Kahwa berlari ke pintu. Ujung gaunnya yang putih meliuk ritmis menyapu
daun-daun rambai yang mengering di halaman. Kedua patahan sikunya
dililit selendang biru dan rambutnya yang dibando ia biarkan tergerai,
meliuk di atas punggungnya. Ia seperti berlari menembus angin.
Persis di depan pintu, langkah Kahwa terhenti. Kakinya seperti membeku.
Meski kedua tanggannya tampak menggapai-gapai menjangkau pintu. Tapi
pinggangnya ke bawah tak bisa bergerak. Ia lambai-lambaikan selendang
di tangannya. Dan bibirnya seperti meneriakkan “ibu”. Tapi tak ada
suara.
Laila tersentak bangun dan langsung duduk. Melihat berkeliling. Hanya
pendar cahaya lentera dan si sampingnya Dahlan, suaminya, masih
tertidur pulas.
Di luar, satu dua murai sudah mulai berkicau. Sesekali terdengar kokok
ayam hutan dan desis daun aur. Laila mulai diserang pertanyaan: mengapa
mimpi serupa sering membangunkannya?
Laila turun dari tempat tidur. Sebelum melangkah ke sumur ia sempat
memeriksa foto hitam-putih yang tergantung di dinding dekat pintu
biliknya. Ia tersenyum pada foto itu. Itulah Kahwa ketika masih dua
belas tahun. Foto itu diambil untuk ijazah SD-nya.
Dahlan pun terbangun. Menyusul ke sumur. Dan seterusnya mereka khusuk
dalam jamaah Subuh. Nyaris tak ada cengkerama antara mereka . mereka
masyuk dengan diri masing-masing. Sembari menungu nasi matang, Dahlan
menyeruput segelas kopi buatan Laila.
Setelah sarapan. Mereka sama-sama menyiapkan perkakas kerja
masing-masing. Dahlan mengambil cangkul, keranjang rotan dan sekop.
Laila mengambil topi pandan dan martil kecil lalu dua tas kain tempat
bekal makan siang. Satu untuknya. Satu lagi untuk suaminya. Lalu mereka
pergi ke tempat kerja masing-masing. Dahlan ke hilir, Laila ke hulu.
Begitu setiap hari.
Hingga bila bangau putih sudah terbang berarak ke rawa-rawa tepi
Bantangagam, pertanda sore akan turun, Laila akan mempercepat
pukulannya pada batu-batu itu. Seperti ingin memecah waktu. Seperti
ingin mengurai rindu yang mengurung jantungnya.
Rindu pada Kahwa, gadis kecil berparas lunak yang dulu gemar menghentak-hentakan kakinya setiap kali ia membuka pintu.
Akan ada rengek meningkahi kaki Kahwa yang menghentak-hentak ke lantai
serta kedua tangannya terentang menghadang pelukan; mengharap gendongan.
Lalu, ketika berada di atas gendongannya, bibir mungil Kahwa akan
ceplas-ceplos mengumbar cerita yang ia temukan selama ditinggalkan.
Tentang neneknya yang tak bisa bernyanyi. Neneknya tidak membuka mulut
ketika bernyanyi, hanya menggerak-gerakkan bibir menghembuskan nafas ke
hidung. Itu salah, tidak sama dengan yang sering ia tonton di acara
bintang cilik di televise tetangga. Katanya, mulut dibuka lebar-lebar,
tangan dan kaki digoyang-goyangkan ketika bernyanyi. Tapi neneknya cuma
mengangguk-anggukan kepala saja. Itu juga tidak seperti yang diajarkan
ibu guru TK-nya.
Katanya lagi, kalau menari dan bernyanyi itu sambil tersenyum, tidak boleh manyun-manyun saja seperti neneknya.
“O, begitu, ya. Pintar,” paling begitu komentarnya.
Ia tanggalkan kain sarung yang ia lilitkan ke kepalanya. Sebab,
matahari sudah merendah ke balik bukit meninggalkan semburat jingga
yang membuat pohon pinus di punggung bukit itu kelihatan coklat. Ia
biarkan rambutnya jatuh ke punggungnya yang basah oleh keringat.
Martil kecil di genggamannya terus turun-naik membuat gerakan memukul.
Batu-batu itu pun seakan tak berdaya. Berdekak-dekak. Rengkah.
Membelah. Dan sebagian menyerpih jadi kepingan kecil. Tak berdaya.
Tetapi, dadanya tak sehangat ketika Kahwa masih sering menunggunya di
balik pintu itu. Sekarang, kalau pun ia pulang, tentu tidak ada lagi
rengek dan rentak kaki mungil Kahwa.
Semua kini tinggal ngiangan. Hanya pongang suara. Mirip gaung dekak
batu yang memantul ke jurang di hulu. Ia, hanya Laila, si pemecah batu
yang kembali duduk tertunduk menekuri waktu yang terus susut. Terasa,
apa yang ia lakukan hanya pengulangan peristiwa belasan tahun yang
lalu, jauh sebelum Dahlan, pemuda penambang pasir itu menikahinya.
Sebagai seorang gadis yang hanya tamat SMP, ia warisi pekerjaan memecah
batu itu dari ibunya sebagai nasib yang manis. Pesan ibunya, hidup tak
boleh dikuasai keluhan. Sebab keluhan itu akan membuat hati keras
melebihi batu.
