Datanglah bermalam sesekali. Di sebelah tempat tidurku, bersisian
dengan jendela, ada dipan bambu. Kau boleh tidur di situ. Maafkan,
kapas kasurnya sudah tipis dan dingin. Biasanya, bapak yang tidur di
sana. Tapi sejak tiga hari yang lalu bapak tidak lagi di sini. Ia
kuminta pergi mencarikan obat untukku.
Kau juga boleh mengeping
kayu dan membakarnya di tungku. Memasak nasi atau merebus air. Bikinlah
kopi, baca buku, atau mendengarkan radio. Kalau tengah malam, ketika
uir-uir berhenti bernyanyi dan udara seperti letih menggendong cuaca,
jangan tercengang, kau mungkin akan dikejutkan oleh gaduh suara dari
tengah rimba.
Seperti suara aneka satwa yang bersengketa;
gelegar pohon tumbang disertai deru anak sungai menuruni lembah. Akan
ada saja pekik aneh yang melengking tinggi. Berulang-ulang hingga yang
terdengar hanya desis angin meningkahi malam beranjak jadi pagi. Siul
daun-daun pinus dan gemericik air pematang di pinggir sawah. Sesekali,
mungkin ada juga beruang menyalak, kepakan sayap burung-burung malam.
Ketika
bapak masih di sini, aku justru lebih suka mendengar dengkurannya yang
berpacu lirih dengan sesuara dari tengah rimba itu. Seakan mengajariku
sebuah pemahaman, bahwa laki-laki tampak tangguh ketika ia tidur dalam
kelelahan.
Jadi, jangan tercengang. Apalagi merasa pilu.
Lewatilah malam sambil mengakrabi suara-suara aneh dari tengah rimba
itu. Sebab, setelah ufuk timur memijar merah, seperti ada yang
tersembur dari perut bumi, pendengaranmu akan dimanjakan oleh dendang
burung-burung. Lalu, sentuhan hangat matahari akan menuntunmu mencari
mata air untuk berkumur dan mencuci muka.
Berjalanlah terus ke
ceruk lembah. Rasakan tusukan dingin dari sisa embun di ujung rumputan.
Percayalah, nyanyian burung-burung mungil di pelepah salak bisa
membuatmu lupa pada peluit kereta yang memberangkatkanmu dari kota.
Lupa pada sirene patroli, hiruk-pikuk kendaraan bermotor; pada dentum
karung-karung di pelabuhan atau pada gemerlap kembang api dalam pesta
dansa yang meriah.
Kalau kau ke sini lima tahun lalu, sebelum
para tetanggaku memutuskan untuk angkat kaki dari sini, kau masih bisa
bertemu dengan suasana pagi yang dimeriahkan tangis bayi dan anak-anak
yang berkelahi. Juga cengkrama para ibu di tepian mandi dan gelegar
tawa bapak-bapak menjelang pergi memanen kopi.
Sekarang tidak
begitu lagi keadaannya. Tinggal di sini benar-benar masuk ke dalam
kesendirian. Hanya kadang-kadang, pada waktu yang tidak bisa
ditentukan, kelompok pecinta alam datang ke sini. Tapi, hanya untuk
singgah, menangkap satwa, memungut tumbuhan langka, makan-makan, dan
bercinta dalam tenda. Biasanya begitu. Mereka ke sini bersama pasangan
masing-masing. Semakin jelas saja bahwa setiap orang takut sendiri.
Takut pada sunyi.
Aduh. Lagi-lagi kesunyian. Sesuatu yang tak
mampu kutuntaskan. Terutama sejak bapak pergi menggiring kerbau yang
biasa digunakannya untuk membajak sawah ke pasar ternak. Kerbau itu
dijual bapak untuk membeli obat yang kuminta. O, iya, bapakku dulu
seorang tukang bajak. Menerima upah dari pekerjaannnya. Kalau kau
pernah main-main ke sawah dan melihat seorang menggelandang kerbau
dengan pasangan bajak di kuduknya, kau tentu tahu seperti apa pekerjaan
bapakku.
Tapi, aku belum percaya kau pernah melihat seperti
apa kaki seorang tukang bajak. Baik, aku beri tahu. Sepasang kaki itu
kurus, kukunya kecokelatan dan bulu-bulu yang tumbuh di betisnya sangat
jarang, karena sering dibalut lumpur. Bagiku, kaki seperti itu sungguh
agung. Setiap kali melihatnya, aku bagai diseret dan dipukul oleh
sebuah tenaga yang mengajakku berlari membelah belantara. Sayangnya,
itu yang tidak bisa lagi kulakukan.
