|
Bukan kematian benar menusuk kalbu
Keridlaanmu menerima segala tiba
Tak kutahu setinggi itu atas debu
dan duka maha tuan bertakhta [1]
Di atas panggung, beberapa kotak yang disembunyikan
begitu saja di balik kain hitam, Ranggalawe gugur. Tujuh bidadari tua
mengelilingi tubuhnya yang tegak berdiri—bahkan kematian tak mampu
merubuhkannya. Mereka melempari tubuh yang mematung itu dengan bunga.
Hanya angin malam yang sanggup menyaksikannya. Angin yang sejak 10 tahun
yang lalu menggerakkan rombongan itu dari satu lapangan ke lapangan
yang lain. Dari satu kesepian menuju kesepian berikutnya. Dan malam itu
selesailah semuanya. Angin tak sanggup lagi menggerakkan mereka menuju
pemberhentian berikutnya. Lalu angin pelan-pelan mati. Dan tak mampu
menggerakkan dirinya sendiri.
“Malam ini adalah pertunjukan terakhir kami. Tak ada lagi yang
menginginkan kehadiran kami. Tak ada lagi yang menyaksikan kami. Kami
tak punya alasan lagi untuk berlama-lama di sini.” Seseorang gendut
berkaos hitam membuka acara. Di belakangnya berjajar para aktor
mengenakan kostumnya masing-masing. Wajah-wajah yang tak bahagia telah
disembunyikan sejak sore tadi di balik bedak. Kakek-kakek di balik wajah
Menak Jingga yang merah mencoba berdiri tegak. Ranggalawe yang berdiri
di sampingnya demikian pula. Sebentar lagi mereka akan bertarung untuk
terakhir kalinya.
Lalu pertunjukan pun dimulai setelah beberapa orang naik ke panggung
untuk menyampaikan simpati—sejumla puisi. Mereka berduka atas kematian
dan tak bisa berbuat apa-apa. Tapi siapa sesungguhnya yang harus
bertanggung jawab atas kematian ini? Malam itu tak sebagaimana biasanya,
mereka meninggalkan tobongnya—tobong yang sesungguhnya telah lama
kosong. Kain-kain dekorasi mereka pasang di beberapa penjuru,
layar-layar yang sudah tak sanggup menggambarkan apa-apa. Mereka telah
lama kehilangan warna. Serupa bendera-bendera kematian. Gerbang tobong
juga mereka pasang sebagai penanda merekalah satu-satunya rombongan
ketoprak tobong yang tersisa.
Ratu Kencana Wungu duduk di atas singgasananya. Kursi kayu bercat
merah yang terlambat dibawa masuk ke panggung. Kelihatan karena tak ada
layar untuk menutup pergantian. Semuanya diputuskan untuk dibuka malam
itu. Termasuk kegagalan mereka untuk bertahan sebagai seniman. Kencana
Wungu lantas menembang menyapa yang datang. Patih Logender duduk di
hadapannya, manggut-manggut menerima kenyataan bahwa suara Kencana Wungu
terlalu lirih untuk sebuah pertunjukan di tengah lapang. Yang riuh
rendah oleh suara kendaraan dan pasangan-pasangan muda yang pacaran di
atas sepeda panjang. Rarasati si Patih Dalam tak kebagian kursi. Ia
berdiri saja di samping Kencana Wungu. Sementara para ksatria duduk di
bawah, bersesakan dan saling menutupi: Layang Seta, Layang Kumitir,
Menak Koncar, dan beberapa prajurit tanpa nama alias bala depak yang
senantiasa terdepak. Panggung sudah terlalu sempit untuk menampung
tubuh-tubuh mereka. Negeri dalam keadaan baik-baik saja, demikianlah
yang kutangkap samar-samar dari percakapan mereka. Rakyat hidup makmur
kerta raharja. Tak kurang suatu apa. Mereka tampak gembira dengan
sandiwara itu. Bercakap-cakap diselingi canda dan tawa. Patih Logender
memamerkan kesaktian sepasang anaknya, Seta dan Kumitir. Hanya Adipati
Tuban, Ranggalawe, yang tak kelihatan batang hidungnya. Adipati paling
sakti itu konon sedang bertapa di rumahnya. Mungkin pula tak punya
ongkos berangkat ke Majapahit. Bisa saja.
Kulihat ke belakang. Cukup banyak juga yang datang. Orang-orang yang
sekadar lewat. Atau sejumlah orang yang melayat. Kabar kematian kelompok
ini memang sudah disebar di koran-koran dan facebook. Seorang
anak kecil yang duduk di belakangku bertanya pada bapaknya. Itu apa?
