|
“Dasar orang tua. Nyinyir. Berkali-kali saya ingatkan, tidak usah ke
sawah lagi. Akan lebih baik, kalau sawah itu dipaduoi saja kepada orang
yang lebih kuat. Selin tugas kita ringan, hasil tanaman juga akan lebih
banyak. Orang setua dia tidak layak lagi menggarap sawah barawang itu.
Bisa-bisa ia terjerembab dan ditelan rawang itu hidup-hidup!”.
“Anak-anaknya yang tak tahu diri. Semuanya merantau. Seharusnya, salah
seorang tinggal di kampung, menemani induk yang sudah bungkuk.
Sekalipun tidak akan ke sawah-ke ladang dan hidup melarat seperti kita
ini, paling tidak induk mereka punya teman di rumah. Sungguh, kalian
akan tahu sendiri nanti, betapa berartinya teman di hari tua. Dan,
kalian juga akan tahu nanti, betapa lengang ketika di hari tua tidak
ada teman, meski hanya untuk sekadar bercerita.
Boleh kalian bayangkan,
bagaimana tiba-tiba malaikat pencabut nyawa datang tengah malam buta,
sedangkan kita tidak punya teman untuk melepas kepergian kita. Huh, ini
yang tidak disadari anak-anaknya. Kita lihat saja nanti, mereka pasti
pulang membawa penyesalan. Induk membangkai di rumah, ee, kita
terkurung di rantau orang. Saya kira, anak-anak seperti ini yang layak
dikutuk!” sambut seorang yang paling tua di antara kelompok perempuan
petani yang sedang bekerja itu.
“Iya. Benar juga kata Kakak,”
“Tapi kita bisa berbuat apa?”
“Kita cuma bisa kasihan pada Odang Niro. Lihatlah, jalannya saja sudah
oleng. Karena hidup harus makan, terpaksa jua ke sawah. Bahkan saya
sering lihat, memasang buah baju saja sudah tidak benar. Pogotang-nya
bogenjuik dan tingkuluak usangnya dililitkan apa adanya dan asal saja.
Uban keritingnya tersembul di sana sini!”
“Ei! Ada yang tidak kalian ketahui. Dengar. Perutnya sudah jatuh: tumbuang!”
Sekonyong-konyong, orang-orang yang sedang bosiang itu serentak berdiri
memandang aneh ke arah Odang Niro yang tengah mereka pergunjingkan itu
muncul terbungkuk-bungkuk dari arah belakang mereka. Odang Niro dengan
kombuik di bahu memapah langkahnya pada jalan setapak yang mendaki dan
kedua sisinya ditumbuhi belukar lebat. Ia terhenti sejenak meraba
dadanya yang disesaki karena batuk.
Seperti pagi-pagi biasa, Odang Niro akan pergi ke sawahnya di balik
bukit, setengah jam berjalan kaki dari rumahnya. Sekilas, ia lihat
rombongan ganti-ganti borisuak yang sedang masyuk bekerja. Mereka
membungkuk mencabut dan membenanm semak yang tumbuh di antara rumpun
padi muda yang berumur dua bulan itu. Odang Niro tertarik untuk sejenak
bersitirahat. Ia duduk pada sebuah pematang yang agak tinggi. Ia
jatuhkan kakinya begitu saja dan mencoba mengatur nafas dan sebuah
senyuman ingin bercengkerama.
“Padi di sini aman-aman saja, ya. Padi saya tandeh dimakan moncik,”
Odang Niro separo merintih. Suara seraknya seakan memecah keheningan
pagi itu.
“Padi di sini, ditanam serentak, Dang! Walaupun moncik banyak, tidak begitu berpengaruh bagi padi,”sahut salah seorang.
“Makanya, Dang, kalau mau bertanam padi jangan menyisih dari orang
lain. Hidup mesti bersama-sama,” ulas yang lain. Tekanan suaranya
sama-sama ketus. Hati odang Niro seperti ditusuk duri dan di kepalanya
seakan ada sekawanan lebah yang siap menyengat. Niat hati ingin berbagi
cerita, tapi orang-orang menyambutnya lain. Dengan berat, ia berdiri
dan mengayuh langkah tuanya. Sendiri. Sunyi.
Sosok Odang Niro baru saja menghilang di rimbun belukar, pergunjinga
pun kembali digelar seperti hentakan kecapi. Gemerisik air pancuran,
cericit pipit, dan kulik elang di ketinggian seperti tidak restu
mendengarnya. Tetapi mulut-mulut itu, lidah-lidah itu terlanjur
bergetar, melafazkan kesumat yang entah karena apa tertuju pada Odang
Niro.
“Benar juga petuah nenek moyang kita: sekali-kali jangan terniat
menaruh yang tidak baik dalam diri. Mudaratnya tersasa bila kita sampai
tua. Bila tidak orang lain, alam akan menghukum kita,”
“Hei, jadi, Odang Niro menaruh yang tidak baik?’
