Logo Sriti Home | Cerpen | Tentang | Kontak
 


 








 
 

Pengakuan Seorang Pemadat Indis

Cerpen Eka Kurniawan Silakan Simak!
Dimuat di Media Indonesia Silakan Kunjungi Situsnya! 01/06/2005 Telah Disimak 1377 kali

 

Tapi siapakah mereka (semua kelas pemadat ini)? Pembaca, maaf saya katakan, sesungguhnya banyak sekali....Saya tak percaya siapa pun orang, yang pernah ada coba kemewahan ilahiah opium, bakal merosot menuju kenikmatan kotor dan fana alkohol. Saya kasih jaminan: barang siapa yang sekarang madat, tidak pernah madat sebelumnya... dan yang selalu madat, sekarang madat lebih banyak lagi.

Thomas de Quincey, Pengakuan Seorang Pemadat Inggris

Matanya redup, dengan ia punya bulu mata lentik sekali. Dan kalau umpama ia bicara, kita bisa dengar itu merdunya suara. Sekali dua bibirnya kasih saya senyum, membikin hati mabuk kepayang, melambung-lambung ke langit yang ketujuh. Makin cinta pula saya padanya, begitu pula ia cinta pada saya. Kemudian saya bakal sentuh ia punya jemari, dan kami berpegang-pegangan begitu lama. Saban hari serupa itu, hingga ia mesti tinggalkan saya di bumi yang kejam ini. Sendirian dan merana saja.

Ini bukan sebuah hikayat atawa roman. Tidak, pembaca yang budiman, ini catatan tidak dimaksudkan oleh penulis menjadi begitu. Ini saya tulis untuk sekadar peringatan bagi siapa saja yang sudi menengok sejenak, pada apa-apa yang pernah dialami oleh saya. Barangkali ada salah satunya yang berguna buat dipungut untungnya.

Di akhir bulan Agustus ini, hujan yang merayu-rayu membikin saya ada hati ikut sendu, dan saya jadi mengenang-ngenang yang sudah lalu. Di balai-balai ini, pembaca, tempat sekarang saya ada bikin ini catatan, ia pernah tidur-tiduran manja. Kepalanya ada dijatuhkan ke pangkuan saya. Badannya kecil dan enteng, sekali-dua batuk-batuk timbulkan rasa kasihan, di kulitnya yang dulu begitu bersinar menyilaukan, saya rasakan panas meriang. Tapi lihatlah matanya yang redup itu, pembaca, jikalau cerdik menyelisik bisalah kita lihat ia ada kobar semangatnya.

"Apakah kamu senang?" tanya saya sekali waktu.

"Ya, saya senang," jawabnya.

Cukuplah saya mendengar bahwa ia senang, maka bahagia pula saya. Tentu tidak selalu ia senang serupa itu, lain waktu kelihatan oleh saya ia begitu cemas dan sedihnya. Tapi ia selalu merasa senang tidur-tiduran di balai-balai ini. Saya bakal sudi menggantung orang punya kepala asal saya bisa selalu membawanya kemari.

Seorang jongos perempuan akan datang mengisut ke arah kami, duduk di ujung balai dan kami menghirup bau tubuhnya yang semilir. Kepada kami diberikannya dua buah padudan, mengeluarkan bola-bola candu dan dipanggangnya itu di atas api dari lampu minyak. Pelayan itu pun berlalu, menggoda saya dengan geolan ia punya pinggul, dan sedikit senyum judesnya. Barangkali ia kesal lihat ada lain perempuan tidur-tiduran lengket di pangkuan saya. Begitulah pelayan-pelayan itu, adat dan tabiatnya tidak baik untuk tamu perempuan.

Tapi sebab perempuan yang sedang tidur-tiduran inilah saya datang ke ini rumah candu. Pembaca yang budiman, kini tangannya yang gemetaran tampak terulur buat ambil itu mangkuk isi candu. Didorong rasa cinta yang meluap-luap, saya sorongkan itu mangkuk hingga ia sanggup mengambilnya. Untuk itu ia kasih saya senyuman lagi, yang timbulkan dua lesung pipit di pipinya, dan dengan gemas saya mengelus itu lesung pipit serupa hendak mengutilnya.