Ketoprak, jawab bapaknya. Lalu Menak Jingga di samping panggung memukul
kepraknya. Rupanya malam itu ia merangkap sebagai dalang sekaligus
tukang keprak. Bunyi keprak itu membangunkan Angkat Buta yang sejak awal
tiduran di belakang gamelan. Ia pun bergegas masuk ke dalam panggung
untuk menyampaikan pesan junjungannya, Menak Jingga. Si Adipati buruk
rupa itu menagih janji sang Ratu Ayu. Dulu semasa ia masih bernama Jaka
Umbaran yang berwajah tampan ia pernah dijanjikan untuk mendapatkan
Kencana Wungu jika berhasil mengalahkan Kebo Marcuet, pemberontak yang
sakti mandraguna. Sang pemberontak berhasil dikalahkan, tapi Jaka
Umbaran terpaksa pulang dengan wajah dan tubuh babak belur. Jika tak ada
Dayun yang menolong mungkin ia sudah lama mati.
Rarasati merobek-robek surat itu. Layang Seta dan Layang Kumitir
tanpa perintah selain karena pongah menghajar utusan dari Blambangan
itu. Angkat Buta berlari ke alun-alun. Angkat Buta selalu menantinya di
sana selama bertahun-tahun. Perang tak terhindarkan. Gantian para bala
dupak mendapatkan ruang. Dengan gagah berani mereka berperang. Melakukan
adegan-adegan berbahaya. Beberapa kali mereka terlontar ke luar
panggung. Terkapar di tanah lapang lalu dengan cepat bangun lagi
mengejar sang lawan. Ada juga prajurit yang kedua tangannya buntung.
Ialah yang paling kerap terlontar keluar panggung. Penonton terbahak dan
bersorak meski adegan perkelahian ini sama sekali tak menawan. Ada pula
yang malah jatuh kasihan.
Bisa ditebak, mereka telah mengulanginya beratus kali, Layang Seta
dan Layang Kumitir kalah. Logender menolongnya dan membiarkan
utusan-utusan Blambangan itu pulang.
Di Lumajang enam perempuan menari-nari. Menari sejadi-jadinya.
Mas mas mas aja diplerok
(Mas mas mas jangan dipelototin)
Mas mas mas aja dipoyoki
(Mas mas mas jangan digodain)
Karepku njaluk diesemi [2]
(Pinginnya minta disenyumin)
Ruang pecah berkeping-keping. Mereka menyebar ke segenap penjuru
membawa piring. Mendatangi penonton satu per satu, menjual cendera mata:
gantungan kunci bertuliskan Ketoprak is the place where we live and
where we die… berlatar orang sendirian mendirikan atap tobong di
langit yang biru cerah. Mereka terus beredar dalam kegelapan. Ada pula
yang membawa bonang dan meminta uang. Lagu berlanjut. Apa saja yang
penting berirama dangdut. Beberapa penonton naik ke panggung dan
bergoyang. Lalu lampu tiba-tiba mati. Gamelan terus dibunyikan. Lagu
terus dinyanyikan. Beberapa orang tampak sibuk mencari kesalahan.
Menyusuri kabel demi kabel. Memeriksa bensin di dalam generator.
Berkali-kali mereka pernah mengalaminya, mengulang kesalahan-kesalahan
yang sama. Berkali-kali mereka ngebut di jalanan masih dengan pakaian
wayang untuk membeli bensin agar pertunjukan tetap bisa dilanjutkan.
Alhamdulillah, lampu mati tak lama. Lampu yang semenjana itu menyala
kembali. Perempuan-perempuan itu sudah kembali ke panggung dan menjadi
istri-istri dari Adipati Menak Koncar. Lalu adegan domestik di tengah
lapangan, bocor-bocor tak karuan. Percakapan yang lamat-lamat itu terus
berlangsung hingga Menak Jingga menabuh keprak untuk menandai
kedatangannya sendiri. Ia masuk ditemani Dayun, abdinya yang setia.
Menak Koncar menyambutnya dengan hangat meski tahu tak berapa lama
lagi mereka akan bertengkar dan ia akan kehilangan Mentarwati, istrinya
yang pertama. Pertengkaran dimulai ketika Menak Jingga meminta bantuan
Menak Koncar untuk mengawinkannya dengan Kencana Wungu. Menak Koncar
meledak marah. Ia tak sanggup membayangkan ratunya yang jelita
bersanding dengan manusia buruk rupa. Mentarwati bersedia mencarikan
jodoh untuk Menak Jingga. Tapi Menak Jingga keras kepala. Sambil
menyembah-nyembah kaki Mentarwati, Menak Jingga terus menyebut-nyebut
nama Kencana Wungu. Mentarwati sebal dan memukul kepala Menak Jingga.
