|
"Punah!, punah!," Tek Dar mencak-mencak di dapur kayunya. Ia hempaskan
piring di dapur. Terlompat kucing yang sedang tidur di ruang depan. Ayam
dalam kandang pun ikut beributan. Sesekali ia ambil kayu di atas kasayan.
Dengan hati yang panas ia masukkan kayu api ke dalam tungku.
Terpencarlah sebahagian nyala. Tapi apalah yang mau dipedulikan Tek Dar.
Yang ia pedulikan telah pergi. "Anak siampa! Anak yang tidak
membalas guna," kata Tek Dar. Ia ambil kayu yang halus-halus di atas kasayan.
Kayu rinju yang sudah kering. Kembali ia silang ke dalam ruang tungku.
Dengan hati yang marah ia hempaskan satu piring. Rupanya jantung Tek Dar
benar-benar berdegup cepat karena ulah anaknya si Mandaro. Anak
satu-satu yang tinggal di rumah kini harus pula tidak mendengarkan
kata-katanya. Percuma ia besarkan kalau hanya jadi petaka. Ibarat
membesarkan simiang-miang. Sudah besar meninggalkan gatal.
Tek Dar duduk di atas kukuran kayu--alat parut kelapa
tradisional--.Tak sangguplah rupanya ia memikirkan anaknya si Mandaro.
Betapa si Mandaro telah membuat hatinya remuk. Hancur menjadi
berkeping-keping. Tinggal puing benci. Tinggal puing nista di matanya.
Tak ingin ia lihat batang hidungnya lagi. Terlalu pongah buat dikenang
segala perbuatan anaknya. Sudah patutkah ia
pandai-pandai pula tak mendengarkan kata amaknya ini; kata Tek Dar. Ia
pandang piring yang pecahannya menyelip ke sudut dapur. Sebahagiannya
telah pula masuk ke dalam niru yang berisi tomat, cabai,
kentang, seledri, jahe, kunyit, lengkuas, limau asam. Rupanya kemarahan
Tek Dar tidak hanya memporakporandakan piring. Kemarahan Tek Dar
memporakporandakan juga bumbu dapur. Terbuang sudah sebahagian tomat
dalam niru. Tertumpah ke dekat tungku yang periuknya sedang
terjerang di atasnya. Masuk sebahagian ke dalam abu tungku yang satunya
lagi. Tek Dar lihat ke pagu dapurnya. Betapa
semuanya telah hitam oleh arang, asap-asap yang telah mengepul untuk
sekian waktu. Siapa lagi yang akan membangun dapur reot ini kalau si
Mandaro harus pergi. Teriris hati Tek Dar. Tempat tumpangan dirinya kini
harus pergi. Mesti ada pula fondasi rumah yang akan melapuk. Telah pula
ada jenjang-jenjang yang tidak akan tertempat. Di
atas Rumah Gadang, Mandaro hanya terpaku. Ia pandanglah keluar jendela.
Ia masih duduk bersila. Teriris pula hatinya mendengar Tek Dar, Emaknya
yang mencak-mencak di dapur. Betapa pula Mandaro telah mendengar umpatan
Tek Dar tentang dirinya yang tidak membalas guna. Benarkah dirinya
tidak membalas guna? Ah, betapa semua ini begitu menyesakkan dada. Ia
hirup satu batang rokok nipah yang baru saja digulung. Berkelebatlah
asap dari dua tempat. Satu dari hidungnya. Satu dari ujung rokok nipah.
Ia pandang keluar jendela. Ke jalan yang menuju
tikungan. Hilang di balik Bukit Sianok. Tempat yang juga ingin ia lalui.
