Logo Sriti Home | Cerpen | Tentang | Kontak
 


 








 
 

Kaki yang Membatu

Cerpen Zelfeni Wimra Silakan Simak!
Dimuat di Riau Pos Silakan Kunjungi Situsnya! 05/03/2009 Telah Disimak 414 kali

 

Kahwa berlari ke pintu. Ujung gaunnya yang putih meliuk ritmis menyapu daun-daun rambai yang mengering di halaman. Kedua patahan sikunya dililit selendang biru dan rambutnya yang dibando ia biarkan tergerai, meliuk di atas punggungnya. Ia seperti berlari menembus angin.

Persis di depan pintu, langkah Kahwa terhenti. Kakinya seperti membeku. Meski kedua tanggannya tampak menggapai-gapai menjangkau pintu. Tapi pinggangnya ke bawah tak bisa bergerak. Ia lambai-lambaikan selendang di tangannya. Dan bibirnya seperti meneriakkan “ibu”. Tapi tak ada suara.

Laila tersentak bangun dan langsung duduk. Melihat berkeliling. Hanya pendar cahaya lentera  dan si sampingnya Dahlan, suaminya, masih tertidur pulas. 
Di luar, satu dua murai sudah mulai berkicau. Sesekali terdengar kokok ayam hutan dan desis daun aur. Laila mulai diserang pertanyaan: mengapa mimpi serupa sering membangunkannya?

Laila turun dari tempat tidur. Sebelum melangkah ke sumur ia sempat memeriksa foto hitam-putih yang tergantung di dinding dekat pintu biliknya. Ia tersenyum pada foto itu. Itulah Kahwa ketika masih dua belas tahun. Foto itu diambil untuk ijazah SD-nya.

Dahlan pun terbangun. Menyusul ke sumur. Dan seterusnya mereka khusuk dalam jamaah Subuh. Nyaris tak ada cengkerama antara mereka . mereka masyuk dengan diri masing-masing. Sembari menungu nasi matang, Dahlan menyeruput segelas kopi buatan Laila.

Setelah sarapan. Mereka sama-sama menyiapkan perkakas kerja masing-masing. Dahlan mengambil cangkul, keranjang rotan dan sekop. Laila mengambil topi pandan dan martil kecil lalu dua tas kain tempat bekal makan siang. Satu untuknya. Satu lagi untuk suaminya. Lalu mereka pergi ke tempat kerja masing-masing. Dahlan ke hilir, Laila ke hulu. Begitu setiap hari.

Hingga bila bangau putih sudah terbang berarak ke rawa-rawa tepi Bantangagam, pertanda sore akan turun, Laila akan mempercepat pukulannya pada batu-batu itu. Seperti ingin memecah waktu. Seperti ingin mengurai rindu yang mengurung jantungnya.

Rindu pada Kahwa, gadis kecil berparas lunak yang dulu gemar menghentak-hentakan kakinya setiap kali  ia membuka pintu. 

Akan ada rengek meningkahi kaki Kahwa yang menghentak-hentak ke lantai serta kedua tangannya terentang menghadang pelukan; mengharap gendongan.

Lalu, ketika berada di atas gendongannya, bibir mungil Kahwa akan ceplas-ceplos mengumbar cerita yang ia temukan selama ditinggalkan. Tentang neneknya yang tak bisa bernyanyi. Neneknya tidak membuka mulut ketika bernyanyi, hanya menggerak-gerakkan bibir menghembuskan nafas ke hidung. Itu salah, tidak sama dengan yang sering ia tonton di acara bintang cilik di televise tetangga. Katanya, mulut dibuka lebar-lebar, tangan dan kaki digoyang-goyangkan ketika bernyanyi. Tapi neneknya cuma mengangguk-anggukan kepala saja. Itu juga tidak seperti yang diajarkan ibu guru TK-nya.

Katanya lagi, kalau menari dan bernyanyi itu sambil tersenyum, tidak boleh manyun-manyun saja seperti neneknya.

“O, begitu, ya. Pintar,” paling begitu komentarnya. 

Ia tanggalkan kain sarung yang ia lilitkan ke kepalanya. Sebab, matahari sudah merendah ke balik bukit meninggalkan semburat jingga yang membuat pohon pinus di punggung bukit itu kelihatan coklat. Ia biarkan rambutnya jatuh ke punggungnya yang basah oleh keringat.

Martil kecil di genggamannya terus turun-naik membuat gerakan memukul. Batu-batu itu pun seakan tak berdaya. Berdekak-dekak. Rengkah. Membelah. Dan sebagian menyerpih jadi kepingan kecil. Tak berdaya.

Tetapi, dadanya tak sehangat ketika Kahwa masih sering menunggunya di balik pintu itu. Sekarang, kalau pun ia pulang, tentu tidak ada lagi rengek dan rentak kaki mungil Kahwa.

Semua kini tinggal ngiangan. Hanya pongang suara. Mirip gaung dekak batu yang memantul ke jurang di hulu. Ia, hanya Laila, si pemecah batu yang kembali duduk tertunduk menekuri waktu yang terus susut. Terasa, apa yang ia lakukan hanya pengulangan peristiwa belasan tahun yang lalu, jauh sebelum Dahlan, pemuda penambang pasir itu menikahinya. Sebagai seorang gadis yang hanya tamat SMP, ia warisi pekerjaan memecah batu itu dari ibunya sebagai nasib yang manis. Pesan ibunya, hidup tak boleh dikuasai keluhan. Sebab keluhan itu akan membuat hati keras melebihi batu.