Aku beri tahukan pula,
tempatku ini dahulu adalah perkampungan puluhan petani. Ada sekitar
lima rumah beratap seng. Tiga atau empat gubuk beratap ilalang dan
ijuk. Di sebelah barat, tepatnya di tumpuan pohon kubang yang selalu
bermata air, berdiri kokoh sebuah surau. Di sana aku dan kawan-kawan
belajar membaca kitab suci dan anak bujang berlatih jurus-jurus silat
dari seorang guru yang biasa kami panggil dengan sebutan Mak Misa.
Sekarang, semuanya telah membangkai.
Sejak hasil tani, seperti
cengkeh, kulit manis, gula aren, kopi, bahkan padi tidak lagi mampu
melunasi tuntutan lambung anak istri, para petani itu memilih jalan
lain: tinggalkan lembah ini. Satu per satu mereka pergi. Betapa pun
sakitnya ditinggalkan, tanah ini atau siapa saja yang hidup di sini,
semestinya memang harus tahu diri. Tanah di sini hanya menyuburkan
kacang-kacangan, ketela atau keladi. Selebihnya jagung dan padi. Tanah
ini tak berminyak. Bebatuan yang bergelimpangan di bukit-bukitnya tidak
mengandung batu bara, kapur, biji besi, atau emas. Tanah ini hanya
ceruk segunduk bukit yang di tengah-tengahnya terdapat sedikit cekungan
dan di cekungan itu dibuat sawah-sawah lalu di tepinya berdiri
rumah-rumah. Itu saja. Atau bila ada yang ingin punya ladang, ia mesti
membabat hutan terlebih dahulu.
Sekarang, rumah yang ada
penghuninya cuma satu. Tepatnya bukan rumah. tapi gubuk. Ya, gubuk
tempat aku menulis surat ini. Terakhir, penghuninya adalah aku dan
bapak. Sudah merupakan hal yang biasa bagi yang menetap di sini, sekali
seminggu berjalan kaki menuju pasar yang terletak di balik bukit.
Apalagi bapak, hampir setiap hari ia harus berjalan kaki mengiringi
kerbau ke sawah tempat ia menerima upah dari membajak. Jalan kaki
berjam-jam sepertinya bukan masalah terberat bagi kami.
Cuma
saja, sejak penyakit ini menjangkitiku, pekerjaan yang seharusnya kami
kerjakan berdua terpaksa diambil alih oleh bapak sendiri, seperti
belanja ke pasar seminggu sekali.
Inilah sebenarnya yang hendak
kukabarkan melalui surat ini. Aku adalah orang yang tidak tega melihat
bapak berjalan kaki sekitar sembilan kilometer hanya untuk membeli
peralatan dapur. Sekarang ditambah pula dengan kesibukan baru:
mencarikan obat untukku. Aku benar-benar orang yang tidak tega melihat
bapaknya dibelit tugas-tugas itu.
Wahai, aku kini terbaring
pasrah sejak enam bulan lalu. Bapak sudah mendatangkan dukun ke sini
--sudah banyak malahan. Tapi, para dukun itu ternyata belum diizinkan
Tuhan sebagai perantara kesembuhanku.
Terakhir, dia datangkan
dukun Ellebaba dari pasar tempat kami belanja sekali seminggu itu.
Dukun Ellebaba sedikit lebih keramat dari dukun-dukun lainnya. Katanya,
ia memelihara beberapa jin dan tuyul. Melalui jin dan tuyul-tuyul
itulah dukun Ellebaba menentukan jenis penyakit sekaligus obat bagi
pasiennya. Bila ada orang ingin berobat dengannya, dukun Ellebaba tidak
perlu menjenguk atau mendengar keluhan orang itu. Ia cukup memenggil
para jin dan tuyulnya lalu memberikan ramuam obatnya.
Lain
halnya dengan Bindan Bur, teman esdeku dulu. Saat ini ia kuliah
kedokteran di kota. Ia juga tinggal sekampung dengan dukun Ellebaba
dekat pasar. Karena perhubungan ke kota dari kampung itu lumayan
lancar, maka Bindan Bur berkesempatan melanjutkan sekolahnya. Tentunya
juga didukung oleh kemampuan orang tua Bindan yang mempunyai kedai
kelontong di pasar mingguan itu.
Suatu ketika Bindan pulang
kampung dan bertemu dengan bapak. Tentu saja ia menanyakan keadaanku.
Mendengar penjelasan bapak, ia langsung memutuskan untuk menjengukku.
Setelah memeriksaku, ia memberi tahu nama penyakitku: hepatitis B
kronis. Aku monyong waktu Bindan Bur menjelaskan gejala-gejalanya.
Tidak lupa ia terangkan diet yang harus kujalankan. Katanya, aku tidak
boleh makan garam.
Kebetulan pula waktu itu kuku ibu jari kaki
bapak pecah karena terinjak kerbau saat membajak. Bindan Bur
menyarankan kepada bapak untuk membalut luka itu dengan plastik bila
akan membajak. Gunanya agar luka bapak tidak terinfeksi virus tetanus.
