demikianlah, katanya mengigau, para kesatria pun memiliki ajalnya sendiri.Padahal ia telah mengajari mereka segala ilmu yang terbaik dan terburuk. Segala kemuliaan dan keculasan kaum pendekar, yang lelap dalam sekam api. Ia mendidik mereka seenteng membikin bunting para dewi tanpa sanggama. Dua raga sakti yang malang, kesatria mana berdaya menghentikan kehidupan kalian? Tentu saja, kecuali kalian saling beradu.Ketoplak langkah bagalnya mengisi kesenyapan hutan. Di tengah kerusuhan hati, kembali ia meragukan prasangkanya. Mereka telah dibekalinya segala jurus maut penakluk, sekaligus penangkalnya. "Selalulah berpikir sebagai diri yang lain. Ketika kau menyabet, renungkanlah kau disabet dengan cara yang sama," suatu ketika ia memberi wejangan kepada kedua sahabat tersebut, yang bersama ia berkelana dari tanah Rum, Balhum, dan Selan mengajarkan agama, kekawin, dan kidung hingga tiba di tanah Jawa dan berhelat di Majeti.Diiris-iris derak pelepah dan dedahan yang dihantam semilir angin, ia mengajak bagalnya menerobos belukar, dan sekonyong ia melihat lalat berhamburan serupa percik lelatu. Hatinya terhenyak. Beberapa depa ke depan, matanya nanar memergoki bangkai terkapar yang pias dan berbau busuk. Pakaian yang mereka kenakan telah kuyup oleh ladung. Pun di sekeliling mereka terserak sayatan kain yang rantas. Tiba-tiba ia merasa sangat penat.Kedua tubuh yang terempas itu telentang dengan ujung jari kaki saling menyentuh. Bahkan dalam kematian, mereka masih memberi pertanda sebagai diri dan bayangan. Lihatlah, Sayangku, dua belas semut merah mengerubuti wajah Dora dan dua belas yang lain di wajah Sembada, jika itu memang nama keduanya sebagaimana si tua lelah yang kini turun dari bagal dan membungkuk memberi hormat itu menyebutnya.Di sekitar mereka teronggok aneka pusaka, perhiasan, dan segala jimat. Percayalah, Sayangku, mereka saling membunuh untuk memperebutkan benda-benda tersebut. Ah, di ujung takdir yang paling niscaya, aku yakin mereka akan bertarung tanpa alasan apa pun. Di bawah pohon maja, para lelembut masih ramai berselisih.Ajisaka melihat serakan benda-benda itu dan segera mengenali asal-usul segala petaka ini. Duh, Sobat, ampunilah titah yang kurang bijak itu, yang membawa kalian pada sabung mematikan ini. Ia kembali bersoja, berurai air mata, dan mengiba diri sendiri. Terseok-seok ia menyorongkan kedua mayat ke atas bagal; ketika tertelungkup di sana pun keduanya masih terjurai berhadapan dalam sikap yang tetap kembar. Bahkan ia yang bisa menghidupkan manusia dari lempung pun tak sanggup menentang kematian syahid serupa itu. Sepanjang hayat Ajisaka menyesali titahnya yang sembrono.SANG kesatria berasma Dora itu melangkah melerengi bukit. Ia merasa lunglai dan tercabik. Salah satu dari kedua murid itu akhirnya mesti mengabaikan titah Sang Hyang Guru.Telah ia tinggalkan dangau tempat mereka menanti berbilang musim. Sembada tetap bersetia kepada titah Sang Hyang Guru dan Dora mengambil peran pengingkar. Sesuatu harus dijalani, katanya. Demikianlah ia pergi dari babakan sunyi bernama Majeti itu, menyaruk mengikuti suara serunai yang telah lama mereka dengar.Seseorang meniup serunai itu di sebalik bukit. Setelah setengah hari mengayun langkah, ia melihat seorang pertapa di sebuah teratak. Barangkali orang saleh itu baru rehat dari semadi, dan mengalunkan dendang dari serunainya yang panjang. Dora