Di bawah terangnya lampu minyak, kami mulai mengisap itu candu dengan padudan. Saya dengar ia mulai batuk-batuk pula, lalu saya kasih ia sapaan di rambutnya untuk bikin itu batuk reda. Sejenak batuk itu lenyap pula dan kami mengisap candu lagi. Di lain balai-balai, orang-orang juga ada berselonjoran, beberapa ada bertukar cakap, yang lain bermain dengan itu perempuan-perempuan girang.

Separuh terpejam kekasih hati ini kembali jatuhkan ia punya kepala ke pangkuan. Seperti biasa ia bercerita ngalor-ngidul penuh semangat, lalu setelah capek ada dimintanya buku yang selalu dikepitnya serupa bayi orok berjudul Babu Dalima. Sebab, "Saya kepingin seperti itu perempuan-perempuan Olanda," katanya.

Kami tertawa musababnya buku itu ada bercerita soal ini rumah-rumah candu, dan pembaca, ada disebut bahwa kami ini orang bertabiat jorok dan dekil, pemalas dan rusak pula moralnya. Barangkali Tuan Perelaer lupa, rumah-rumah candu dibikin serupa itu agar orang-orang yang merasa dirinya baik tidak dekat-dekat ke itu rumah, jadinya tidak tahu pula apa yang sesungguhnya kejadian di sana itu.

Pembaca yang budiman, kami datang ke itu rumah candu dengan bekal 20 sen saja. Banyak orang mesti banting tulang di ladang tebu buat beroleh beberapa puluh sen. Kami lumayan beruntung, ada sedikit warisan dari seorang famili yang meninggal tiba-tiba di tempo hari. Tapi pembaca, dengan 20 sen itu kami cuma beroleh candu sedikit saja, cuma beberapa gulung tike. Saya baru ada jual kami punya lemari antik untuk bisa beroleh candu yang lebih bagus.

Dan dari lemari antik itu kami cuma beroleh secuil candu pula, selebihnya tentu buat itu orang punya rumah candu. Orang yang bahkan tidak pernah nongol buat nengok sejenak pun, ongkang-ongkang saja di rumah bagusnya buat terima uang yang diantarkan oleh bujang-bujang yang ada jaga ini rumah-rumah candu. Tapi pembaca, uang-uang itu pun tidak semua dimasukkan saku bajunya, musababnya, ia mesti bayar itu pajak candu ke pemerintah. Bukan uang yang sedikit pula. Juga ia mesti bayar buat beli candu anyar, ke siapa lagi, juga ke pemerintah. Jadi pembaca yang budiman, uang dari lemari antik itu, sebagian besarnya pergi ke rumah gubernur di Buitenzorg. Mereka boleh bilang rumah candu tidak punya kebaikan, tapi mereka bakalnya diam saja karena beroleh banyak uang buat itu saku-saku besar.

Kata orang-orang sepuh dulu, candu bisa kita beli mudah saja. Orang-orang kelontong yang bawa pikulan dan pula jualan tuak aren sering jual itu candu. Mereka beli eceran di saudagar-saudagar Arab di pesisiran, murah pula. Tapi ketika pemerintah ambil jualan itu candu, lalu rumah-rumah candu dibikin, kita orang tidak boleh beli candu di sembarang orang, kecuali hendak masuk bui atawa kena pungut denda. Dan, kami beli candu di itu rumah-rumah lima kali lebih mahal dari yang bisa kamu ambil di itu penjual kelontong yang keliling-keliling. Masa lalu sudah lewat, sekarang semua-semuanya jadi urusan pemerintah.

Tentu pembaca yang budiman bakalnya bertanya-tanya, gimana kejadiannya berdua kami ini kemudian bisa masuk rumah candu dan mengisap candu, hingga upah saya tak lagi cukup buat bayar dan mesti jual itu kami punya barang-barang, juga lemari antik yang sudah saya sebutkan di muka itu. Apakah begitu saja serupa orang makan nasi dan mesti memakannya terus, sebab jikalau tidak kita orang bisa mati? Atawa terjerumus serupa orang terperosok lubuk dalam dan tidak sengaja meminum airnya tidak ada henti sebab terus tenggelam? Atawa kami ada coba-coba serupa orang ada cobai sayur yang dikasih famili dan kita orang ingin tahu serupa apa rasanya, lalu itu candu nagih buat terus dicobai lagi?