Bapak mengikuti anjuran Bindan Bur. Sayangnya, Bindan Bur cuma sekali
sempat menjengukku. Mungkin ia sibuk dengan sekolahnya di kota.
Obat
yang diberikan Bindan Bur lebih manjur dibanding ramuan dukun Ellebaba.
Sejak memakan obat yang ia berikan, aku merasakan ada perubahan yang
baik pada penyakitku meskipun perutku masih gembung seperti punggung
sendok. Karena obat itu sudah habis, bapak bermaksud menyambung obatku
dengan ramuan dukun Ellebaba. Tapi, dukun itu tidak menyanggupinya.
Bapak pulang dengan kecewa.
''Ellebaba tidak mau mengobati orang yang sudah berobat dengan Bindan Bur,'' bapak terlihat sangat kesal.
''Kenapa begitu, Pak?''
''Jin
dan tuyul Ellebaba tidak bersedia memberikan keterangan tentang
penyakit seseorang yang telah diobati dengan ramuan yang diramu dengan
besi. Tuyul dan jin Ellebaba takut dengan besi. Kamu kan tahu, Bindan
Bur memeriksamu dengan peralatan dari besi. Obat yang diberikannya
tentu juga dibuat dengan mesin dari besi. Hah! Dasar induk penyakit.
Tapi Ellebaba mengatakan kamu termakan sesuatu yang tidak baik. Apa
betul ya? Kalau ya, berarti Bapak harus mencari dukun lain yang lebih
pandai. Atau kamu Bapak bawa ke rumah sakit.....''
Bapak
ragu-ragu. Barangkali ia teringat pada seorang pemburu babi yang
beberapa waktu lalu singgah di gubuk ini. Melihat keadaanku, pemburu
itu menyuruh bapak untuk membawaku ke rumah sakit. Dan, bapak berencana
menjual kerbaunya untuk biaya perawatanku di rumah sakit. Mungkin
karena bapak tahu bahwa gubuk kami jauh dari mesin beroda, maka bapak
mengurungkan niatnya. Siapa pula yang akan menggendong dan mencarikan
kendaraan untuk mengantarku ke rumah sakit?
Wahai, maafkanlah.
Surat ini sudah mengalir ke mana-mana. Aku tidak bermaksud untuk itu.
Sekali lagi aku minta maaf. Yang hendak kukabarkan bukan perihal Bindan
Bur, bukan Ellebaba, tidak pula perihal rumah sakit. Semua itu harus
aku lupakan, karena hanya akan membuat aku dan bapak bertengkar. Aku
pun sudah meminta bapak untuk memahami maksudku.
Aku sudah
jelaskan kepada bapak bahwa Bindan Bur, Ellebaba atau rumah sakit tidak
bakal mampu menyembuhkanku. Bindan Bur dan Ellebaba hanya bisa memberi
nama pada penyakitku dengan sebutan yang aneh-aneh. Menurut Bindan Bur
aku menderita hepatitis B kronis. Menurut Ellebaba aku termakan sesuatu
yang tidak baik, pemberian orang yang ingin aku mati secepatnya. Mereka
tidak satu pun yang benar. Lalu kalau bapak membawaku ke rumah sakit,
ingat, ''Pak, kita di lembah terpencil. Apalagi bila Bapak harus
menjual kerbau untuk segala keperluan rumah sakit. Kalau Bapak harus
menjual kerbau, lebih baik uangnya kita belikan pada sesuatu yang
benar-benar bisa menyembuhkanku.''
Aku tiba-tiba teringat ibu
yang sudah tiada dan menginginkannya kembali ada di dekatku waktu itu?
Paling tidak, seorang seperti ibu yang mau duduk berjenak menemaniku
tidur?
Jika surat ini sampai di tanganmu dan kau ingin
menjawab, kenang saja bahwa pertanyaan itu muncul dari hati seorang
gadis sunyi di tengah rimba yang tinggal tubuh pasrah karena sakit yang
dideritanya. Seorang gadis yang hanya dia sendiri yang tahu obat yang
bisa menyembuhkannya. Bapak sudah tahu itu. Yang aku yakini dapat
menyembuhkanku cuma satu: perempuan yang sedang hamil tua.
Aku
tahu bapak sangat heran mendengar permintaanku. Tapi sepertinya bapak
sudah mengerti, ini bukan permintaan sembarangan. Ini permintaan anak
gadis pesakitan yang tidak lama lagi mungkin akan berangkat menghadap
penciptanya.
