|
Kami sering saling tercengang
melihat Buya Mukaram berlalu mengayuh sepeda di tengah pagi buta.
Sungguh, kami tak sampai hati melihat gigil yang seakan menjalar dari
tulang punggung hingga lututnya. Tapi, bagaimana lagi, Buya selalu
menolak jika ditawari bermalam di rumah salah satu kami.
Penolakan itu sudah untuk yang kesekian kali.
“Kalau saya bermalam di sini, di mana pula saya akan menggantungkan
baju,” ucap Buya sebelum pulang. Kami terdiam. Tidak langsung mengerti
maksudnya. Kalau tempat tidur dan selimut yang hangat, kami bisa
menyediakan. Tempat menggantung baju juga ada. Tapi, tekanan suara Buya
ketika mengucapkan gantungan baju terdengar berat. Seperti ada maksud
lain yang ingin Buya katakan. Dan ini membuat kami berpikir.
Setelah punggung Buya menghilang di ujung jalan berkerikil itu,
barulah kami sadar, kalau kami melepas Buya ke halaman surau tanpa
memakai alas kaki. Batu-batu dingin menggigit telapak kaki. Buru-buru
kami kembali masuk ke dalam surau.
Sudah jam dua pagi, waktu itu. Embun jantan sudah turun. Daun-daun
pisang tampak terkulai menahan impitannya. Cahaya petromaks yang membias
ke liang-liang dinding surau membentuk silangan siluet, menembak
kegelapan. Meskipun angin tidak berembus, tapi dingin terasa menembus
tulang.
Barangkali, sebelum bumi dilipat, kampung kami ini akan tetap kekal
menjadi kampung yang dingin. Entah kalau gunung Marapi dan Singgalang
meletus dan rata dengan tanah. Entah kalau pohon-pohon yang terus
ditebangi sudah punah.
Kami memilih tinggal sejenak di surau berdinding anyaman bambu itu.
Kami akan berbincang sebentar. Ingin tahu lebih jauh, mengapa Buya
selalu menolak diajak bermalam di salah satu rumah penduduk? Padahal
pengajian sering berlangsung sampai larut, hingga sekitar jam dua pagi.
Kami coba memberi pengertian pada Buya. Kalau ia tetap pulang,
berarti Buya akan sampai di rumahnya sekitar jam empat. Sebab, kami
tahu, Buya hanya memenuhi panggilan ceramah ke kampung-kampung yang bisa
ditempuh paling lama dua jam perjalanan dengan sepeda. Kalau lewat dari
itu, Buya tidak berkenan.
Buya pernah menjelaskan pada kami, kalau dirinya punya jadwal ceramah
setiap hari di tempat yang berjarak tempuh rata-rata dua jam dengan
sepeda. Kalau jarak tempuhnya lebih dari dua jam, ia enggan menerima
tawaran mengisi pengajian. Sebab, ia selalu berangkat dari rumahnya
setelah asar, sekitar jam empat sore. Kalau jarak tempuh dengan sepeda
adalah dua jam, berarti Buya akan sampai di tempat ceramah sekitar jam
enam. Jadi, tidak terlalu buru-buru. Buya bisa melakukan salat sunat
dulu sebelum magrib datang.
Hati kami rusuh, membayangkan Buya mengayuh sepeda di dini hari
selama kurang lebih dua jam. Sesampainya di rumah, tidak mungkin pula
Buya langsung istirahat. Istirahatnya paling setelah salat subuh. Di
usia yang sudah melewati enam puluh tahun, kami khawatir, kekurangan
istirahat akan mengganggu kesehatan Buya.
Satu hal lagi, yang sulit kami cerna dengan cepat adalah alasan Buya
ketika menolak diajak bermalam selalu sama. Soal tempat tidur dan
makan-minum, sebetulnya tidak bermasalah bagi kami. Rata-rata, kami
penduduk di sini, adalah petani padi dan banyak pula yang punya tambak
ikan. Intinya, tidak perlulah Buya khawatir soal makan-minum.
Kami paham dan bersedia menyediakan semua itu untuk Buya. Hal yang
kurang bisa kami pahami, alasan buya yang selalu sama: kalau dirinya
bermalam di kampung kami, di mana pula ia akan menggantungkan baju?
Safar, salah seorang di antara kami para jamaah, pernah meyakinkan
Buya, soal gantungan baju itu.
“Buya tidak usah khawatir dengan tempat menggantungkan baju. Di rumah
kemenakan saya, banyak gantungan baju. Dia punya toko pakaian di Pekan
Selasa….”
Menanggapi penjelasan Safar, waktu itu, Buya hanya menggeleng
disertai segaris senyum yang datar. Seakan mempertegas kalau penjelasan
Safar tidak sesuai dengan yang dia maksud.
“Tidak apa-apa. Saya juga penerima upah seperti kalian. Pergi sore,
pulangnya pagi, sudah biasa buat saya. Tak usah merusuhkan hal itu.
Sudah, ya. Saya pulang dulu.” Lalu buya akan mengayuh sepedanya
menyusuri jalan berbatu meninggalkan surau. Meninggalkan kami yang
sering bingung memahami maksud Buya.
Pagi makin dingin. Surau seakan dibungkus embun. Saya, Da Safar, Mak
Kawi, dan Uncu Rustam masih saja saling tatap.
“Saya menduga Buya hanya tidak ingin merepotkan kita?” Uncu Rustam
memulai pembicaraan.
