|
Kepingan Mahmud: Kitalah yang
berbimbingan menyeberangi jembatan bambu menuju hutan kebun pala. Kau
pura-pura jadi seorang dokter penyelamat dalam sebuah perang saudara
dan aku tentara yang terluka. Aduh! Aku kesakitan, berjalan tertatih.
Kau petik segenggam daun ketela, kau remas-remas dan airnya dioleskan
pada luka tembak di kakiku. Di balik pagar kayu, kita merunduk.
Kutembaki kumbang-kumbang putih kaki yang kita andaikan seperti pesawat
tempur tentara pusat. Pascapemberontakan PRRI,
perang-perangan menjadi jenis permainan yang sangat digemari anak
sebaya kita (seusia anak SLTP sekarang). Ada sekitar lima bulan, kita
lebih banyak bermain ketimbang sekolah, sebab guru-guru kita banyak
yang ditangkap dan tak pulang-pulang. Kau tentu masih ingat permainan
itu. Anak laki-laki dibagi dua. Regu pertama jadi tentara pemberontak.
Regu kedua jadi tentara pusat. Anak perempuan sebagian memilih jadi
dokter, sebagian lagi jadi sukarelawati yang mengantar makanan secara
diam-diam ke hutan persembunyian tentara pemberontak.
Bosan dengan perang-perangan, biasanya kita menyisih dari teman-teman
lain. Kita berjingkrakan ke belantara alang-alang, melempari
rerumpunnya dengan kepalan tanah liat. Jika ada burung yang terkejut
dan terbang, berarti di sana ada sarangnya. Maka kita rajut perangkap
dengan serat kelopak pisang. Kita pasang di pintu sarang burung itu.
Kita mengendap ke belukar, dekat sebatang cengkih, menunggu burung itu
kembali ke sarangnya. Di belukar persembunyian itulah
kita duduk sangat rapat sekali. Dalam debar-debar tak terpahami,
tiba-tiba, aku dialiri rasa ingin melindungimu, ingin memanjakanmu. Aku
patahkan setangkai pelepah pakis. Aku buat lengkungan seperti mahkota.
Aku pasangkan di kepalamu. Kau tersenyum. Kuandaikan dirimu seperti
Puti Reno yang kabur dari rumahnya menjumpai Si Babau dalam dongeng Sirompak. "Duh, manisnya dirimu."
Kau tak mau kalah. Daun alang-alang pun kau gulung dan kau rajut dengan
ijuk yang berguguran dari sebatang enau. Jadilah sebuah lingkaran mirip
cincin. Kau pasangkan di jari manisku yang kanan. Ahai,
kita pun kawin-kawinan dengan mahkota pakis dan cincin ijuk itu.
Mendadak, dari arah belantara alang-alang, terdengar kepakan sayap
burung. (Perangkap kita mengena) "Ayo cepat ke sana! Hati-hati."
Kita nyaris berebut mengambil burung yang sudah terjerat serat kelopak
pisang itu. Aku coba menanggalkannya untuk kemudian dimasukkan ke
karung bekas kemasan tepung terigu yang ada segi tiga birunya. Tapi
aku gagal melepaskan belitan serat pelepah pisang itu. “Sini aku coba,” katamu menawarkan diri.
Luar biasa. Kau bisa menanggalkannya dengan baik. Sejak itulah aku
yakin bahwa Sang Pencipta Yang Maha Agung telah merancang khusus
tanganmu untuk menyelesaikan kekusutan, belitan, cengkeraman, atau apa
saja yang membuat keningku berkerut dan beragam umpatan melompat dari
bibirku. Barangkali, ketenangan yang kutunggu-tunggu, kelelakianku juga
merahasia di jemarimu. “Ssst..! Lakinya belum dapat. Sebentar lagi ia pasti datang. Ia pasti tahu kalau bininya sudah kita jerat!” (Mukamu berkerut) “Ada apa?” “Yang mengerami telur pada siang hari pejantan, lakinya. Malam hari baru yang betina, bininya!” bantahmu. “Bukan! Yang mengerami telur itu yang betina. Yang jantan kerjanya cari makan!” “Salah! Kata nenek, burung itu, kalau sedang mengeram, bergantian. Siang pejantannya, malam betinanya!” “Dasar keras kepala!”
