Logo Sriti Home | Cerpen | Tentang | Kontak
 


 








 
 

Kasih tak Sampai

Cerpen Eka Kurniawan Silakan Simak!
Dimuat di Media Indonesia Silakan Kunjungi Situsnya! 03/13/2005 Telah Disimak 2416 kali

 

NENEK buyutnya, yang hidup melampaui umur seratus dua puluh tahun, satu kali pernah berkata bahwa rumah kecil yang penuh lumut dan nyaris ambruk di teluk itu dulu pernah menjadi tempat tinggal Francis Drake selama kunjungan singkatnya. “Ia seorang pelaut yang riang,” kisah sang nenek. Tapi itu tak mampu menjadikan rumah tersebut ikut riang. Sebaliknya, sejak dua orang pemuda dibantai sekelompok orang berpanah dan bersenapan, rumah itu semakin menjelmakan dirinya menjadi sosok seram yang kelabu.

Ia sering berjalan kaki di remang fajar, menelusuri pasir basah dan melihat rumah itu dari dekat, di balik belukar pandan. Bahkan sisa percikan darah masih membayang di dindingnya, sebagaimana banyak orang percaya di dalamnya masih terdapat sisa-sisa darah perawan dan para budak yang dipancung. Sudah lama ia meragukan pendapat nenek buyutnya dan yakin, “Drake pasti bajak laut ganas.” Sebab sang nenek buyut juga pernah bercerita, tanpa menyembunyikannya, kapal Drake yang bernama Golden Hind berisi harta jutaan poundsterling, hasil rampokannya dari armada utama Spanyol.

"Tak ada alasan bagi seorang bajak laut untuk tidak berlaku riang," sang nenek buyut membela diri.

Tapi ia, Mia, datang ke teluk tidak untuk mengenang Drake, meski ia akan selalu menghubungkan segala sesuatunya dengan orang Inggris tersebut. Ia datang untuk melihat bayangan hantu salah satu dari kedua pemuda itu. Seorang pemuda yang pernah melamar dan menjanjikan hari perkawinan untuk mereka. Ketika hantu itu muncul, ia akan ambruk ke pasir dan tanpa bosan menangis, serta mengeluhkan hal yang sama, "Darah Drake tak melindungimu."

Sejak kecil ia telah mendatangi rumah itu, tentu secara diam-diam, sebab tak ada orang lain, anak-anak atau dewasa, lelaki atau perempuan, bahkan berani menginjakkan kaki ke halamannya. Rumah itu tak hanya dijejali hantu, sebagaimana orang-orang di teluk memercayainya, tapi juga mengutuk nasib sial bagi siapa pun yang mengunjunginya. Suatu pagi seorang pejabat akta tanah pernah melewati pagar rumahnya, dan sebelum ia mencapai pintu, sekonyong-konyong air pasang datang dan menghantam pagar, membantingnya ke dinding rumah sebelum menyeretnya ke tengah laut. Seorang nelayan menemukan mayatnya, telah bengkak dan digerogoti ikan, delapan hari kemudian. Itu hanya satu dari tak terhitung kesialan sejak Sultan Baab meninggal dengan cara aneh, sejak Francis Drake datang untuk singgah sejenak.

"Ada kolong kecil di bawah lantai rumah," katanya sambil membukakan pintu. Itu senja yang lampau ketika ia membawa kekasih dan temannya, ke rumah tersebut.

"Jika rumah ini bisa melindungi kami dari gerombolan itu, bagaimana ia bisa melindungi kami dari kutukannya?"

Sebagaimana selalu ia yakini ketika mengunjungi rumah tersebut berbilang kali, ia berkata, "Darah Drake akan melindungimu."

"Bagaimana kau yakin?"

Dan ia akan tersenyum penuh kemenangan, sebab ia tahu pasti, nenek buyutnya yang bercerita, dalam tubuhnya ada darah Baab, juga Drake. "Jika Drake akan melindungiku, maka ia pun akan melindungimu, kekasih." Lagi pula, katanya, ancaman yang sesungguhnya tidak datang dari hantu-hantu rumah tersebut, tapi dari gerombolan orang berpedang dan bersenapan, yang tengah mencari dua pemuda tersisa di perkampungan itu. Menurut pendapatnya sendiri, itu satu-satunya tempat persembunyian yang paling aman di muka bumi. "Tak ada orang tahu kalian di kolong rumah, sebagaimana tak ada yang memiliki nyali memasukinya."

