|
WAJAHNYA tercetak di majalah Indisch Weekblad van het Recht sebagai buronan paling diinginkan, tampaknya oleh Charles TeMechelen, satu-satunya residen laut di Jawa kolonial tahun 1891, dan yang menyebut dirinya sendiri sebagai Kaisar Opium.
Wajah yang tercetak itu memperlihatkan roman seorang lelaki tirus, barangkali oleh tahun-tahun yang terisap candu, berdarah pribumi, mengenakan destar, dengan mata redup, kumis tipis, duduk di sebuah bale pondok opium yang tak dikenali. Untuk siapa pun yang memperoleh kepalanya, hidup atau terpenggal, disediakan upah f600.000, hampir setara kekayaan sebuah bandar opium, untuk menggambarkan betapa bangsatnya lelaki ini. Tak seorang pun, paling tidak secara terang-terangan, yang mengenal nama buronan tersebut, dan TeMechelen sendiri lebih suka menyebutnya sebagai "Pendekar Mabuk".
Harga tersebut disediakan untuk penutup segala dosa yang mungkin dituduhkan kepadanya: merayu seorang mevrouw, tidur di bawah pohon, mengedarkan opium gelap, mengenakan pakaian yang bukan pakaian dari golongan sukunya sendiri, sebab itu terlarang menurut statuta 1872, dan terutama membakar sebuah bandar yang membuat delapan orang mati terpanggang. Tetapi untuk harga sebanyak itu, kebanyakan orang percaya lelaki ini mestinya melakukan kejahatan yang lebih bengis lagi, yang barangkali hanya diketahui pejabat kolonial, atau bahkan hanya diketahui TeMechelen sendiri.
Apakah orang ini telah menyamar sedemikian rupa ke daerah-daerah pedalaman, atau karena tak seorang pun tergiur oleh harga kepalanya sehingga tak seorang pun berniat menemukannya, hanya sejarah yang tahu. Tapi benar, ada lebih banyak orang yang berharap ia tak pernah ditemukan, apa pun kejahatan yang dilakukannya.
***
Ada desas-desus bahwa lelaki ini anak tak sah seorang bupati, meski secara umum TeMechelen mencatatnya sebagai anak seorang janda dengan ayah tak dikenal. Keterlibatannya paling awal dengan opium adalah kunjungan-kunjungan rutinnya ke beberapa pondok. Ia tak pernah menetap di salah satu pondok, tampak selalu berkeliaran, sejenis pengembara yang kesepian. Tapi tampaknya ia tahu betul di mana bisa memperoleh opium, membeli dan mengisapnya.
Pakaiannya yang perlente dan dengan cara yang tak sopan sering tampil kebarat-baratan, menyiratkan ia memiliki uang lebih banyak daripada yang dihamburkannya untuk madat. Satu catatan sembrono mengatakan ia tak berteman, melihat kecenderungannya untuk menyendiri. Kunjungan acaknya ke beberapa pondok opium, tak mengurangi perkenalannya dengan para pemilik pondok-pondok tersebut. Ia berteman dengan mereka, tentu saja.
Di masa-masa itu, pondok opium hampir selalu merupakan rumah pelesiran, dan ia tak kalah royalnya menghamburkan uang untuk judi dan perempuan. Pondok-pondok itu, lebih sering milik saudagar Cina yang memiliki hak memonopoli pembelian dan penjualan opium resmi. Mengetahui asal-usul priayinya, selang berapa lama syahbandar telah mengundangnya dan untuk pertama kali ia memperoleh jatah candu secara cuma-cuma. Juga kadang-kadang sutera, lilin, dan perempuan. Ia tahu semua itu bukannya tanpa pamrih, tapi ia tak peduli. Ia berbagi kesenangan dengan banyak teman, dan mereka kelak menjadi anak buahnya yang setia.
***
Selang beberapa lama ia jadi pemadat dengan mata mulai cekung dan cara bicara yang impulsif. Ia mulai berpikir untuk menceburkan diri ke urusan opium dan memperoleh uang dengan caranya sendiri. Awalnya ia hanya membeli jatah harian yang diperkenankan oleh pemerintah kepada seseorang, sebesar satu tahil. Seseorang yang dipercaya akan meramu opium itu, sebagian berasal-usul Bengal yang lainnya dari Turki dengan kualitas lebih rendah, dengan gula bakar, sari jeruk, atau jicing, serta daun awar-awar, sebelum dibuat bola-bola kecil tike. Tike itu dijual oleh sahabat-sahabatnya yang lain secara diam-diam, di luar pondok opium, ke desa dan kampung-kampung.
Melalu para pedagang patungan itulah, demikian nama orang-orang yang menjual opium serupa menjual wedang bajigur, ia mulai membangun kerajaannya sendiri. Kegemarannya mengembara memungkinkannya untuk membeli satu tahil opium di satu pondok dan satu tahil di pondok lain dan satu lagi di lain pondok, dalam sehari. Ia juga bisa menyuruh seseorang yang dipercaya untuk melakukan hal serupa. Hingga akhirnya ia bisa menjual bahkan nyaris menyerupai kuantitas sebuah bandar, menjadikan dirinya bandar di dalam bandar.