“Ssst..! Apa pun jenis kelaminnya, itu dia sudah datang. Lihat dia
marah sekali. Ia tampaknya sudah tahu kalau pasangannya sudah kita
tangkap. Pasang lagi jerat di sarangnya. Cepat!” Kita
pun bergegas menyulam serat kelopak pisang yang baru. Kita mengendap
lagi ke belukar persembunyian kita. Tapi aku tidak lagi mematahkan
setangkai pelepah pakis. Kau juga tidak lagi mencipta cincin dari daun
alang-alang dan serabut ijuk. Kita berselonjor. Letih mulai
menghinggapi jasad kanak kita. Huuuuaa! Kau mengantuk. Aku juga.
Kau duduk memeluk lutut dan menjatuhkan dagu di atasnya. Tapi, aku
gelisah melihat kau tidur dengan cara begitu. Aku bersandar di batang
cengkeh, menarik bahumu. “Tidur di sini saja,” ajakku.
Kau pun merebah di dadaku. Mendadak, terdengar lagi gelepar sayap
burung. Prrrrrr! Kita sontak bangun dan berlari ke arah suara itu.
Pasangan burung itu kita dapatkan. Betapa riangnya. Kita tak peduli
lagi pada luka gores di betis dan lengan kita ketika mencari pimping
dan lidi kepala: bahan sebuah sangkar untuk sepasang burung itu. Dan di
perjalanan pulang kita tangkapi belalang dan lelaron untuk makanannya.
Seperti burung itu pula, kita diperangkap lingkaran waktu yang rumit
dan tak terduga ujungnya. Bertahun, kita di arak nasib dengan sejumlah
pilihan dan kekangannya. Kita menyeret takdir masing-masing. Masa
kakak-kanak beringsut ke remaja. Kita tidak lagi menyangkarkan sepasang
burung. Kita memelihara degup di dada. Dengan dengup
itu, kita bisa membayangkan pelepah pakis menjelma mahkota pengantin;
serat ijuk dan daun alang-alang berubah jadi cincin kawin.
Ahai, cincin itu memuai dan membelah jadi sepasang. Cincin yang kita
pakai secara bergantian dalam sebuah pertemuan keluarga. Kita
bertunangan. Tapi, perpisahan menjadikan banyak
kesempatan dan sejumlah andai-andai itu tidak bisa kita koyak-koyak.
Sekalipun nyawa kita masih riang, darah tetap mengalir ritmis, dan
degup itu terus memukul-memukul. Kita tidak lagi bisa bersama, saling
rebah, saling berebut, saling tertunduk. Aku pergi ke pengembaraanku
memikul berbeban-beban ketidakberdayaan. Aku jadi pembunuh bagi degup
sendiri. (Seperti yang sering kuceritakan padamu, aku sangat ingin jadi
pilot pesawat tempur. Melayang-melayang dalam kecepatan tinggi,
selamatkan negeri ini dari pemecah persatuan--meski tidak sebagai
tentara pemberontak lagi. Maka setelah lulus di sebuah Sekolah
Penerbangan, aku langsung ikut tes untuk pendidikan lanjutan di
Angkatan Udara. Aku diterima.) Berpelepah pakis
kemudian kupatahkan dan kupasang di atas anak rambut yang lain. Tapi
rapuh dan menyerpih begitu saja. Begitu juga kau, barangkali juga telah
mencabut alang-alang dan mencipta begitu banyak cincin untuk jemari
yang lain . Perlahan, kita sudah saling lupa. Lupa degup itu. Lupa
rencana-rencana itu. Kepingan Zahara:
Di mataku, kau seperti paman-paman Giyugun. Tangguh. Lebih banyak
bekerja dari pada bicara. Tapi, setelah remaja, aku mulai risih dan
bertanya-tanya, mengapa lelaki harus memanggul senjata dan mereka
begitu menyukai perang? Mengapa selalu perempuan yang ditingalkan di
rumah, mengurusi bekas-bekas kepergian mereka?