Tapi ia lupa ada seorang yang mengetahui kedua pemuda tersebut sebagaimana juga memiliki nyali memasuki rumah itu: dirinya.

***

Setiap kali, Saladin merayu gadis itu dengan puisi Pigafetta, "cahaya kita, cermin kita, pandu sejati kita," dalam sepucuk surat yang ditujukan kepada gadis yang mengomel di kedai bajak laut Sabtu 6 November. Pigafetta tak hanya mewariskan darah kepadanya, tapi juga kecemerlangannya dalam mencatat jejak perjalanan, meski bakat tersebut harus berakhir dalam surat cinta, warna pink dan wangi lavender, yang dibubuhi prangko kilat serta stiker kecil "Personal". Seperti beberapa surat setelahnya, ditujukan kepada gadis yang sama, surat itu kembali ke rumahnya dengan catatan dari kantor pos: alamat tak dikenali.

Bahkan seandainya surat tersebut sampai ke tangan si gadis, tentunya si gadis tak akan mengenali siapa pengirimnya. Didorong sifat pemalunya yang berlebihan, Saladin tak pernah membubuhkan tanda macam apa pun yang merujuk ke dirinya di surat-surat tersebut. Ia sepenuhnya menggantungkan diri kepada kemurahan dan kecerdasan si gadis untuk menebaknya.

Ketika sahabatnya mengajak untuk melakukan suatu aksi pembalasan, satu-satunya yang ia cemaskan adalah gadis itu. Ia takut tak akan pernah berjumpa kembali dengannya. Beberapa hari sebelumnya, seorang peladang dari kampung mereka, seorang perantau dari Moti yang telah bertahun-tahun tinggal bersama mereka, dibunuh di jembatan perbatasan desa. Tak ada yang mengetahui asal-usulnya, barangkali sesepele memungut bunga pala di tempat bukan miliknya. Keluarga sang peladang, tak memiliki waktu terlampau lama untuk berduka, mendatangi kampung sang pembunuh, dan menuntaskan dendam mereka di sana. Tapi suatu malam, tanpa seorang pun bersiap, tiga belas anggota keluarga sang peladang ditemukan tak lagi bernyawa, dengan panah dan peluru bersarang di tubuh.

Kini seluruh lelaki di kampung itu, demi harga diri, bersiap menumpahkan darah. Saladin mengeluarkan pedang dari para-para rumah, senjata yang dipercaya kakek buyutnya sebagai milik Ferdinand Magellan, dibawa Figafetta dari Filipina, dibawa kakek buyut dari kakek buyutnya dari istana Tidore, dan tetap di rumah tersebut sejak saat itu.

Tapi Saladin masih memikirkan gadis pujaannya dan kembali menulis surat, sama persis dengan puluhan surat yang selalu kembali ke rumahnya, dengan amplop bertuliskan kepada gadis yang mengomel di kedai bajak laut Sabtu 6 November. Ia tahu surat tersebut tak akan sampai, bukan hanya petugas pos tak tahu apa yang terjadi di Sabtu 6 November, juga tak tahu di mana kedai bajak laut, tapi barangkali juga karena petugas pos sedang mempersiapkan tombak atau parang, sebab kemarahan sudah menyebar ke kampung-kampung sekitar.

Sahabatnya merupakan satu-satunya orang yang tahu siapa gadis pengomel dan di mana kedai bajak laut, sebab hanya mereka yang menyebut kedai tersebut demikian. Itu karena anak gadis pemilik kedai percaya dirinya keturunan dari bajak laut Francis Drake. Melihat kemurungan dan kesia-siaannya, sang sahabat bertanya, "Apa yang kau tulis di surat tersebut?"

"Aku melamar dan menjanjikannya hari perkawinan."

Terharu oleh niat tulus Saladin, sang sahabat diam-diam membawa salah satu surat tersebut, yang selalu disimpan Saladin baik-baik setiap kali dikembalikan kantor pos, ke kedai bajak laut dan memberikannya kepada si gadis tanpa mengatakan apa pun kecuali tersenyum serta kalimat pendek, "Percayalah, kau akan bahagia membaca isinya."