''Mengapa perempuan hamil tua yang kamu
inginkan?'' Bapak bertanya sambil mengupil ulat yang terselip pada
belahan jengkol dengan kukunya yang sengaja di panjangkan. Bapak sangat
suka makan berulam jengkol. Bahkan, kisah bapak pula, sewaktu mendiang
ibuku mengidam dulu, ia meminta bapak mencarikan sekeranjang jengkol
tengah malam.
''Kenapa kamu diam? Jawab pertanyaan Bapak!''
Bapak terus bertanya. Kali ini dengan nada berat. Ada yang bergetar
sendat dalam kerongkongannya. Mungkin, itulah ngilu yang ditabungnya
sejak ibu berpulang.
Cericit burung-burung pagi mengajakku
untuk tetap diam. Aku sibak papan jendela. Di luar kusaksikan sepasang
pipit memilih daun-daun tua yang terdampar di pematang sawah. Begitu
lincah pipit itu. Tak lama berselang, daun tua itu sudah tergantung di
paruhnya dan segera terbang ke sebatang cengkeh. Di cabang paling ujung
di cengkeh itu sudah ada serajut rumput kering yang sebentar lagi
menjadi sarang tempat mereka bercinta bersama anak-anak yang akan
segera menetas. Atau hanya untuk sekadar mengistirahatkan pundi-pundi
dari lelah dan kicau yang risau.
Bapak mendekatiku. Ia rebahkan tangannya di keningku.
''Katakan pada Bapak, Nak.''
''Aku ingin perempuan yang sedang hamil tua, karena ingin sepertinya,
Pak,'' tegasku pada bapak. Bapak bangkit dari duduknya. Ia terperangah.
''Kamu ingin Bapak menbawa perempuan itu ke sini?''
''Ya!''
''Lantas?''
''Aku
akan memintanya berbaring di sisiku. Aku akan masuk ke dalam jiwa
bayinya yang segera lahir itu, menitipkan sejumlah keinginan. Dengan
begitu aku akan merasa lega sekali. Saat itu juga, aku akan sembuh.
Percayalah, Pak...''
Bapak mengangguk-angguk. Pagi itu juga,
sehabis sarapan, bapak menggiring kerbaunya ke pasar ternak dan setelah
terjual bapak katanya langsung pergi berkeliling kampung dan kalau
perlu ke kota mencari perempuan yang sedang hamil tua, seperti
pesananku. Bapak berjanji tidak akan pulang sebelum berhasil
mendatangkan perempuan itu. Di sekitar tempatku, tidak ada perempuan
yang sedang hamil tua. Aku tidak tahu apa sebabnya. Apakah di negerimu
ada perempuan yang kudambakan itu? Sekiranya ada, aku mohon, kirim
pulalah surat kepadaku. Bantu aku mendatangkannya ke sini.
Aku
kabarkan semua ini karena aku masih berharap untuk dapat seperti dulu
lagi, menyelamatkan lembah terpencil ini dari kegersangan, lahan-lahan
tidur dan rumah-rumah tua yang ditinggalkan penghuninya. Aku masih
ingin menelusuri jalan setapak menuju telaga di punggung bukit, bermain
dengan satwa-satwa mungil dan lucu, menggembalakan kerbau di padang
yang membentang hijau.
Sesuatu yang tak kunjung sampai.
Sementara umurku terasa makin tipis. Maka kutulis surat ini. Kepada
siapa mesti kukatakan sebuah rahasia: tentang impian yang sering
kutelan. Aku pernah mengidam-idamkan seorang bujang datang menyatakan
cintanya padaku dan kami menikah di lembah ini. Lalu bujang itu
menghamiliku. Lalu kami punya anak yang banyak hingga lembah ini
kembali riuh dan ramai.
Atau begini saja. Berhubung sudah tiga
hari bapakku pergi ke kota dan belum juga pulang. Satu termos nasi, dua
termos air dan semangkuk goreng cabe tanpa garam yang sengaja
disediakan bapak untukku sebelum ia berangkat, sudah hampir habis.
Maka, jika di negerimu kau melihat seorang lelaki tua memakai peci
hitam, baju gunting Cina, dan ibu jari kakinya sebelah kiri dibalut
dengan sobekan kain, ia tidak lain adalah bapakku. Katakan padanya
bahwa anak gadis yang menunggunya di lembah sudah pergi. Tengah malam
kemarin, sekumpulan serigala menyeret-nyeret bangkainya ke tengah hutan.
Atau
bila kau jadi berkenan datang bermalam ke sini, tidurlah di dipan bambu
berkasur tipis dan dingin itu. Bila kau mau, kau juga boleh berbaring
di tempat tidur yang sudah kutinggalkan. Jangan tercengang, kalau
tengah malam ada pekik aneh yang melengking tinggi, jauh di tengah
rimba. Itu barangkali jelmaan suaraku, merintihkan sejumlah keinginan
yang tak sampai.
***
Buat Atikami Lababua, 2002-2009
|