memberi salam hormat; sang pertapa membalas dengan menggeser tubuhnya ke arah si anak muda bersila. Selepas kesenyapan sesaat, sang pertapa berucap, apakah kau memeram rasa takut? Ah, tidak, Eyang. Jangan berdusta, rasa takut itu tersurat di wajahmu.Demikianlah Dora kemudian mengaku, telah lama ia memeram rasa takut kepada bayangannya sendiri. Jika bayangan itu mengiris jarinya sendiri, aku akan merasakan pula sakitnya. Adakah yang lebih menakutkan dari itu, Eyang?"Kau mesti percaya bayangan tak bakal ditaklukkan," kata sang pertapa. "Namun ia pun tak bakal menaklukkanmu."Tapi wejangan itu tak juga membuat cemasnya hilang. Ia pamit dan kembali menggelandang dan tetap risau. Bagaimana tak risau jika kau cukup memandang bayanganmu untuk mengetahui keberadaan diri, serupa satu penelanjangan? Serasa baginya melihat kitab takdir dan ia tahu segala yang buruk dan tak tertahankan tengah menunggunya.Sepanjang perjalanan, penuh rendah hati ia menemui para cerdik-pandai di setiap dusun, memohon nasihat dari mereka yang berilmu itu. Kepada mereka ia selalu bertanya bagaimana mesti menaklukkan bayangan. Sosok yang sama ilmu sama tipu. Tak satu pun memberi ujaran gamblang perihal itu, malah bertambahlah rasa takutnya: Jagalah bayanganmu, sebab jika ia celaka, demikian pula dirimu. Dan suatu masa ia ingat, sosok bayangan itu tenggelam dan jauh di atas bukit ia sendiri merasa tercekik. Betapa mengerikan memberikan nasib pada sosok lain, pikirnya. Dan ia merisaukannya dari musim ke musim.Ketika didengarnya Sang Hyang Guru telah mulia sebagai maharaja bernama Ajisaka, sekonyong ia tahu ia mesti ingkar dan menyusul ke Medangkamulan. "Barangkali ia lupa perihal kita," katanya beralasan. Tak peduli ia bahwa Sang Hyang Guru telah berpesan kepada mereka untuk menanti di Majeti, menunggu pusaka miliknya, dan tak akan pernah pergi, pun memberikan harta itu, kecuali atas titah yang didengar dari mulutnya sendiri.Dan inilah kerajaan Medangkamulan: makmur mengalahkan segala kota dan desa. Raja yang terdahulu, Dewatacengkar, sangatlah bengis kelakuannya. Alih-alih membuat girang rakyatnya, ia menyantap mereka setiap fajar. Ajisaka telah mengalahkannya, dengan segala tipu, dan mengusirnya ke laut sebagai buaya putih. Kepada negeri ini diberikannya segala girang, kemakmuran duniawi, dan dihidupkannya manusia-manusia dari lempung, sebagai pengganti yang telah hilang disantap Dewatacengkar.Sang pendekar bergegas ke istana. Ajisaka menyambutnya riang, dan mereka memanjakannya dalam anjangsana penuh suka itu, sebelum Sang Hyang Guru bertanya, "Dan di manakah saudaramu, Dora?""Sembada tak sudi beranjak," kata Dora menghaturkan hormat, "Maka kutinggalkan bayanganku itu di Majeti, Guru."IA TAHU para lelembut hanya ternganga menyaksikan mereka bertarung. Kadang mereka terbang saling menyabet dengan pakaian berkibaran serupa sayap burung enggang sebelum segera meredam serangan dan lebih banyak diam penuh rasa duka. Ia sungguh tak suka sosok di hadapannya itu. Sosok yang tahu kapan aku berputar ke kiri, melompat ke belakang, mengedutkan alis, dan kapan aku bakal terempas, pikirnya.Telah berapa lama mereka hidup serupa itu? Saling meniru dan membangkitkan rasa sebal? Suatu diri yang lain, namun sepenggal dirinya sendiri ada di sana, dan segala rahasia tersembunyi dikenalinya. Ia tak pernah sanggup menghadapi sosok dengan pengetahuan