|
Anjing mungil itu rebah di jalan.
Serdadu itu menembaknya dengan senapan otomatis.
Kameraku nyaris terlepas. Aku benar-benar kaget.
Baru saja kulihat ia berlari-lari kecil, mengendus-endus pasir, lalu
menengok sekelilingnya seperti bingung.
Aku bahkan belum memotretnya.
Tak berapa lama kudengar jerit kanak-kanak, yang jelas datang dari
rumah itu, dari bangunan warna coklat pasir yang hanya berjarak 20 meter
dari tempatku berdiri sambil memegang kamera ini.
Dengan kalut, bocah laki-laki berusia sekitar enam tahun itu berlari
kencang ke arah anjingnya yang sekarat, sedang perempuan yang mengenakan
burka biru muda dan kuduga Ibunya memanggil-manggil nama putranya
dengan cemas, terdengar seperti “Alef”, tapi yang dipanggil sama sekali
tak peduli dan terus berlari. Setelan biru gelap di tubuhnya membuat
kulit Alef yang putih pucat semakin pucat.
Perempuan itu kalang-kabut mengejar putranya yang baru saja melesat
di depanku.
Alef dirasuki rasa sakit tak terkatakan. Tidak seperti anjingnya yang
langsung terkulai lemas, ia meraung histeris. Tidak seorang pun
mengejarnya, kecuali perempuan itu. Ibu dan anak membawa rasa khawatir
masing-masing. Tidak seorang pun menenangkan mereka, karena semua orang
memilih menenangkan diri sendiri.
Sejumlah orang yang ada di sekitarku segera membalikkan tubuh mereka
dan memunggungi adegan ini, atau pura-pura tak melihat apa yang baru
saja terjadi. Mereka terbiasa memilih buta dan bisu di saat-saat
tertentu. Ketika kamu menanyakan apa yang mereka lihat barusan, satu-dua
orang yang berani bersuara pasti menjawab serentak, “Kami tidak melihat
apa-apa, kecuali langit putih terang. Kami tidak mendengar apa pun,
kecuali ringkik keledai.”
Sebelum serdadu tersebut menembak anjing, aku tengah mengambil
beberapa gambar, membidik tiap sasaran dengan kameraku.
Aku memotret anak-anak, perempuan dan para ibu, yang berdiri di
pintu-pintu rumah mereka atau mondar-mandir di jalanan. Banyak anak-anak
di tempat ini. Tadi kulihat seorang bocah perempuan, mungkin sekitar
lima tahun usianya, menggendong adiknya yang masih bayi di punggung. Aku
tidak melihat perempuan dewasa di dekatnya. Ia berjalan tertatih-tatih
dan terbungkuk-bungkuk menahan beban di punggung, lalu berhenti dan
menatapku penuh selidik.
Aku juga memotret seorang gadis kecil bergaun merah yang melangkah di
lorong sempit, di antara bangunan sewarna pasir itu. Ia sendirian.
Rambutnya yang hitam kecoklatan tampak kusut. Ada bercak putih di kedua
pipinya yang kemerahan. Kaki-kakinya yang tak mengenakan sandal atau
sepatu bersepuh debu. Ia seperti tak memiliki siapa pun di dunia ini.
Kameraku menyambarnya berkali-kali dan ia tidak peduli. Ia terus
berjalan dengan mata melamun.
Kadangkala aku bertanya dalam hati, apa yang terjadi dengan anak-anak
ini kelak, 10 atau 15 tahun mendatang.
Dari potret anak-anak di berbagai tempat di sini kamu akan tahu
seberapa besar kekuatan musuhmu atau siapa yang bakal jadi musuhmu di
masa depan.
Di satu desa, anak-anak bahkan menatap sinis saat kameraku membidik
mereka. Di desa lain, seorang anak perempuan mengintai dari balik pintu
rumahnya dengan menodongkan mobil mainan ke arah kami seolah-olah itu
pistol, sedang abangnya menyongsong kami di depan pintu besi bercat
hijau itu dengan bahasa tubuh seakan-akan musuh yang menggoda dan
berkata, “Hai, coba tangkap saya”, meski ia tertawa. Namun, di beberapa
desa, anak-anak tersenyum dan melambai ke arahku. Aku akan mengirim
beberapa potret mereka untukmu nanti, baik yang bermuka kecut maupun
yang ramah.
Potret-potret ini mengabadikan apa yang pasti sirna. Wajah polos para
bocah laki-laki suatu saat berganti wajah lelaki-lelaki berjenggot,
yang makin lebat dan panjang jenggot mereka makin mereka dihargai.
Anak-anak perempuan lambat laun tinggal kenangan. Mereka tumbuh jadi
perempuan dewasa yang harus melayani keinginan para lelaki, suka ataupun
tidak.
Serdadu itu berdiri di ujung jalan sana, tidak jauh dari anjing yang
sekarat dan ia bersikap seolah-olah tak melakukan apa pun yang telah
mengguncang jiwa seseorang dan memusnahkan jiwa yang lain.