Laila pun menikah dengan Dahlan yang sehari-hari menambang pasir di Batangagam, tidak jauh dari tempatnya sehari-hari memecah batu. Ia tak berhenti bekerja setelah menikah. Dahlan sesungguhnya sangat ingin melarangnya. Tapi batal. Sebab mereka sadar, tenaga itu ada batasnya. Selama masih bisa dilkakukan berdua, kenapa tidak. Begitu kesepakatan mereka.

Sejak menjadi istri Dahlan inilah, ia mulai menyukai senja. Dadanya akan selalu terasa hangat setiap hari mau berakhir. Tetapi, ketika mengetahui dirinya hamil, ibunya melarang bekerja. Perempuan hamil tidak boleh bekerja memecah batu. Jangankan memecah batu, duduk di atas batu saja sangat tidak dibenarkan. Anak dalam rahim dikhawatirkan akan berhati batu.

Ya, hanya selama hamil ditambah delapan bulan menyusui, ia berhenti bekerja. Bulan-bulan itu menjadi gugusan hari yang penuh debar. Ia akan jadi ibu muda. Anak dari perkawinannya dengan Dahlan segera lahir.

Juga ketika senja. Perutnya memilin. Ada yang menendang-nendang di dalam seperti pukulan yang bisa ia lepaskan ke batu-batu. Posisi anaknya sudah bergeser, pertanda ia sudah ingin keluar menghirup nafas sendiri.

Tak terkira rasa syukur di hati Laila. Juga di hati Dahlan. Bayi perempuan mereka lahir. Mereka beri nama Kahwa Masyrikah, pemberian seorang guru mengaji yang berarti Kopi Timur. Sesuatu yang pahit. Tapi akan mampu mencair bersama manis gula dalam minuman yang setiap pagi mereka teguk sebelum berangkat ke pinggiran sungai.

Ketika usia Kahwa delapan bulan, ia ingin bekerja lagi sebagai pemecah batu, kali itu bergabung dengan kelompok ibu-ibu yang lain. Sampai sekarang, setiap hari, ia dan batu-batu seakan tak bisa terpisahkan. Tangannya semakin terlatih. Semakin kenyal. Urat-urat tanda ketegaran bersilangan di punggung tangannya.
***

Pada sore yang lain, di jalan setapak menuju rumahnya, ia berjalan tertatih. Ada letih di kayuhan lengannya. Tubuhnya tampak semakin tak kuat berurusan dengan batu setiap hari. Tapi bukan batu-batu itu yang melemaskan pangkal lengannya. Kabar tentang keadaan Kahwa tak pernah lagi ia terima sejak lebih kurang setahun terakhir.

Dalam letih yang sama, ia sengaja berselonjor di bangku-bangku yang terbuat dari sibiran batang kelapa, persis di depan rumahnya. Ia memandang berkeliling. Rumah itu di kelilingi batang rambai dan batang jambak. Tanah liat di halamannya dirambati lumut. Tempat dulu Kahwa sering main tali.

Anak ayam suka mencakari halaman itu, menguras liang-liang cacing di celah batu yang juga dibungkus lumut. Seakan batu-batu itu tak tahan hawa dingin yang berhembus sepanjang hari.

Namun, Kahwa yang dulu perengek dan suka berdebat dengan neneknya soal bagaimana bernyanyi dan menari yang baik dan benar itu sejak menamatkan pendidikannya di sebuah SMK, dua tahun lalu berangkat ke Batam, bekerja sebagai karyawati sebuah perusahaan perkapalan di sana.

Rentak kaki, bibir mungil yang bercerita tentang nenek yang tak pandai bernyanyi itu, tinggal kilasan gambar, ngiangan suara, penghibur letih dan bahan cerita menjelang Laila dan suaminya merebahkan badan di pembaringan.
***

“Apalagi yang kau risaukan, Laila? Kenapa matamu sayu begitu?” sapa Dahlan, ketika mendapati Laila tercenung di tepi tempat tidur. Langit belum sempurna terang. Biasanya, pada pagi seperti itu, Laila langsung ke sumur. Membersihkan diri dengan air wuduk, disusul Dahlan. Lalu mereka shalat subuh berjamaah.

Tapi pagi itu, Laila seperti terpasung ke lantai dipan. Ia duduk mematung sambil menjuntaikan kakinya ke lantai. Selimut tergerai begitu saja di bahunya.

“Kamu sakit?” Dahlan tak bisa menyembunyikan keheranannya. Ia dekati Laila dan melakukan hal serupa dengan yang diperbuat Laila, menjuntaikan kaki ke lantai. Selimut yang terserak begitu saja dibetulkan Dahlan. Tepi selimut itu menyelimuti punggung mereka yang bersisian.

“Mimpi itu datang lagi,” ucap Laila dengan sorot mata yang lurus.

“Mimpi? Kamu mimpi apa?”

“Kahwa pulang. Tapi hanya sampai di pintu. Kakinya seperti membatu di depan jenjang.”

“Ah, cuma mimpi. Berdoalah untuk kebaikan Kahwa,” hibur Dahlan. Ia kemudian membimbing Laila turun dari pembaringan. Tapi tiba-tiba, Dahlan sungguh tak percaya, kaki Laila kaku, tak bisa digerakkan. Membatu.***

 Padang, 2008

 

 

 

 


© 2002-2009 Sriti.com. All Rights Reserved.
Home | Tentang | Kontak