“Alah, sudah menjadi rahasia umum. Semua orang tahu kalau Odang Niro
itu induak tubo di kampung ini. Coba perhatikan, semua ciri-ciri induak
tubo ada padanya. Dengar, biar saya jelaskan. Semua anak Odang Niro
laki-laki, bukan? Nah, secara perlahan keturunan Odang Niro akan punah,
suami sudah mati pula. Tinggallah dia kini seorang diri. Anak-anak gila
merantau. Badan sudah iduik sogan mati ndak omuah. Lalu, setiap
usahanya menanam padi selalu diberantas hama. Ada-ada saja hama yang
menghancurkan padinya!”
“Kenapa dikatakan punah? Bukankah nanti dari anak laki-lakinya akan lahir cucu-cucu yang masih keturunan odang Niro?”
“Itu dia tempat lain. Di tempat kita berbeda. Kita memandang keturunan
itu dari pihak ibu. Laki-laki cuma tampang dan padusi seperti kebun
tempat tampang itu tumbuh. Makanya tetua kita menghormati tempat tumbuh
ini. Coba kalau kita hitung-hitung, yang paling banyak berkorban dan
lebih banyak menanggung sakit dari sejak mengandung, melahirkan, hingga
mengasuh anak adalah ibu!”
“O, jadi karena itu Odang Niro dikatakan akan punah?”
“Iya! Kasihan sekali pada induak tubo itu…”
Kalimat-kalimat yang deras, pedas dan panas seperti api memamah kayu
kering. Tapi siapa yang mau tahu kalau setiap kali sendiri Odang Niro
mengemas dan merahasiakan tangisnya. Semua ia lakukan secara diam-diam.
Seperti pagi menjelang siang itu, dalam kerelaannya menerima nasib,
Odang Niro menyiang padinya. Padi muda yang bergelimpangan di permukaan
lumpur karena dimamah tikus terus dipilihnya dengan ragam perasaan. Ada
sakit, ada iba, dan ngilu.
Batang-batang padi yang mulai hamil ia gumpal bersama semak lalu diinjaknya ke dalam lumpur.
“Semua harus berakhir di perut bumi,” batinnya.
“Kalau di permukaan bumi hidup hanya bergelimang lara, lebih baik membenam ke dalam tanah!”
Tepat ketika gumpalan padi terakhir yang dipilihnya ia benamkan ke
dalam lumpur, kakinya mendadak terasa dingin. Ia coba rasakan, ada
kekuatan yang menghisapnya. Ternyata, saking larut dalam ragam perasaan
Odang Niro lupa kalau ia sudah sampai di tengah-tengah sawah yang
berawang.
Kakinya semakin dingin. Separuh tubuh bungkuknya pun sudah tertelan
lumpur. Ia dihisap rawang. Odang Niro bukannya cemas. Ia malah
tersenyum.
“Ternyata ada yang merindukanku,” lirihnya. Namun ketika dingin lumpur
samapi di lehernya, Odang Niro tersentak. Wajah anak-anaknya yang
berada entah di rantau mana seketika membayang. Mereka melambai sembari
mengucapkan selamat jalan. Odang Niro tercekik. Lumpur hidup masuk ke
tenggorokanya. Bayangan wajah anak-anakya terus berslingan. Tetapi
segalanya mendadak gelap
Tinggallah kini tingkuluak usangnya, terdampar di permukaan Lumpur
menggantikan batang-batang padi, semak, juga dirinya: ibu tua yang
pergi menuntaskan kesepain ke dalam rawang.
“Bukan. Dia bukan ibu yang kesepian, tetapi, induak tubo,” bantah seorang perempuan anggota ganti-ganti borisuak.
***
Kalau kau bertemu Uda Pian, Da Lawi, dan Da Karim, sampaikan pesanku
bahwa sejak lima bulan lalu aku membawa anak-istriku pulang kampung.
Kami jadi petani saja. Kalau hanya untuk terhindar dari kelaparan dan
tanggungjawab menyekolahkan tiga orang anak, rasanya kami sanggup
menjalaninya di kampung. Sawah dan ladang milik ibu kita masih ada dan
tak tergarap sejak kami merantau enam tahun silam disusul pula dua
tahun berikutnya kau kuliah ke kota. Rumah kita terlalu luas untuk
tubuh bungkuk ibu.
Sekalipun sesungguhnya kami amat sadar, kalau corak hidup di zaman
gebalau ini tidak berpihak pada petani. Dan lagi, membawa istri ke
rumah ibu dalam adat kita memang dipandang ganjil dan sebaiknya jangan
dilakukan. Tapi, pikirkanlah, pewaris pusaka ibu cuma kita, laki-laki
semua. Kalau bukan kita yang mengurus sawah dan ladang milik ibu, siapa
lagi? Mencari orang yang mau menggarap tanah sekarang sukar, Lin. Bukan
hanya tanah kita, tanah-tanah lain begitu banyak yang ditinggal
pemiliknya.
Malin, Kamu satu-satunya adik jantanku. Kamulah yang kuharapkan untuk
mengerti. Berharap pada uda Pian, Da Lawi, dan Da Karim tidak akan
berpengaruh apa-apa. Kau kan tahu sendiri, rantau telah menelan mereka.
Pulang sekali setahun saja sudah sangat berat bagi mereka.
Sedangkan ibu, dari hari ke hari selalu muram. Selalu ia risau, tak
ingin dianggap induak tubo yang ditelan lumpur hidup-hidup. Ibu tidak
ingin mengakhiri hayat seperti itu.*** |