Tapi, kini belumlah mampu ia melunakkan hati Emak. Betapa ia ingin
mengikuti jejak Salim, kakak tertuanya yang telah pergi ke rantau,
Bandung, semenjak lima tahun yang lalu. Kabar dari orang yang pulang ia
telah menjadi orang di sana. Ia ingat pula Badrun, kakak nomor dua yang
merantau ke Malaysia. Menurut kabar orang yang telah kembali dari sana,
semenjak Badrun menjadi TKI tujuh tahun yang lalu, ia telah berubah
peruntungannya. Telah menjadi bos di sana. Betapa Mandaro ingin seperti
kakak-kakaknya. Menjadi orang yang beruntung di rantau orang. Ia ingat
pula adik satu-satunya, Fatimah. Setelah menikah dengan orang kenalannya
di Padang tiga tahun yang lalu, rupanya Fatimah kini telah menjadi
orang yang mapan. Mandaro pandang sekali lagi, senja
yang rupanya telah tampak di langit. Sudah mulai merah langit di atas
danau bawah sederetan Gunung Talang itu. Betapa semenjak dua tahun yang
lalu ingin pula merantau ke Tanah Jambi. Di mana anak Mamaknya sudah
menanti. Katanya sudah ada pekerjaan yang menanti di Jambi. Tapi
tidaklah ia sanggup pula memandang muka Tek Dar, Emaknya yang memerah
ketika mendengar nama rantau. ***
"Mak, Man merantau ingin pula menjadi orang yang tahu peruntungan
nasib." Begitulah kata Mandaro saat masih duduk di ruang tengah. Tek Dar
masih basah dengan kainnya. Ia baru saja pulang dari sungai jauh arah
utara Rumah Gadang ini. Dua beranak itu duduk berhadapan di Rumah
Gadang. Di depannya terhidang setandan pisang yang sudah kuning-kuning.
Bukan sekali itu permintaan Mandaro hendak merantau ke
negeri seberang. Ia berpikir di rantau ada peruntungan nasib. Tidak
seperti di Kampung Karang Sadah ini. Di sini tentu jugalah meneruka
tanah yang rekah-rekah. Menjunjung kayu dari balik puncang, bukit yang
terjang di lereng barat dari Rumah Gadang ini. Dalam kampung, Mandaro
berpikir betapa ia akan jadi seperti-seperti ini juga. Kalaulah pagi
menyingsing lengan baju. Membawa satu cangkul di pundaknya. Mendaki ke
balik puncak. Meneruka ladang Garogok. Itulah
setidaknya alasan kuat Mandaro, untuk mengubah cara hidup yang masih
tradisional. Menjadi orang di rantau orang tentu menjadi orang yang
dipandang dan dihargai kembali bila pulang ke kampung.
Sore itu ia ulang sekali lagi melunakkan hati Tek Dar. Untuk sekian kali
dari yang sekian kalinya. Semoga lembut juga akhirnya. Tak pula ingin
ia berangkat ke Tanah Jambi, kalaulah Tek Dar tak mengizinkan. Sebab itu
pulalah sore-sore itu mereka duduk berhadap-hadapan.
"Mak, setelah aku sampai di tanah seberang ‘kan kusampaikan kabar Man ke
Mak. Mak tak kan Man lupakan walau sejengkal dari kepala, sejejak dari
melangkah kan kutanam baik-baik Mak dan nasihat Mak."
Pisang setandan belumlah tersentuh. Mak pandang keluar jendela. Di
langit tampak cahaya matahari merekah merah di atas kabut.
"Mandaro, Mandaro, sudah cukup kakak-kakakmu dan adikmu yang menjadi
pelajaran untuk Makmu yang renta ini. Cukuplah kau tinggal di kampung
ini saja." "Mak, tapi aku ingin pula mencoba
peruntungan rantau, Mak. Di Jambi adalah anak Mak Sutan yang kan menanti
Man, Mak," kata Mandaro meyakinkan Mak. Mak diam.
Betapa matanya begitu panjang menjalar ke masa lalu. Ada sesuatu yang
mengungkit perih. Mandaro diam pula. Dua beranak itu tidak bicara
beberapa lama. Mak ingat ketika dirinya untuk pertama kali ditinggalkan.
Tak tanggung sedih hatinya. Betapa ia ‘kan kehilangan anak nomor dua.
Kan pula tak terbau puncak hidungnya. Badrun hendak jadi TKW di
Malaysia. "Mak tak ingin kamu merantau Mandaro.
Biarlah di kampung ini Kau teruka juga ladang peninggalan Bapakmu," kata
Mak. Mak ambil sebuah pisang. Mengupasnya. Kembali menaruh kulit di
atas piring. Biarlah anaknya ini yang bersamanya, kata hatinya. Tak
sangguplah kalau aku harus berpisah dengan anak yang tinggal satu-satu
di rumah ini, lanjut hatinya. "Mak, aku ingin merantau,
Mak. Aku ingin seperti Bang Salim, Bang Badrun...."
Terbuang pisang Mak dari tangan. Merah mukanya. Badrun tahu Tek Dar tak
senang nama-nama itu disebut lagi di depannya. Ia pandang mata Mandaro.