Ia bersikap seakan-akan anjing mati itu memang sudah terbaring di
situ jauh sebelum ia datang, seperti gunung-gunung, hamparan pasir,
padang rumput, udara panas, angin kencang musim dingin dan salju yang
ada di tempat ini, yang jadi bagian dari hidupmu karena lahir dan tumbuh
di negeri ini, yang semestinya ada dan kamu anggap bukan hal penting
lagi.
Usia serdadu itu barangkali 19. Aku memalingkan wajahku ketika ia
spontan melayangkan pandangannya ke arahku, tepatnya ke arah bocah yang
berlari itu, karena kami berada di arah yang sama, dalam posisi sejajar
di garis tembaknya.
Aku juga tidak paham kenapa aku harus terkejut menyaksikan prajurit
menembak seekor anjing. Bukankah anjing itu hanya binatang, makhluk tak
berakal yang bulu-bulu coklatnya bahkan kelihatan kotor tak terurus?
Sebutir peluru telah membunuh makhluk yang sama sekali tidak terlibat
dalam perang ini. Aku tidak akan melaporkannya pada komandan tertinggi
di markas pusat, karena aku tidak berada di bawah wewenangnya. Aku
barangkali akan mengabarkan penembakan anjing ini pada atasanku, yang
selalu membalas dengan jawaban yang sama tiap keluhanku: Maaf, kamu
harus menyaksikan hal semacam ini. Namun, setelah kupikir-pikir,
sebaiknya aku tidak usah menulis surat lagi untuk atasanku, selain
laporan-laporan resmi. Semakin banyak mengeluh, keadaanku justru makin
sulit. Aku bisa dikirim pulang sewaktu-waktu dan itu berarti aku tidak
dapat membayar pengobatan ibuku, kuliah Mark dan cicilan rumah.
Barangkali serdadu itu juga mempunyai ayah atau ibu yang sakit,
barangkali ia tidak punya pilihan masa depan, selain terjebak di tempat
ini, seperti aku dan siapa pun.
Kemarin ia dan pasukannya
menyelamatkan aku saat konvoi kami melewati kawasan musuh. Aku berada di
mobil antipeluru, sedang pertempuran berlangsung di sekitarku.
Jantungku berdegup keras. Kerongkonganku kering. Ini pengalaman
pertamaku terjebak dalam pertempuran bersenjata sebagai satu dari
sedikit orang sipil yang bertugas di sini.
Aku bertanggungjawab untuk mengawasi pembangunan turbin dan tidak
pernah pergi ke mana pun tanpa pengawalan ketat. Aku tidur, makan dan
bekerja bersama orang-orang bersenjata, yang merintis jalannya
pembangunan dengan “membersihkan” tiap wilayah kerjaku sebelum aku
datang.
Kalau kamu bertanya di mana musuh yang menyebut dirinya “pelajar” itu
berada dan seperti apa wujud mereka, aku tidak bisa menjawab. Serangan
mereka begitu tiba-tiba. Mereka pintar bersembunyi. Kamu mendengar
tembakan atau ledakan mortir, tapi tidak akan melihat penembak atau
pelontarnya. Kamu hanya melihat hamparan pasir dan padang rumput, juga
gunung-gunung di kejauhan.
Para “pelajar” melarang anak-anak perempuan bersekolah dan mereka
juga memperkosa perempuan-perempuan muda. Di satu desa, aku bertemu anak
perempuan, 14 tahun usianya, yang tak ingin hidup lagi. Wajahnya
meleleh, seperti coklat mencair. Salah satu “pelajar” menyiram wajah
Shirin dengan air raksa, karena ia nekad bersekolah.
Musuh kami menamakan diri mereka “pelajar”, tapi melarang orang
belajar dan jadi terpelajar. Dulu mereka bekerja sama dengan kami
menghalau tank-tank musuh dari Timur. Namun, tak ada sekutu yang
cuma-cuma. Beberapa orang di sini bahkan terang-terangan berkata tak
ingin kami ada, juga tak ingin para “pelajar” itu berkuasa. Artinya,
mereka tak menginginkan dunia modern juga zaman batu. Dunia macam apa
itu? Barangkali dunia di antaranya, dunia di masa mesin cetak baru saja
ditemukan dan orang masih bepergian dengan naik kereta batu bara. Tetap
saja sebuah dunia yang terbelakang, menurutku.
Begitu suara tembakan berhenti, kami kehilangan tiga prajurit dalam
konvoi pasukan gabungan ini. Ketika kami sampai di benteng, aku merasa
letih luar biasa dan segera mandi. Setelah itu aku makan. Berat badanku
terus bertambah, karena tidak lagi main basket. Katamu, perutku pasti
bertambah tingkatnya. Seperti gedung. Dulu dua lantai, nanti tiga atau
empat lantai.