Orang Cina yang berlaku sebagai syahbandar, namanya Liem Kok Sing, bukannya tak tahu. Ia bertindak bijak dengan bersikap hati-hati menghadapinya, sebab lelaki itu sekonyong-konyong telah mengumpulkan tukang pukul dan mata-mata, menyogok para mantri polisi dan membungkam beberapa kontrolir, demi usahanya yang aneh tersebut. Bagi Liem Kok Sing sendiri apa yang dilakukan lelaki tersebut tidaklah terlalu mengganggu usahanya selama ia selalu membeli opium dengan tunai dan percaya ia tak mungkin menjual tike di bawah harga pondok opiumnya kecuali lelaki itu berkehendak membangkrutkan dirinya sendiri.
Tapi khawatir di masa yang akan datang ia akan menjadi masalah bagi usahanya, Liem Kok Sing berusaha merangkulnya. Kekhawatirannya beralasan: dengan orang-orang yang tersebar di segenap pelosok wilayahnya, lelaki ini sangat mampu untuk menjadikan dirinya raja penyelundupan opium gelap. Semua orang tahu harga di pondok opium lima kali lebih mahal dari opium gelap, sebab para bandar harus menutup biaya pembelian yang tinggi dari pemerintah, juga pajak, dan gaji pegawai, serta sogokan. Dan tampaknya ada kecenderungan besar lelaki itu, dengan segala perangainya yang tak terkendali, serta jaringan anak buahnya, akan segera masuk ke penjualan opium gelap.
Usaha merangkulnya tidaklah sulit. Lelaki itu tampaknya juga berpikir, bahwa terus-menerus membeli opium eceran dari pondok untuk menjualnya kembali ke kampung-kampung bukanlah cara mencari uang yang menarik. Ia menerima ajakan Liem Kok Sing untuk berkongsi dan maju ke lelang opium berikutnya. Satu-satunya yang ia minta, dan ini sesuai dengan gaya flamboyannya, adalah untuk merahasiakan segala tetek bengek kongsi ini dari siapa pun.
Demikianlah kepada residen dan anggota kongsi lainnya, Liem Kok Sing hanya menyebut lelaki itu sebagai “Pendekar Mabuk”, dan itulah namanya.
***
Peredaran opium di Jawa abad 19 sangatlah mencengangkan, sebagian kecil melalui tangan pemerintah, sebagian besar merupakan hasil penyelundupan. Bagaimanapun bunga opium tidak dihasilkan sendiri di Jawa. Pemerintah kolonial barangkali membelinya di Levant, Calcuta, atau agen-agen di Singapura, yang kemudian menyebarkannya ke bandar-bandar yang memenangkan lelang membayar pajak tertinggi. Pajak ini sangat menggemukkan kas kerajaan, sehingga para bandar sangat dilindungi dari kecurangan para penyelundup.
Sebenarnya, kadang bandar-bandar dan para penyelundup mungkin orang yang sama. Dalam rangka melindungi harga agar tetap bersaing di tingkat eceran, para bandar sering kali harus mencampur jatah opiumnya dengan opium gelap.
Penyelundupan opium gelap sebagian besar mempergunakan perantara para pengusaha Armenia, yang memasoknya dari Bali dan Lombok, dua wilayah dengan pengawasan yang cenderung longgar, dan yang hubungan niaganya dengan Jawa sangatlah sibuk. Opium dikapalkan dan didaratkan di sepanjang pantai utara. Adakalanya untuk menghindari segala pemeriksaan, kapal-kapal ini bersurat tujuan ke Kalimantan yang tak memiliki ikatan dengan monopoli opium. Dan bahkan jika mereka tepergok mendarat di pantai Jawa, mereka akan menyialkan angin yang tak ramah dan segala urusan menjadi kelar.
Meskipun begitu, masalah para bandar tak pernah terselesaikan hanya dengan ikut menjual opium gelap. Pokok soalnya adalah mereka tetap berkewajiban membayar pajak dan harga opium pemerintah yang tak tertutupi dengan harga murah opium gelap. Satu-satunya cara, bersama pemerintah, mereka mesti membunuh kehidupan pasar gelap opium.
Orang yang akan ditunjuk untuk urusan ini adalah Charles TeMechelen, seorang blasteran Belanda-Cina yang fasih berbahasa Melayu, Jawa, dan tentu Belanda. Lahir di Rembang, sekolah di Delft Academy, selama bertahun-tahun bekerja sebagai kontrolir, diselingi kegemarannya berburu, serta mengajar calon pegawai di Gymnasium Willem III di Batavia. Tahun 1882 ia menjadi asisten residen untuk Kewedanaan Juwana, Jepara.
Ia berada di tempat buruk yang tepat: Juwana adalah kunci operasi besar pasar gelap opium. Ia kemudian ditunjuk untuk memimpin satuan tugas antipenyelundupan. Sebagian besar operasi disokong keuangan para bandar, dan kelak menimbulkan iri hati banyak pejabat. Salah satunya residen Jepara, yang mengeluhkan dirinya terlampau banyak mengurusi perburuan para penyelundup daripada kerjanya sebagai asisten residen.