Saladin sesungguhnya tahu belaka sepucuk surat dibawa temannya, dan ia pun bahagia membayangkannya jatuh ke tangan si gadis. Ia mengasah pedang sambil membayangkan masa depannya yang cemerlang. Ia tak tahu beberapa hari kemudian pembalasan dendam mereka gagal total, seluruh lelaki dari kampung ini terbantai dan hanya menyisakan ia dan sahabatnya. Atas pertolongan si gadis yang baru dilamar dan dijanjikan hari perkawinan, mereka bersembunyi di rumah angker milik bajak laut Drake. Sejenak mereka merasa aman berada di sana tanpa seorang pun tahu keberadaan mereka serta memiliki nyali memasuki rumah tersebut. Tapi lupa satu hal: si gadis tahu dan memiliki nyali.

***

Di kedai itu para pelaut akan singgah dan mengaso. Tapi segalanya telah banyak berubah dibandingkan dengan kisah-kisah yang pernah didendangkan orang tentang kedai para pelaut. Tak pernah ada lagi para bajak laut singgah sambil membentangkan peta, sebagaimana tak ada pesta minum para anak buah kapal, pun tak ada perempuan-perempuan girang yang menggoda mereka, serta tak ada tubuh menggigil setiap kali seseorang menyebut Kapten Barbarosa. Bahkan kepada gadis-gadis pelayan, juga kepada anak-anak pemilik kedai yang telah ditinggalkan ayah mereka yang lenyap dalam satu badai besar, tak seorang pun berani menggoda secara kurang ajar. Bukan karena para pelaut telah menjadi begitu santunnya, tapi lebih karena semua orang percaya pemilik kedai tersebut memang keturunan Drake.

Tapi Drake bukan satu-satunya darah yang mengalir di tubuh mereka. "Dalam darahku mengalir segala yang terbaik dari pelaut-pelaut Inggris dan Portugis, sebagaimana yang terbaik dari para kesatria Ternate," kata si gadis. Kalimat itu diucapkannya dengan sangat lantang, di antara meja-meja kedai, membuat banyak orang berpikir ia tengah membual.

Hatinya sedang panas oleh cinta yang meluap-luap kepada seorang pemuda yang beberapa kali duduk di meja dekat pintu. Saladin namanya. Seperti kebanyakan pemuda di sekitar teluk, ia pergi melaut bersama perahu-perahu ikan, lain kali ia menyelam untuk memperoleh mutiara, dan di waktu senggang ia akan duduk bersama sahabatnya di dalam kedai sambil mendengarkan radio yang menyiarkan liga sepakbola. Si gadis tahu, sesekali Saladin akan mencuri pandang ke arahnya, dan hati si gadis akan semakin berbunga-bunga. Ia tengah menunggu-nunggu hari ketika pemuda itu datang kepadanya, merayunya, dan menjanjikan hari perkawinan. Bosan menunggu, si gadis menjadi lebih comel dari biasanya, terutama jika Saladin ada di kedai, dan tampaknya jelas untuk meminta perhatian.

Saladin yang pemalu, dan si gadis semakin jengkel karenanya, tak juga menangkap segala isyarat tersebut. Hingga akhirnya datang hari itu, Saladin dan temannya akan selalu mengingatnya sebagai Sabtu 6 November, si gadis menghampiri mereka dan mengomel. "Aku benci lelaki yang hanya menghabiskan waktu tanpa pernah berpikir di sekitarnya banyak perempuan menunggu. Lelaki seperti itu tak pantas bau laut. Demi nenek moyangku yang mengayuh kora-kora, Don Pedro da Cunha yang mati tanpa seorang pun menangisinya, aku berhak mendapat rayuan seorang lelaki."

Si gadis melihat lelaki itu bergeming, hanya merona merah serupa perawan kembang. Juga tersenyum malu. Belakangan, diam-diam ia tahu mereka memanggilnya gadis yang mengomel di kedai bajak laut pada Sabtu 6 November. Perasaan perempuannya juga mengatakan Saladin telah runtuh hatinya, panas meriang oleh cinta kepadanya, dan ia hanya menunggu hingga si lelaki datang untuk menjanjikan hari perkawinan mereka. Ia sangat percaya suatu hari Saladin akan datang, tak peduli betapa pembungkamnya lelaki tersebut. Dan seandainya bisu, si gadis juga percaya, cinta akan membuat Saladin membuka mulut.