Kamu mesti tahu di waktunya kita ini semua orang ngisap candu, di rumah candu atawa di ia punya rumah sendiri, dan pula ada orang yang mengisapnya di ladang dan di rumah-rumah pesta. Saya ada pernah lihat anak kecil sudah coba itu candu dan ibunya biarkan itu anak, malahan ikut mencobanya pula. Kata orang, saya mendengarnya sebelum saya mencoba sendiri untuk mengisapnya, candu bisa lenyapkan tubuh punya capek dan pegal-pegal, serta bikin tambah semangat. Ketika saya kawin, mertua ada kasih saya candu, biar kerja saya jadi tambah ampuh, katanya. Benar pembaca, candu memang bikin kita orang kuat serupa sapi jalu.

Benar pula kata itu pujangga agung Ronggowarsito, "Ikut edan, kalau tidak ikut edan, tidak kebagian." Saya dan istri saya mulai isap sedikit candu sejak malam pengantin itu, buat senang-senang dan pergaulan dengan kami punya perhubungan. Seminggu sekali, kalau sekiranya kami ada uang berlebih dan hendak lihat komidi stambulan di dekat alun-alun kota, kami mampir ke satu rumah candu yang belakang hari jadilah langganan. Kami habiskan 20 sen buat pulihkan ini tubuh yang capek-capek dan kami bisa jadi gembira lagi. Dari rumah candu kami bakal pulang bergandeng tangan sambil menyanyi-nyanyi kecil dan makan kacang.

Tapi semua gambaran itu sudah lenyap digundul waktu. Kini saya hanya bisa mengenang-ngenang itu dengan hati yang sedih dan luka menganga oleh sengsara. Pembaca, tapi biarlah saya ada cerita bagaimana kemudian itu kejadian sampai saya mesti ditinggalkan oleh perempuan yang saya jatuh cinta tak tanggung-tanggung itu.

Sekali waktu, yang serupa ini sering kejadian, pembaca, saya tak cukup punya uang buat jalan-jalan seminggu sekali itu, jadi kami di rumah saja. Rupanya jikalau kami tidak nongol ke itu rumah candu lama, mereka pikir kami beli candu tidak di itu rumah candu lagi, tapi di penjual gelap yang memang kadang ada keliaran, yang candunya sangatlah haram buat dijual-beli sebab itu dari selundupan. Tentu saja kami tidak bakal bikin urusan susah macam begitu dan saya ada bilang kalau ini hari tidak ada uang buat beli candu. Mereka tidak percaya yang begitu, maka mereka kirim tukang pukul ke rumah. Tukang-tukang pukul ini mengacak-acak pakaian, lemari, kasur, dapur, buat cari candu gelap. Tentu saja mereka tidak ada temukan itu yang dicari, tapi mereka tetap pergi sambil mengancam saya dan istri buat beli itu candu di rumah candu. Tidak salah kalau umpama kita sebut ini dunia memang edan.

Tapi bukan karena ancaman serupa itu yang bikin kami balik ke itu rumah candu. Tidak, pembaca, saya tidak ada takut ke itu tukang-tukang pukul. Begini-begini saya keturunan para pendekar dan masih bisa jaga diri dari segala pukulan yang bakal datang. Sekali waktu, saya sudah lupa hari apa, saya mesti antar perempuan yang saya cinta ini ke kandangnya candu tersebut, tidak lain dan tidak bukan sebab satu penyakit yang mulai parah hinggap di tubuhnya. Mereka ada sebut itu penyakit kolera.

Betapa benci saya mesti mengenang penyakit yang menggerogot tubuh saya punya istri, hingga ia punya perangai jadi sendu, lenyap pula kemilau di parasnya. Saya cari utang ke mertua buat beli obat minuman candu Bleeker. Sekali tempo ketemu pula dengan orang bernama Isaac Groneman yang kasih saya nasihat buat bawa istri saya ke rumah candu. Ini orang bilang sedang menulis sebuah buku yang bakal ia kasih judul Kitab Pendjagaan Diri dan Obatnja Waktoe Ada Penjakit Cholera. "Candu bisa bikin kamu punya istri sembuh dari itu penyakit," katanya. Saya pun percaya saja, pembaca.