“Kita juga harus berpikir sebaliknya. Jangan-jangan justru kita yang
merepotkan Buya. Mana ada orang yang setulus dia menemui kita setiap
minggu untuk memberi makanan pada rohani kita?” Mak Kawi menanggapi.
“Benar juga. Tim sukses para calon gubernur itu datang menemui kita
hanya pada musim pemilihan kepala daerah saja. Dengan wajah yang
diramah-ramahkan, mereka juga menyuruh kita berkumpul di surau dan kita
akan dilambungkan dengan janji akan memasukkan listrik ke rumah-rumah
dan juga ke surau kita ini. Kalau Buya? Sejak saya masih belum sunat,
beliau juga sudah menjadi guru kita di sini.” Da Safar seperti tak tahan
ingin mengeluhkan perasaannya.
“Itulah masalahnya, Buya sejak dulu sudah sangat berjasa pada kita.
Balasan dari kita apa? Sekalipun setiap selesai ceramah kita memberinya
amplop berisi lima puluh ribu rupiah, sampai di mana guna uang sebanyak
itu sekarang?” Uncu Rustam menimpali.
“Kita kan sudah tahu, yang dicemaskan Buya cuma tempat menggantung
baju. Apa susahnya bagi kita mencarikan tempat menggantungkan baju buat
Buya?” Saya coba mengarahkan pembicaraan ke soal tempat gantungan baju
untuk Buya.
“Kamu jangan tersinggung, Salman,” balas Da Safar sambil menyentuh
lutut saya. “Kamu termuda di sini. Di antara kita, yang sekolah sampai
tamat SMA, juga cuma kamu. Satu lagi, yang pandai dan sering tulis-baca
juga kamu. Yang dekat dengan calon-calon gubernur itu juga kamu. Apalagi
tahun depan kamu rencananya akan kuliah ke kota provinsi. Tapi, sama
saja dengan nol. Kamu juga tidak bisa menjelaskan pada kami apa maksud
gantungan baju yang disampaikan Buya itu.”
“Menurut saya, barangkali Buya ingin punya rumah di kampung kita
ini,” ucap saya setelah agak lama terdiam.
“Punya rumah? Buya ingin dibuatkan rumah?” potong Kawi
“Bukan dibuatkan rumah. Buya ingin punya orang rumah di sini.”
“Punya istri maksudmu, Sal?”
“Kalau kamu benar, Sal, siapa kira-kira yang bisa jadi istri Buya di
kampung kita ini, ya? Buya mau gadis atau janda, ya?” Da Rustam
bertanya-tanya.
PERTANYAAN Da Rustam itu hingga kini belum terjawab.
Sudah sepuluh tahun pula berlalu. Sudah tujuh tahun Buya Mukaram
berpulang ke haribaan Tuhan. Sudah tiga tahun pula saya tidak pulang ke
kampung dingin itu. Sejak calon gubernur yang saya bantu mencari suara
dinyatakan menang, saya dihadiahi beasiswa untuk kuliah. Tamat kuliah,
saya dilatih pula menjadi staf ahlinya. Setelah itu, sebelum saya
melanjutkan kuliah lagi, gubernur saya dipilih jadi menteri (maaf, saya
segan mengatakan kementeriannya). Inilah sebab mengapa saya tidak bisa
pulang selama kurang lebih tiga tahun belakangan.
Kemarin siang, saya diajak Pak Menteri berkunjung ke salah satu
provinsi paling jauh dari ibu kota negeri ini (maaf, saya juga segan
menyebut nama provinsi itu). Katanya, beliau diundang memberi sambutan
sekaligus meresmikan sebuah universitas. Setelah acara selesai, saya
ikut rombongan Pak Menteri beramah-tamah dengan penduduk hingga sore
menjelang.
Sebelum hari benar-benar gelap, salah seorang staf protokoler
memanggil saya. Ia menerangkan perihal Pak Menteri yang akan menginap di
kota itu dan atasannya menyuruh dia menemui saya. Setengah berbisik ia
mendekatkan kepalanya ke kepala saya:
“Demi kelancaran malam nanti, atasan saya meminta Bapak menghubungi
saya di nomor ini,” ia serahkan kartu namanya.
“Kelancaran? Maksud, Saudara?”
“Kami punya hadiah untuk Bapak. Hubungi saja saya nanti. Saya senang
bila nanti saya bisa membantu Bapak menyangkutkan baju….”
Saya tak sempat menanggapinya sebelum ia kemudian berlalu dan hilang
di sela orang yang lalu lalang di lobi hotel tempat saya akan menginap.
Ingatan saya tiba-tiba memajang wajah letih almarhum Buya Mukaram.
Terbayang gigil yang menjalar dari tulang punggung hingga lututnya
ketika mengayuh sepeda di pagi buta. Adakah gerangan hubungan gantungan
baju Buya dengan hadiah yang dimaksud staf itu tadi? Dada saya
berdebar-debar. Bahkan setelah mandi dan makan malam, saya masih
dikuasai debar tak menentu.
Saya tersentak oleh nada dering SMS masuk. Sebuah pesan dari staf
protokoler tadi sore, mendoakan saya agar bisa menikmati istirahat.
Hadiah dari atasannya akan segera sampai.
Sudah lewat jam sepuluh malam. Sudah lama rupanya saya termangu
sendiri dalam kamar hotel. Beberapa menit berikutnya terdengar ketukan
pintu. Dada saya semakin berdebar-debar. ***
Padang, 2010 |