Mandaro tak sanggup memandang mata merah Tek Dar. Sangat tak ingin
Mandaro melihat Tek Dar marah. Dengan mata yang masih merah Tek Dar
langsung naik pitam. "Tak usah kau bawa-bawa nama
kakakmu itu! Sudah besar tak tahu diuntung. Anak yang tidak membalas
guna...," sergap Mak. Di sisi lain ada hulu hatinya yang di sayap
kecil-kecil. Benar kata orang, kasih ibu sepanjang jalan. Tapi,
bagaimana dengan anak yang tidak tahu kasih sayang ibu.
"Kalau kau mau merantau juga, pergilah kau seperti kakak-kakak kau,
seperti adik kau. Anak yang tak tahu diuntung itu. Lupa dengan ranahnya.
Lupa mereka dari rahim siapa dilahirkan. Seperti orang tak beremak. Ke
mana mereka selama ini? Mereka sangka Emak butuh uang mereka. Tidak!
Tidak!" Pitam Tek Dar semakin naik. Ia langsung berdiri. Berjalan ke
dapur. "Mak...!" " Tak usah kau
panggil aku Mak! Aku bukan lagi Amak kau! Kau cari saja Mak lain seperti
kakak-kakak kau yang mencari Emak di rantau orang." Mak mulai
mengalirkan air mata. Makin lama makin deras. Emak terus berlalu.
"Anak yang tidak membalas guna, dulu dibesar dan dan
dikasihsayangkan. Kini jangan kan tuk berkunjung satu sebulan satu kali,
setahun pun tidak," kata Mak mencak-mencak di dapur. Terdengar suara
Mak yang semakin menceracau sendiri. "Sungguh susah
membesarkan anak simiang-miang. Sudah besar kita yang digatalkan. Susah
saja aku melahirkan banyak anak kalau nyatanya si anak tak tahu membalas
guna." Terdengar bunyi piring yang berhamburan di dapur. Ada kentongan
yang semakin deras bunyinya. Semuanya berhamburan seperti adegan
penghancuran batu. Sesudahnya terdengar isakan Tek Dar yang semakin
menjadi. Si Mandaro terpaku saja di ruang tengah mendengar serapah Mak.
"Anak yang tidak membalas guna. Benarkah?" kata hati
Mandaro. *** Di dapur Tek Dar masih
masih di atas kukuran, tersandar di tonggak dapur. Mengalir air matanya.
"Anak yang tidak membalas guna, tidak dia dengar
rupanya kata-kata induknya." Itulah yang ia katakan. Di tungku api
menyala silau. Tak sadar Tek Dar, kalau api telah melumas rinju-rinju
kering. Tak hirau Tek Dar ke panas api. Ia ingat-ingat kembali
anak-anaknya yang ditelan rantau. Betapa pula sedih hatinya. Anak-anak
yang tak berpulang semenjak bepergian. ***
"Emak, tak baik rupanya nasib kita di kampung ini. Tak tega pulalah
aku melihat Emak bekerja sesaban pagi sesaban sore," kata Badrun suatu
pagi. Emak sedang sibuknya menanam bawang prai di halaman depan. Halaman
yang bersebelahan dengan kolam ikan. Tek Dar menghentikan kerja sejenak
sambil menengok ke belakang. Tahulah Tek Dar apa yang dipikirkan
anaknya itu. "Bukannya Emak melarang kamu pergi ke
Negeri Jiran itu. Tapi, tujuanmu terlalu jauh, Badrun," kata Emak sambil
kembali melanjutkan menanam bawang prai. Sebatang-sebatang sudah
tertanam pada tanah merah itu. Tanah yang baru saja diteruka Salim dua
hari yang lewat. Kemarin Badrun juga membicarakan
niatnya saat sedang makan. Memang keadaan kampung yang semakin terkikis
lahannya, membuat orang-orang berpikir dua kali. Tak terkecuali Tek Dar.
Tak terkecuali Salim. Juga Mandaro yang ketika itu baru sedang selesai
menamatkan SD-nya. Karena tiada biaya, Salim jadi anak yang tak
berpendidikan. Saat kering inilah orang-orang ramai
membicarakan tentang kerja ke luar negeri. Badrun ingin mencoba
peruntungan nasibnya. "Tapi, apa kau sudah pikir-pikir
benar, Badrun. Apa kau sudah bicarakan sama Mamakmu. Tentu Mamakmu juga
harus tahu keinginanmu. Kita hidup bermusyawarah bernegeri." Tek Dar
terus saja menanam bawang prai. Tinggal satu bandar lagi selesai sudah.