Paling tidak, perempuan yang saya cintai ini jadi tampak gembira dan bersemangat serta lupa pula ia punya penyakit, sepanjang ia ada tiduran di ini balai-balai buat mengisap candu.

Pembaca, biarlah saya mengakui kalau penyakitnya tidak pula bertambah baik. Saya serupa lihat ada ramalan kematian menghantui roman mukanya. Saya cuma bisa membawanya ke rumah candu, memberinya beberapa gulung tike, jikalau umpama ada nasib mujur saya kasih ia candu yang lebih bagus, buat lihat itu hantu kematian diusir oleh asap candu yang bikin kekasih hati ini jadi riang gembira, tersenyum dan ada pamer itu lesung pipitnya.

Saya ada baca pula di De Locomotief yang tidak sengaja saya temu, orang menulis soal jahatnya candu. Benarkah candu teman yang jahat, pembaca? Benarkah candu memeras orang miskin bumiputra ini punya uang? Benarkah candu membikin tubuh rusak dan bukannya mengobati apa pun? Jikalau umpama benar candu itu jahat dan bikin kita orang rusak, saya tidak akan pernah menyesal sudah datang ke ini tempat dan biarkan istri menjadi pemadat.

Setiap hari, pembaca, itu penyakit bikin ia menggigil dan demam meriang, juga batuk-batuk. Saya sedih lihat mukanya yang sendu, merosot, dan payah betul. Sering pula saya lihat ia menangis menahan sengsara, dan memohon untuk dibawa ke rumah candu buat hilangkan itu rasa sakit.

Begitulah, pembaca, saya bahagia lihat ia senang, tersenyum manis dan bicara lucu. Adakah yang bisa gantikan kesenangan serupa itu? Terkutuklah orang yang bilang candu itu jahat di De Locomotief. Mereka tidak punya istri yang sedang sekarat dan satu-satunya yang bisa bikin ia senang cuma mengisap candu dari padudannya!

Hingga datanglah hari waktu sekaratnya tidak punya ampun lagi. Bolak-balik saya bawakan ia candu ke rumah. Ia muntah-muntah pula. Seminggu berlalu dan saya mesti ambil keputusan yang sangat berat. Saya... begitulah saya kehilangan perempuan itu.

Apakah saya mesti ada katakan itu, pembaca? Saya bakal menangis mengenangnya. Tapi tidak apa, biarlah pembaca tahu apa yang kejadian. Saya membunuhnya. Gimana caranya, biarlah itu dikubur. Saya cuma tidak ingin melihatnya terus sengsara. Suatu waktu saya melihatnya begitu bahagia, sedang mengisap candu, dan saya ingin sengsara itu tidak bakal datang lagi. Saya menghentikan hidupnya waktu ia mengisap candu terakhirnya itu. Ia mati bahagia, bukan?

Kini biarlah saya rasakan sedikit kebahagiaan dengan candu pula, pengusir sedih dan sepi, sembari bikin ini catatan. Seorang perempuan girang datang menemani. Pembaca, tahukah bedanya seorang kekasih dan seorang perempuan girang dari rumah candu? Jika kamu duduk berdua dengan kekasih, pembaca, kamu bisa peluk dan mengelus kekasihmu itu, dan kamu bakal dibalas dengan pelukan dan elusan mesra pula. Jika kamu duduk berdua dengan perempuan girang, kamu boleh peluk dan mengelusnya, tapi kamu tidak bakalan dipeluk dan apalagi dielus. Perbedaan itu jauh sekali, pembaca, dan perbedaan itu tidak cuma menyedihkan, tapi juga menyakitkan. Percayalah.

Tapi dengan candu, sakit itu ada hilang biar sejenak.***

1889

Catatan: Kutipan merupakan terjemahan bebas dari Thomas de Quincey, Confessions of an English Opium Eater (The London Magazine, 1821)


 

 

 

 


© 2002-2009 Sriti.com. All Rights Reserved.
Home | Tentang | Kontak