Perempuanlah yang panik menyelamatkan diri dan harta secukupnya;
menyembunyikan anak-anak ke tempat yang aman dari lesatan peluru
nyasar. Atau, mengantarkan mereka-–para lelaki itu--makanan ke tempat
persembunyian. Meski tak dapat kumungkiri, kita punya masa kecil yang riang. Masa yang membuatku selalu merasa nyaman ada di dekatmu.
“Main perang-perangan, yuk,” ajakmu. Maka, aku pasti tidak punya alasan
untuk menolaknya. Dengan begitu, aku juga bisa tunjukkan padamu, bahwa
perempuan juga bisa berbuat dalam kecamuk perang. Aku kadang-kadang
memilih jadi dokter. Kadang-kadang jadi ibu-ibu yang menyamar,
pura-pura pergi ke sawah, padahal dalam tas rotannya terselip bungkusan
bekal untuk tentara pemberontak pada sebuah musim perang saudara yang
mencekam. “Menangkap burung, yuk!” “Petak umpet, yuk!” “Mandi hujan, yuk!” “Melepas layang-layang, yuk! “Main kelereng di halaman surau, yuk!
Aku pasti mau. Asal ada di dekatmu. Meski sering bertengkar dan tak
jarang saling diam berhari-hari. Pada kesempatan berikutnya kita sudah
rukun lagi. Sampai di usia remaja, rasa "mauku" padamu tetap terjaga. Sampai kita bertunangan, rasa “mauku" makin meraja.
Kau pun terlihat sungguh-sunguh menjaga pertunangan kita itu. Tapi,
seperti petir di terik siang, surat pembatalan pertunangan kita
kuterima darimu tanpa ada alasan yang jelas. Setelah itu kau seperti
sengaja menghilang dari hidupku. Tak ada kabar lagi. (Sepucuk surat
berisi pembatalan pertunangan kita kukirim padamu. Maafkan aku. Aku
tidak mungkin kau tunggu. Begitu banyak “ketidakmungkinan” dalam
hubungan kita dan itu tak bisa kuurai satu-satu.)
Waktu itu komunikasi tidak seperti sekarang. Di masa kanak-kanak kita
memang bebas bermain. Ke mana saja boleh dikatakan selalu berdua. Tapi
setelah bertunangan, kita tidak bisa lagi sering bersama, sekalipun ada
kesempatan. Bertemu denganmu cukup di balik pagar rumahku. Dapat
bertukar sapu tangan saja rasanya selangit. Apalagi ketika kau sering
memberanikan diri memegang jemariku dan menciumnya dengan gerakan
cepat. Kau tahu tidak, petang itu, waktu kau mencium jemariku, aku
dimarahi ibu. “Tidak boleh menyerahkan diri begitu saja
kepada laki-laki, sekalipun dia tunangan kita! Sebelum disantap, gulai
memang harus dicicipi sekadar memastikan bumbunya sudah pas atau belum.
Tapi, ketika mencicipi, jangan ketagihan. Bila sudah tiba waktu
bersantap yang sebenarnya, gulai itu akan tidak terasa nikmat lagi
lantaran terlalu sering dicicipi,” petuah ibuku. (Ibu berkata sinis
begitu biasanya setelah mengenang-ngenang perangai bapak yang licik.
Bapak yang dikabarkan hilang dalam pertempuran melawan tentara pusat,
ternyata punya istri baru di kota tetangga. Laki-laki, laki-laki.
Belajarlah hidup tanpa bergantung pada laki-laki. Ini kubuktikan.
Setelah akhirnya menikah juga, aku tetap pada prinsip itu. Memang
benar, di sisa usia, perempuan yang tidak bisa melahirkan anak, seperti
aku ini, paling berpeluang untuk sendiri; dibuang; dan dilupakan.)