Pertarungan kembali terjadi di atas panggung sempit itu. Kali ini yang
tampil adalah prajurit-prajurit perempuan. Dengan gerak yang luar biasa
kikuk—jangan dibayangkan pertarungan antara Lasmini versus Mantili dalam
film Saur Sepuh—mereka saling pukul dan tusuk. Penonton yang
jumlahnya sudah jauh berkurang kembali terbangun. Bertepuk tangan
menyemangati pertempuran prajurit Lumajang dan Blambangan. Pertempuran
itu berakhir dengan tewasnya Mentarwati. Menak Jingga menusuk tubuh
perempuan itu berali-kali dengan kerisnya. Menak Koncar datang
terlambat. Ia hanya mendapati tubuh istrinya yang dingin dan berlumuran
darah. Ia menangis dan pelan-pelan mengangkat tubuh istrinya. Adegan
yang direncanakan dramatis itu hancur berantakan. Menak Koncar ternyata
tak kuat membopong tubuh perempuan itu. Makan nasi sehari sekali dengan
selingan mie instan ternyata membuat Adipati Lumajang itu kekurangan
tenaga. Tak ada yang datang membantunya. Penonton kembali bersorak.
Mereka menyemangati Menak Koncar dengan tepuk tangan. Akhirnya dengan
susah payah, juga didorong rasa malu, ia berhasil membawa istrinya
keluar panggung. Dan buru-buru dijatuhkannya begitu sampai di tepian
panggung.
Lalu lagu gembira mencoba membangkitkan suasana. Gending Badutan
Sragen: Rewel. Omonga terus terang yen pancen kowe bosen.
Ora perlu kakehan alasan…. (Bicaralah terus terang jika kamu bosan.
Tidak perlu banyak alasan….)
Seorang pelawak masuk ke panggung dan menari sekenanya. Ia pelawak
karena kumisnya mirip Hitler. Entah sejak kapan pelawak-pelawak kita
memakai kumis macam itu. Mungkin sejak mereka menonton Charlie Chaplin.
Mungkin pula suatu kali seorang pelawak pendahulu secara tak sengaja
mengusapkan jelaga di atas bibirnya. Lalu dua kawannya datang menyusul.
Penonton menanti kelucuan apa yang akan mereka munculkan. Tapi tak ada.
Mereka sudah terlalu lelah untuk mencari bahan lawakan. Mereka hanya
bercanda tentang lapar. Mereka pura-pura makan sampai kenyang. Mereka
memesan makanan-makanan terenak yang mereka impikan. Dua bungkus rokok
dilemparkan kepada mereka. Seorang pelawak pun turun ke panggung,
memungutnya. Ia melempar satu bungkus ke arah para penabuh gamelan. Di
tengah mereka berkhayal makan sate kambing datang seorang penonton
memberi amplop. Minta lagu Prau Layar, katanya. Amplop itu pun
dibuka. Berisi duit yang langsung mereka hitung satu per satu.
Lembaran-lembaran uang berwarna merah itu berjumlah tujuh lembar. Semua
orang bertepuk tangan. Mungkin itu adalah saweran paling banyak
yang pernah mereka dapatkan. Sayang mereka mendapatkannya di
pertunjukan terakhirnya.
Malam ini mungkin mereka akan mendapat lebih dari 2.000 rupiah per
orang, tidak seperti malam-malam biasanya. Mereka memanggil juragan
mereka naik ke atas panggung. Sang juragan, lekaki berkaos hitam yang
tadi membuka acara mengucapkan terima kasih atas bentuk simpati
tersebut. Dan ia pun menyanyikan Caping Gunung karya maestro
keroncong Gesang yang baru saja meninggal dunia. Para pelawak
mengingatkan bahwa mereka seharusnya menyanyi Prau Layar. Tapi
lelaki itu mungkin tak mendengarnya. Ia menyanyi Caping Gunung.
Ia meminta para pelawak menari. Tapi tak ada yang menari. Setelah lagu
selesai kembali ia mengulang kata pamitnya. Malam ini kami pamit mati.
Seperti syair sebuah lagu, katanya.
Lilanana pamit mulih….
(Relakanlah aku pamit pulang….)
Lilanana pamit mulih
(Relakan aku pamit)
Pesti kula yen dudu jodhone
(Aku memang bukan jodohmu)
Muga enggal antuk sulih
(Semoga segera mendapat ganti)
Wong sing bisa ngladeni slirane
(Orang yang bisa mendampingimu)
Pancen abor jroning ati
(Memang berat rasanya)
Ninggal ndika wong sing ndak tresnani
(Meninggalkan orang yang kucintai)
Nanging badhe kados pundi
(Tapi mau bagaimana lagi)
Yen kawula saderma nglampahi [3]
(Aku cuma sekadar melakoni)
Lelaki itu kemudian memanggil seorang tamu yang datang dari Jakarta.