Laila pun menikah dengan Dahlan yang sehari-hari menambang pasir di
Batangagam, tidak jauh dari tempatnya sehari-hari memecah batu. Ia tak
berhenti bekerja setelah menikah. Dahlan sesungguhnya sangat ingin
melarangnya. Tapi batal. Sebab mereka sadar, tenaga itu ada batasnya.
Selama masih bisa dilkakukan berdua, kenapa tidak. Begitu kesepakatan
mereka.
Sejak menjadi istri Dahlan inilah, ia mulai menyukai senja. Dadanya
akan selalu terasa hangat setiap hari mau berakhir. Tetapi, ketika
mengetahui dirinya hamil, ibunya melarang bekerja. Perempuan hamil
tidak boleh bekerja memecah batu. Jangankan memecah batu, duduk di atas
batu saja sangat tidak dibenarkan. Anak dalam rahim dikhawatirkan akan
berhati batu.
Ya, hanya selama hamil ditambah delapan bulan menyusui, ia berhenti
bekerja. Bulan-bulan itu menjadi gugusan hari yang penuh debar. Ia akan
jadi ibu muda. Anak dari perkawinannya dengan Dahlan segera lahir.
Juga ketika senja. Perutnya memilin. Ada yang menendang-nendang di
dalam seperti pukulan yang bisa ia lepaskan ke batu-batu. Posisi
anaknya sudah bergeser, pertanda ia sudah ingin keluar menghirup nafas
sendiri.
Tak terkira rasa syukur di hati Laila. Juga di hati Dahlan. Bayi
perempuan mereka lahir. Mereka beri nama Kahwa Masyrikah, pemberian
seorang guru mengaji yang berarti Kopi Timur. Sesuatu yang pahit. Tapi
akan mampu mencair bersama manis gula dalam minuman yang setiap pagi
mereka teguk sebelum berangkat ke pinggiran sungai.
Ketika usia Kahwa delapan bulan, ia ingin bekerja lagi sebagai pemecah
batu, kali itu bergabung dengan kelompok ibu-ibu yang lain. Sampai
sekarang, setiap hari, ia dan batu-batu seakan tak bisa terpisahkan.
Tangannya semakin terlatih. Semakin kenyal. Urat-urat tanda ketegaran
bersilangan di punggung tangannya.
***
Pada sore yang lain, di jalan setapak menuju rumahnya, ia berjalan
tertatih. Ada letih di kayuhan lengannya. Tubuhnya tampak semakin tak
kuat berurusan dengan batu setiap hari. Tapi bukan batu-batu itu yang
melemaskan pangkal lengannya. Kabar tentang keadaan Kahwa tak pernah
lagi ia terima sejak lebih kurang setahun terakhir.
Dalam letih yang sama, ia sengaja berselonjor di bangku-bangku yang
terbuat dari sibiran batang kelapa, persis di depan rumahnya. Ia
memandang berkeliling. Rumah itu di kelilingi batang rambai dan batang
jambak. Tanah liat di halamannya dirambati lumut. Tempat dulu Kahwa
sering main tali.
Anak ayam suka mencakari halaman itu, menguras liang-liang cacing di
celah batu yang juga dibungkus lumut. Seakan batu-batu itu tak tahan
hawa dingin yang berhembus sepanjang hari.
Namun, Kahwa yang dulu perengek dan suka berdebat dengan neneknya soal
bagaimana bernyanyi dan menari yang baik dan benar itu sejak menamatkan
pendidikannya di sebuah SMK, dua tahun lalu berangkat ke Batam, bekerja
sebagai karyawati sebuah perusahaan perkapalan di sana.
Rentak kaki, bibir mungil yang bercerita tentang nenek yang tak pandai
bernyanyi itu, tinggal kilasan gambar, ngiangan suara, penghibur letih
dan bahan cerita menjelang Laila dan suaminya merebahkan badan di
pembaringan.
***
“Apalagi yang kau risaukan, Laila? Kenapa matamu sayu begitu?” sapa
Dahlan, ketika mendapati Laila tercenung di tepi tempat tidur. Langit
belum sempurna terang. Biasanya, pada pagi seperti itu, Laila langsung
ke sumur. Membersihkan diri dengan air wuduk, disusul Dahlan. Lalu
mereka shalat subuh berjamaah.
Tapi pagi itu, Laila seperti terpasung ke lantai dipan. Ia duduk
mematung sambil menjuntaikan kakinya ke lantai. Selimut tergerai begitu
saja di bahunya.
“Kamu sakit?” Dahlan tak bisa menyembunyikan keheranannya. Ia dekati
Laila dan melakukan hal serupa dengan yang diperbuat Laila,
menjuntaikan kaki ke lantai. Selimut yang terserak begitu saja
dibetulkan Dahlan. Tepi selimut itu menyelimuti punggung mereka yang
bersisian.
“Mimpi itu datang lagi,” ucap Laila dengan sorot mata yang lurus.
“Mimpi? Kamu mimpi apa?”
“Kahwa pulang. Tapi hanya sampai di pintu. Kakinya seperti membatu di depan jenjang.”
“Ah, cuma mimpi. Berdoalah untuk kebaikan Kahwa,” hibur Dahlan. Ia
kemudian membimbing Laila turun dari pembaringan. Tapi tiba-tiba,
Dahlan sungguh tak percaya, kaki Laila kaku, tak bisa digerakkan.
Membatu.***
Padang, 2008 |