Akhirnya ia memang diberhentikan sebagai asisten residen, dan memperoleh jabatan aneh: residen laut. Tapi dengan cara itulah ia memiliki kewenangan untuk menangani masalah besar penyelundupan opium, dan dengan segera mulailah legenda si Kaisar Opium.
***
Sementara itu di masa yang sama, lelaki yang disebut “Pendekar Mabuk” itu secara diam-diam menceburkan diri ke pasar gelap opium, tentu saja tanpa sepengetahuan kawan kongsinya. Tata cara perdagangan opium lamanya telah ditinggalkan, namun masih menguasai jaringan anak buahnya, yang kemudian menjadi tulang punggung operasi penyelundupannya. Tampaknya semua itu sudah ia rencanakan, dan menutupi segala aksinya dengan tetap menjadi pengunjung pondok opium, mengisap pipa, main perempuan, untuk memberi kesan ia tak punya pekerjaan apa pun.
Melalui serangkaian penyelidikan, TeMechelen mulai mencium keberadaan lelaki tersebut, tapi bukti-buktinya sangatlah samar. Hingga muncullah kasus The Toan Hwat. Orang ini memiliki muatan opium yang dikapalkan dari Singapura ke Pulau Bawean dengan kapal uap Bandjermassin. Ia terbukti bersalah, didenda, dan beroleh kerja paksa tiga tahun, tapi ia naik banding.
Dewan Keadilan Surabaya memeriksa ulang kasusnya, dan segera ia dibebaskan karena belum terbukti ia pemilik opium tersebut. Lagi pula menurut undang-undang, nakhoda kapallah yang mesti bertanggung jawab, dan bukan penumpang. TeMechelen mencium permainan uang, hakim-hakim yang disogok, dan mencurigai seseorang yang mengatur ini semua. Kecurigaannya jatuh ke si “Pendekar Mabuk,” tapi tak ada bukti pula. Dendamnya pada lelaki itu mulai tumbuh.
TeMechelen mendekati Liem Kok Sing, menyadari ada hubungan lelaki tersebut dengannya, dan menjalin persahabatan. Liem Kok Sing sendiri rupanya telah mencium gelagat tak beres dari kawan kongsinya, dan mencoba mencari bukti keterlibatannya dalam opium gelap. Lelaki tersebut membalasnya dengan sangat kejam: kantor bandarnya dibakar suatu malam, melenyapkan segala bukti yang mungkin bisa diperoleh, sekaligus membunuh delapan lelaki. TeMechelen semakin bersemangat memburunya.
***
Perburuan seorang "Pendekar Mabuk" oleh Kaisar Opium, tampaknya harus berakhir oleh peristiwa-peristiwa tak terduga: harga gula dunia jatuh dan ekonomi memburuk. Orang tak punya uang untuk membeli opium. Bandar-bandar bangkrut, kaum etis berpropaganda di De Locomotief tentang jahatnya opium.
TeMechelen yang dianggap mengerti soal ini, mencoba menjadi penengah antara syahbandar yang dililit utang dengan Batavia. Ia menjadi pembela sistem bandar melawan tawaran baru yang diajukan kaum etis: Regi Opium, sejenis monopoli pemerintah terhadap benda tersebut. Persaingan ini dibumbui oleh iri hati dan kecemburuan yang telah lama tumbuh di antara banyak pejabat terhadap sang kaisar. Dan di tengah-tengah itulah, sang "Pendekar Mabuk" ikut bermain.
Melalui orang-orang Liem Kok Sing yang masih dalam pengaruhnya (atau ia diam-diam memasukkan mereka selama menjadi anggota kongsi), lelaki ini menyelundupkan opium dalam jumlah gila-gilaan ke Pulau Marungan, atas nama Liem Kok Sing. Padahal Liem Kok Sing sendiri sedang dibela mati-matian oleh TeMechelen agar memperoleh keringanan pembayaran utang. Liem Kok Sing jatuh bangkrut dan mati tak lama kemudian, kasus penyelundupan itu terbongkar dan mencoreng wajah TeMechelen. Orang-orang mencibirnya sebagai pelindung para penyelundup.
Itulah waktu wajah "Pendekar Mabuk" muncul di majalah. Tanpa seorang pun menemukannya, sebab jika lelaki itu tertangkap akan banyak orang terkena ciprat, TeMechelen kabur ke Eropa menghindari para pencibir. Sisa hidupnya penuh kesunyian, dan orang melupakan jasa-jasa baiknya memberantas opium gelap. Ia meninggal setelah menghabiskan waktu hanya dengan berburu babi. Bertahun-tahun kemudian, di masa Jepang, kini berumur 82 tahun, "Pendekar Mabuk" muncul untuk terakhir kalinya dan mengobral semua opium yang ada di tangannya. "Untuk biaya sebuah revolusi," demikianlah ia berkata untuk terakhir kalinya.
2004 |