serupa itu, dan selama kebersamaan mereka, satu hal yang ingin diketahuinya hanyalah bagaimana mesti menanggalkan bayangan tersebut. Ia tahu pikiran itu bersemayam pula di sosok yang membayang tersebut. Penuh rasa cemas, ia dan bayangannya saling menanti untuk saling melenyapkan.Alasan untuk sebuah sabung mesti disuratkan. Maka dibiarkannya Dora hengkang menyusul Sang Hyang Guru ke Medangkamulan. Alasan itu mulai menjadi gambaran yang semakin kasat mata. Syahdan, Ajisaka kemudian menitahkan Dora kembali ke Majeti, menyuruhnya menjemput Sembada dan pusaka yang dijaganya.Dora meninggalkan kotaraja dengan sukma serasa tanggal darinya. Akhir pilu itu mulai dikenalinya. Mengarungi jalan, ia menguat-nguatkan hati. Takdir ini mesti disambutnya, sebab mereka sendiri telah mengharapkannya. Tak peduli ia apa bakal jadinya. Lampahannya terseok, hingga dicerabutnya sebatang bambu tempat kacang merambat di sepetak ladang, dijadikannya tongkat penopang tubuhnya yang limbung.Dan di sinilah ia menanti Dora, sejarak dari dangau tempat mereka pernah lama berhelat. Kembara ini bakal berakhir, Sobat, katanya pada yang baru tiba. Lalu Dora menyampaikan titah Sang Hyang Guru kepadanya. Tidak, katanya. Bukankah mereka telah berjanji tak akan pergi dan menyerahkan segala pusaka ini kecuali Sang Hyang Guru sendiri yang menjemput? Tapi aku diutusnya demikian, dan jika kau abai, aku bakal menghentikan hayatmu. Aku tak akan hengkang. Dan aku tak bakal pergi tanpa membawa segala jimat itu.Jelaslah sudah, semua itu hanya alasan bagi mereka untuk bertarung. Dora mengancam Sembada, dan Sembada balas menatap mata Dora. Dora segera menanggalkan tudungnya serta memberi hormat, begitu juga dirinya; sekonyong ia melihat kembali bayangan penyebal itu. Sembada membuat gerakan menipu, begitu pun bayangannya. Para lelembut pengintip itu tak tahu bagaimana membedakan keduanya. Lama ia terdiam merenungi pertarungan tersebut, dan bayangannya bergeming pula. Pertarungan itu berkelebat di dalam tempurung kepalanya, menanjak dari jurus-jurus pengecoh hingga tipuan-tipuan licik mematikan, tapi ia tahu bayangannya pun memikirkan itu semua. Sekali-dua ia mengirimkan gerak, dan bayangannya berlaku serupa. Maka mereka beradu, saling melengos, dan jatuh-bangun, menumpahkan peluh.Ketika luka mulai melelehkan darah, ilham itu kemudian datang begitu terang, serupa mimpi buruk yang muncul kala siang.Ah, lihatlah, Sayangku. Mereka terpaku kembali begitu khusyuk. Bahkan padi yang rontok dari paruh seekor emprit pun terdengar nyaring jatuh ke pasir. Suara burung hantu pada senyampang jarak menyiratkan kedatangan roh para leluhur kedua pendekar yang bersiap menjemput ajal. Cahaya membencar dari barat mengabarkan senja perpisahan. Ah, Sayangku, tamasya ini begitu duka. Sabung imbang ini akhirnya beroleh penutup.Selamat panjang umur, Sobat, di dunia kekal. Kecut hati Sembada berujar, begitu pun bayangannya. Kini tak ada lagi sosok yang selalu menenteng nasibnya. Sebab kini ia tahu bagaimana mesti menanggalkannya, namun dengan cara itu pula ia mesti mati:Untuk membunuh bayangan, kau mesti membunuh diri sendiri.2004Eka Kurniawan, kelahiran Tasikmalaya, 1975. Dua novelnya Cantik itu Luka (2002) dan Lelaki Harimau (2004). Bergiat di Serikat Pembaca Dunia. Kini tinggal di Jakarta.

 

 

 

 


© 2002-2009 Sriti.com. All Rights Reserved.
Home | Tentang | Kontak