Serdadu itu seumuran Mark, adikku. Mark kini tinggal di asrama
kampusnya, tidak lagi menyewa apartemen. Kamu tentu sudah melihat potret
kami berdua, yang kukirim di hari Thanksgiving. Ayah Elena,
pacar Mark, memotret kami di rumahnya. Di belakang kami ada seperangkat
drum, kalau kamu melihat potret itu lebih seksama. Ayah Elena gemar
bermain musik. Di rumahnya, selain drum, ada gitar akustik, saksofon,
harmonika, dan piano. Malam itu aku menyanyi, sedang ayah Elena
mengiringiku dengan gitarnya. Suaraku tidak terlalu buruk. Aku
melantunkan lagu Tom Waits, “Romeo is Bleeding”. Dan hari ini kulihat
darah anjing.
Tubuh anjing kecil itu seperti meringkuk dalam genangan saus tomat.
Aku mendadak malas membidikkan kamera. Para serdadu lain di sekitarku
tak acuh. Ada yang melayangkan pandangan sebentar ke arah anjing mati,
lalu kembali memeriksa rumah-rumah atau mengawasi sekeliling.
Jadi bocah tampan inilah pemilik si anjing malang. Andaikata bukan di
sini, aku pasti akan meraih tubuhnya dan memeluknya, membujuknya agar
melupakan rasa sedih, seperti biasa kulakukan terhadapmu saat kamu
murung atau gelisah. Aku mungkin akan membelikannya mainan atau seekor
anjing baru, mungkin Golden Retriever yang ramah dan jinak. Aku juga
akan membuatkan makam yang layak untuk anjingnya yang mati, dengan nisan
bertuliskan nama anjing itu. Aku akan membiarkannya menangis sampai
puas di situ dan mengucap selamat tinggal untuk anjingnya. Tapi di Bala
Murghab tidak ada makam yang layak untuk anjing-anjing kesayangan yang
mati, tidak ada boneka-boneka di gundukan pasir sebagai tanda kasih dari
yang ditinggalkan, tidak ada patung granit berbentuk anjing dan ukiran
kata-kata indah untuk yang mati dan dikenang.
Anak laki-laki itu hampir sampai di muka tubuh anjingnya. Tapi
serdadu itu tak membiarkannya menyentuh apa yang ia inginkan. Sebelum
tangan kecilnya yang pucat menyentuh bangkai anjing kesayangannya,
kulihat serdadu tersebut cepat-cepat meraih dan melempar bangkai tadi
sejauh mungkin, ke seberang jalan.
Darah anjing menetes ke tanah, juga bersemburat di udara.
Bangkai anjing mendarat di muka seorang lelaki tua. Ia kaget, lalu
mundur beberapa langkah dan aku yakin, ujung jubahnya terpercik darah
anjing mati. Kulihat ia pun buru-buru masuk rumah.
Alef, namanya memang terdengar seperti “Alef”, menangis keras.
Tubuhnya menggigil. Perempuan yang kusangka Ibunya itu telah berada di
sisinya, segera memeluk Alef, lalu membawanya menjauh dari genangan
darah anjing. Alef terus menangis. Perempuan itu terus membujuk dan tak
berani menatap ke arahku saat ia bersama putranya kembali melintas di
depanku. Perempuan itu bergegas menuntun putranya yang terisak-isak. Aku
tidak memotret mereka. Tiba-tiba aku kehilangan selera memotret.
Lima hari lagi aku kembali ke Herat, kembali ke markas pasukan
Italia. Kadangkala aku bisa minum anggur di barak mereka, sedikit
mengobati jemu. Tapi di markas pasukan Amerika, tak ada sekaleng bir
pun. Jenderal McChrystal melarang pasukannya meneguk minuman beralkohol.
Aku juga tidak bisa sering-sering menulis surat untukmu, Honey.
Akses internet tidak selalu ada untuk menulis surat. Satu komputer pun
kami pakai bergantian. Sinyal teleponku tidak selalu bagus, sehingga aku
jarang menghubungimu.
Aku tidur di ranjang susun. Satu barak tidur kadang berisi sebelas
orang. Suara orang buang gas terdengar tiap malam. Baunya membuat akal
sehatmu hilang mendadak. Bau busuk menyebabkan aku terkadang ingin
berbuat busuk: kubayangkan menggantung sekantong kotoran keledai tepat
di depan hidung mereka yang lelap, biar mereka mimpi berenang di
kubangannya dan mengigau sepanjang malam.
Empat bulan lagi aku cuti. Aku ingin menonton film komedi dan makan popcorn.
Apakah kamu bisa mengambil cuti juga, pulang ke rumah dan kita
berkumpul dengan teman-teman lama? Waktu Thanksgiving, kamu
tidak pulang….
Kuhela napas panjang tanpa sadar. Aku sedikit lelah. Udara terasa
panas menyengat, meski angin dingin bertiup.
Alef dan Ibunya tiada tampak lagi. Tidak seorang pun berani menyentuh
bangkai anjing di seberang sana. Serdadu yang menembak anjing tadi
tiba-tiba memberi isyarat padaku. Ia minta dipotret. ***
|