Hingga surat itu diberikan kepadanya dan ia sangat kecewa. Setelah membaca tanpa gairah isinya, ia melemparkan surat yang hanya selembar itu ke atas meja kedai, membiarkannya tergeletak di sana tanpa peduli sekiranya seseorang bakal membacanya. Tak seorang pun membacanya, sebab mereka tahu itu surat cinta dan tertera di sana tanda "Personal." Namun suatu hari kakaknya yang baik melihat surat tersebut masih tergeletak di meja kedai, dan didorong sikap adiknya yang mulai murung, ia akhirnya bertanya.

"Surat apa?"

"Surat cinta dan janji hari perkawinan," jawab si gadis dengan ketus.

"Dari?"

Si gadis menyebut nama lelaki itu, tak hanya semakin ketus, tapi dengan nada yang sungguh muak, seolah menyebut namanya merupakan sesuatu yang lebih najis dari segala najis.

***

Di saat ajal membetot-betot nyawanya, ia terkenang segala kematian yang pernah diderita nenek moyangnya. Kematian itu berkisah tentang kenaifan dan keberanian sultan-sultan Tidore, sebagaimana ia selalu mengidentifikasikan dirinya, meski ia telah jauh dari ruang-ruang istana kerajaan tersebut, dan bersama sahabatnya kini tersesat di sebuah teluk dengan rumah seram milik Drake. Kematian itu pun membawa kenangan kepada para conquistador Spanyol dan kerakusan pedagang-pedagang Belanda, di mana darah mereka juga tertanam di tubuhnya.

Segalanya menjadi terang sebagai sebuah kutukan nasib ketika ia mengetahui kekasihnya, gadis yang telah dijanjikannya hari perkawinan, mengkhianatinya dengan menunjukkan di mana mereka bersembunyi kepada orang-orang berpanah dan bersenapan. Mereka datang sekonyong-konyong, belasan orang sebab ia tak mampu sungguh-sungguh menghitungnya, menyeretnya keluar rumah Drake, menghantamkan senapan hingga mereka terempas di depan pintu, dan beberapa butir peluru menyerbu tubuh serupa kunang-kunang berpijaran. Mereka ambruk dan ia bisa melihat darahnya membayang di dinding.

Ia bahkan masih sempat berpikir inilah harga yang harus diperolehnya untuk mencintai seorang gadis Ternate. Sejarah nenek moyang telah melarangnya dan ia tetap melakukannya. Darahnya adalah darah permusuhan abadi sultan-sultan Ternate dan Tidore, perkelahian tak ujung usai para penakluk Spanyol dan Portugis, pertentangan bengis para bajak laut Inggris dan Belanda. Ia dan Mia telah teramalkan dalam suatu kutukan mimpi buruk percintaan yang tak bakal akur.

"Bukan salah Mia," tiba-tiba sahabatnya, yang tengah sekarat di sampingnya berkata. "Ini salahku."

Ia tak mengerti apa pun yang dimaksud sahabatnya. "Darah nenek moyangnya dan nenek moyang kita penuh dendam para musuh."

"Gadis itu cemburu. Ia pasti berpikir kau melamar adiknya dengan surat itu."

Sejenak ia belum juga mengerti maksudnya. Ketika tarikan ajal membetot napasnya pertama kali, ia mulai melihat gerbang kelabu dan menangis, tak memedulikan darah para pelaut pemberaninya. Ia ingat hari itu, ketika mampir ke kedai bajak laut sebelum menyerang kampung seberang, menemui gadis itu dan menyerahkan surat cinta sahabatnya. Belakangan kakak si gadis, Mia, mungkin melihatnya, dan penuh kecemburuan si gadis membiarkan mereka berdua terbunuh di tangan gerombolan berpanah dan berpedang seperti kemudian terjadi sekarang ini.

Penuh kemarahan ia menoleh ke arah sahabatnya. "Jadi, kau tak menyebut namamu di surat cinta sialan itu?" Ia tak memperoleh jawaban, sebab Saladin yang berbaring di sampingnya telah melampaui ajal. Ia sendiri menjelma hantu oleh sebutir peluru.***


 

 

 

 


© 2002-2009 Sriti.com. All Rights Reserved.
Home | Tentang | Kontak