Tapi, ada yang tak selesai. Kalau ia pergi ke rantau, tentu semakin
susah pula kehidupannya di kampung, kalau di rantau Badrun belum peroleh
peruntungan nasib. Benar juga, pada akhirnya Badrun
berangkat ke negeri seberang. Memang baik jugalah peruntungan nasib
Badrun. Dapat ia berjuragan yang baik. Mula ia sebagai pelayan restoran.
Terus jadi pegawai. Entah apalagi sesudah itu, Tek Dar tidak tahu.
Setiap bulan Tek Dar mendapat kiriman dari Badrun. Sudah
setahun lamanya pengiriman itu lebih dari cukup. Dua tahun pengiriman
itu masih juga berlebih. Tapi apakah yang lebih diharap orang tua selain
kepulangan anak kandungnya. Begitu juga Tek Dar. Ia menunggu di Rumah
Gadang. Tak lama Salim pula yang pergi ke tanah
Bandung. Katanya hanya pergi sebagai orang gajian supir truk dari kota
Solok. Jadi dapatlah ia pulang sekali seminggu. Tapi, apa yang terjadi.
Dua bulan kerja bersama majikannya memang Salim pulang sekali seminggu.
Sesudahnya tak lagi terlihat puncak hidungnya. Entah dimakan apa Salim
tak pernah pulang-pulang. Suatu petang setelah tiga
tahun kepergian salim datang jugalah sepucuk surat. Surat dari kabar nan
jauh, tentang rantau. Bahwa salim telah mendapat kerja yang bagus di
Bandung. Ia kabarkan bahwa dirinya telah punya rumah yang mewah dengan
mobil yang mewah. Tek Dar tak berharap dengan semua itu. Asal anaknya
pulang, maka beruntunglah dirinya. Tak lama secara
beruntun kabar gembira yang menyakitkan. Kalau surat yang hampir
bersamaan Salim dan Badrun. Kalau keduanya telah menikah dirantau.
Begitu sakit Mak mendengar. Sebab anak yang dibesarkan telah pandai
mendahului orang yang dituakan di kampung. Tak tahu lagi mereka kepada
Mamak. Ia hilangkan harga diri Tek Dar di kampung.
Sedang satu tahun sebelum kabar pernikahan Badrun dan Salim telah pula
menikah Fatimah. Begitu sedih hati Tek Dar ketika tak pulang Salim dan
Badrun. Begitu panjangkah rantau bagi mereka. Telah lupakah mereka
dengan gaung kampung. Hingga datang kabar Badrun dan Salim yang
melangkahi orang sekampung. Semakin dalamlah teriris hati Emak.
Waktu terus berjalan. Anak-anak seperti tidak berinduk. Tidak
pula walau sekali dalam setahun. Tidak Badrun, tidak Salim, tidak
Fatimah. Begitu jauh kampung Karang Sadah ini bagi mereka.
Begitulah Tek Dar menghapus daftar nama itu dari dirinya. Lebih baik
tak beranak dari pada beranak tapi tidak pernah memilikki anak. Tapi
kini tiba-tiba Mandaro meyenbut mereka. Mandaro menyebut pula rantau nan
jauh. Untuk apa semua rantau. Tak ingin Tek Dar dengan loba dunia. Tak
pula Tek Dar harap kalau Mandaro jadi orang berada. Untuk apa jadi
orang-orang berada kalau harus kehilangan induk. Lalu
Mandaro. Ah, Mandaro yang hendak menuju kota Medan. ***
Mandaro masih duduk dekat jendela memandang Bukit
Sianok. Masih jelas jalan tikungan itu. Langit di Timur sudah mulai
gelap. Terdengarlah seruan bilal dari masjid tua di tengah kampung. "Ah,
Emak." Geming Mandaro. "Begitu menderita Emak rupanya dengan kepergian
Kak Salim, Kak Badrun, dan Dik Fatimah. Mungkin memang lebih baik aku
tinggal saja di kampung bersama Mak," Guman Mandaro sambil berdiri.
Tujuannya hendak berjalan ke pintu belakang. Sudah jelas keputusannya
sekarang yang hendak menenangkan hati Tek Dar.
Mulailah ia masuk ke pintu belakang. Hendak menuruni tangga Rumah
Gadang, Mandaro begitu disengat ke hulu hati. Ada api yang membumbung ke
atap dapur. "Emaaakkk!" Mandaro terus menjerit dan
terus menjerit. *** Lingkarputih,
Padang, 23 Juli 2009 |