Sayang, gulai itu, bukan terhidang untuk kita sekalipun sempat
mencicipinya, sekadar menghirup rasa harapan. Surat pembatalan
pertunangan itu telah meluluhkan rasa yang kujaga. Kau di mataku tidak
lagi seperti Giyugun yang tangguh. Kau tak lebih seperti kerak ketan
yang tampak tegar namum melendir ketika disiram air. Kekagumanku padamu
melisut dan perlahan terpaksa kumusnahkan. Aku menata
hidup baruku dengan mengeyampingkan kebutuhan pada laki-laki. Laki-laki
bagiku seperti lumpur hidup. Misterius dan angker. Ia pada awalnya bisa
saja membuai-buai hingga pada saat yang tepat ia menelanku. Dengan
sadar kukenali ia dari belakang. Kepingan Mahmud:
Sampai pada suatu kali, ketika itu, senja lebih merah dari biasanya. Di
usia pikun, di mana segalanya makin kabur, aku lihat dirimu tertatih di
depanku. Begitu berat langkahmu. (Sebuah kecelakaan latihan melumpuhkan
kaki kananku. Aku pincang dan terpaksa ditempatkan di bagian
administrasi sampai masa pensiunku tiba. Kecelakaan itulah salah satu
sebab mengapa aku memutuskan membatalkan pertunangan kita. Aku tidak
akan bisa menunaikan kewajiban sebagai laki-laki normal. Kalau pun kau
bisa ikhlas mendapat suami pincang seperti aku, tapi untuk urusan
batin, perempuan mana yang bisa tahan? Aku tidak tega.
Lalu, setelah pensiun, aku gunakan seluruh tabunganku untuk mendirikan
sebuah panti jompo untuk menampung mereka yang sepi dari kasih sayang
di hari tuanya. Aku langsung tinggal di sana, bersama mereka.
Bangunannya kurancang sendiri di atas tanah seluas 1 hektare. Ada dua
asrama (untuk laki-laki dan perempuan) yang dibatasi taman dan sebuah
paviliun mungil yang sengaja kutempati. Aku lakukan ini karena mengerti
betapa sakitnya sendiri. Dengan menampung mereka, mungkin aku merasa
dapat teman. Setidaknya, sebelum nyawa ini berangkat ke barzah, aku
sedikit merasa telah berbuat baik antarsesama. Seperti
biasa, setiap hari, pegawai-pegawai yang bekerja denganku selalu
memberikan laporan orang masuk dan orang keluar. Tapi, sore itu,
petugas keamanan panti datang ke ruang kerjaku dan melaporkan ada
seorang nenek ingin masuk tetapi tidak membawa keluarga. Aku sungguh
tiada menduga, ketika disilakan masuk, yang terbungkuk di depanku itu
ternyata dirimu. Ahai, di dadaku, tumpukan
kisah berpusing, menggigilkan capuk-capuk umur, menoreh isak pada kerut
pipiku. Jika ini pertanda aku dapat lagi meraba degup itu, meraih
bahumu, dan kau lelap di dadaku, aku mau mematahkan setangkai pelepah
pakis lagi, merangkainya jadi mahkota, dan kita kawin di belukar yang
juga telah tua itu. **** Padang, Juli 2006 Saluang Sirompak:
alat musik tiup tradisional khas Minangkabau yang kekeramatannya
terkenal dalam sebuah legenda yang menceritakan si Babau, seorang
bujang buruk rupa yang jatuh hati pada gadis cantik. Gadis itu itu
menolak cintanya. Karena kecewa, si Babau menyendiri ke hutan. Di sana,
setiap malam ia tiup Salung Sirompak. Pada malam ketujuh, lantunan
saluangnya membuat gadis idamannya separuh gila, menggapai-gapai
dinding, dan berjalan di tengah malam buta menuju ke tempat
persembunyiannya. Giyugun: Sebutan untuk
tentara di pulau Sumatera yang dilatih pemerintahan Jepang. Para
tentara inilah yng diasumsikan menggerakan pemberontakan PRRI. |