Seorang aktivis perempuan yang cantik. Ia meminta perempuan itu
menyampaikan orasinya. Sang perempuan dengan berapi-api mengutuk
kematian-kematian seni tradisi. Ia menyalahkan masyarakat yang tak lagi
menghargainya. Ia menyalahkan pemerintah yang tak pernah merawatnya. Ia
menyalahkan organ dangdut yang mematikan sawah para seniman tradisi.
Lalu ia turun dan pertunjukan kembali berlangsung.
Malam sudah larut. Sebagian besar penonton sudah pulang. Sudah larut
malam pula di Kadipaten Tuban. Sang Adipati Ranggalawe tengah
bercakap-cakap dengan istrinya. Ia merisaukan keadaan Majapahit yang tak
lagi tentram. Percakapan tampak dipercepat. Mungkin karena penonton
yang semakin sedikit. Ranggalawe buru-buru ke sanggar pamujan.
Berdoa dan membakar kemenyan. Ia bersila membelakangi penonton. Sebuah
tembang palaran mengalun keras dari mulutnya. Menak Koncar
datang menemuinya. Melaporkan kebrutalan Menak Jingga yang makin
menjadi-jadi. Menak Koncar menangisi kematian istrinya, menangisi
Lumajang yang sudah berada di genggaman Menak Jingga. Bergetar dada
Ranggalawe mendengar tangisan Menak Koncar, kemenakannya. Segera ia
memanggil Wangsapati ajudannya. “Ambil Payung Tunggul Naga, malam ini
aku akan berangkat ke Lumajang!”
Adegan pertemuan Ranggalawe dan Menak Jingga segera disusun. Menak
Jingga menyambut kedatangan Ranggalawe dengan baik. Ia menghaturkan
hormat pada orang yang paling disegani di Majapahit itu. Ranggalawe
dengan tenang mendengarkan kisah Menak Jingga. Ia bisa mengerti perasaan
Menak Jingga yang kecewa karena ditolak oleh Ratu Kencana Wungu. Dalam
hal ini ia menyalahkan Kencana Wungu yang mengingkari janjinya. Tapi ia
juga mengutuk Menak Jingga yang telah membuat huru-hara di Majapahit.
Maka, dengan segala hormat ia minta Menak Jingga menghentikan
pemberontakannya. Menak Jingga menggelengkan kepalanya. Ia meminta maaf
tak bisa menghentikan semuanya. Maka keduanya pun berhadapan.
Tak ada yang bisa menandingi kesaktian Ranggalawe selama Payung
Tunggul Naga tetap memayunginya. Menak Jingga yang terdesak segera
menghujani Wangsapati si pembawa payung dengan panahnya. Pengawal nahas
itu pun terjungkal dengan beberapa anak panah menancap di tubuhnya.
Ranggalawe terus maju. Ia tak peduli dengan apa-apa lagi. Kematian
Wangsapati begitu melukai hatinya. Dengan cepat ia berhasil menangkap
Menak Jingga. Ia injak kepala adipati yang berwarna merah itu. Menak
Jingga tak bisa bergerak sama sekali. Ia bahkan harus merelakan Gada
Wesi Kuning andalannya direbut oleh Ranggalawe. Tetapi saat Ranggalawe
mengangkat gada itu tiba-tiba tubuhnya kaku. Ia mati. Tubuhnya tanpa
Payung Tunggul Naga adalah tubuh paling lemah yang pernah ada. Ia
kehilangan nyawa karena mengangkat Gada Wesi Kuning. Bidadari-bidadari
dengan rambut panjang terurai segera berlari mengelilinginya. Menak
Jingga memerintahkan agar tubuh pahlawan itu dibawa pulang ke
Blambangan. “Makamkan ia dengan upacara kehormatan!”
Pertunjukan selesai. Pertunjukan terkahir mereka. Dengan cepat mereka
mengemasi barang-barangnya dan pulang. Aku juga. Malam menunjuk pukul
12 tepat. Di jalan aku berpapasan lagi dengan mereka. Ranggalawe
berjalan sendirian lengkap dengan pakaian kebesarannya. Beberapa pemain
lain menyusul di belakangnya. Aku tak tahu ke mana mereka akan pulang
malam ini. Tobong yang sudah 10 tahun mereka diami telah mengusir
mereka. ***
2010
(End notes)
[1] Nisan, puisi karya Chairil Anwar, 1941
[2] Aja Dipleroki, lagu karya Ki Nartosabdho
[3] Pamitan, lagu karya Gesang, 1940 |