|
Lolong anjing terdengar di seluruh kota, bahkan dari
jarak meluluh jauh. Membayang moncong-moncongnya mendongak ke kegelapan
langit malam. Kekelaman tersaput kepulan asap menghitam dari
gedung-gedung tinggi kotak-kotak nyala neon. Bagai bintang-bintang segi
empat di antara mega mendung paling gulita. Bau api yang membakar
meruap, dan api terus berkobar. “Adakah anjing yang manis, sayangku…?“
Suara di balik teriakan-teriakan parau. Adakah cinta telah berganti
rupa, “…dan engkau tetap anjing kecil kesayanganku, manisku… manisku…?“
Lirih suaranya seperti lagu 60-an.
Bahkan anjing pun bisa menjadi lagu.
Juga lagu tentangmu…
Anjing itu hanya mondar-mandir dari kegelapan gerumbul ke pinggir
jalan.
Mengibas-ibaskan ekor. Di pinggir jalan menoleh kiri-kanan, seperti ada
yang ditunggu. Masuk ke gerumbul gelap dengan suara yang
meringik-ringik. Suara serak medok terdengar membisik, “Ssstt… tidak ada
apa-apa, Bujel….” Suara seorang perempuan yang seperti kebanyakan
berteriak. Mengelus-elus kepala si anjing yang meringkuk di pangkuannya.
Mengibas-ibaskan ekor. Nyalang matanya seperti ketakutan.
Di jalan beraspal menggelap sesekali melintas deru panser mirip katak
raksasa, dicercahi cahaya neon dari bawah jalan layang. Lampunya
menyorot kelengangan jalan lingkar itu. Di kejauhan sana menerang cahaya
memerah kobaran api. Sesekali terdengar suara tembakan. Sudah dua hari
ini daerah pinggiran itu tersaput suasana mencekam. Hampir-hampir tak
ada suara, kecuali ringik anjing dan bisik-bisik. Lalu titik-titik api
nyala rokok. Gumam tinggal igau, “Mampir, Mas….”
Hanya sesekali saat kereta api menderu di belakang gerumbul,
tampaklah orang-orang di gerumbul itu tersorot lampu lokomotif. Mereka
menepi dari rel, dari deru yang menerpakan angin. Mereka hampir semua
perempuan, kecuali para waria. Berdandan bagai menyalakan tubuh, berias
pupur gincu menjalangkan muka. Aroma pewangi sedap malam merekalah yang
sering dikira bau dedemit oleh pengguna jalan pada saat normal. Apalagi
pada saat mencekam, mungkin bulu kuduk tentara pun jadi meremang. Tentu
tidak, bagi si Bujel yang juga beraroma sama.
“Bujel dulu saya temukan masih sekepal,” kata si induk semang yang
selalu membanggakan si anjing jantan berkulit hitam putih. “Waktu itu
beras masih murah….”
“Sekarang zaman repot nasi….” sahut perempuan lain.
“Repot nasi?” kikik waria, “lapor mati…!”
“Kemarin-kemarin di sini masih ramai….”
“Sekarang sepi….”
“Sepi?” kikik, “…mati…!”
Ringik.
“Ssstt….”
Ada gubug-gubug karton di antara gerumbul, dan ada suara batuk-batuk
lelaki. Dan ia duduk di muka penutup plastik pintu gubugnya.
***
“Kamu masih muda, dan kamu begitu manis….” Tapi kamu begitu tak
terurus. Sebenarnya aku mau mengurusmu, tapi bagaimana mungkin di tempat
seperti ini. Kecuali kalau kamu mau mengikuti ajakanku, pulang ke desa.
Desa terpencil dan rumah kecil. Lihatlah senangnya kamu melucu, seperti
yang kau bilang. Rumah, besar atau kecil tetap namanya rumah. Gubug
kecil atau gedung tinggi, tetap namanya rumah. Senangnya kalau setiap
orang punya pandangan seperti dirimu. Hidup tidak ada persoalan.
Terutama kehidupan di desa.
Kita seperti ingin memeluk tubuh mereka.
Setelah mendekap tubuh suami.
Atau tubuhmu….
Tubuh para blandong penebang kayu jati, di daerah pegunungan. Daerah
yang sulit karena tanahnya luas berbukit, membuat masyarakat di sana
hidup bergotong-royong.
Tubuh para petani di ranah tengah, ranah pertanian. Ranah yang subur
makmur, karena bahkan batang ditanam tumbuh. Membuat masyarakatnya suka
berpesta, karena setiap panen tiba mereka melakukan kaul selamatan.
Tubuh para nelayan di wilayah pantai, wilayah kelautan. Wilayah para
nelayan menarung nasib di tengah laut, antara hidup dan mati. Membuat
masyarakatnya peka terhadap perkara kematian.
Ya, kehidupan kami di desa-desa itu tidak ada persoalan. Tapi begitu
datang anjing-anjing kota, persoalan pun muncul. Mereka melolong di
mana-mana, menguasai setiap jengkal tanah dengan lolong melengking
setinggi langit. Berak di mana-mana, meneteskan kenajisan liur.
Beranak-pinak. Bayangan moncong-moncong anjing begitu mencemaskan,
membuat kami hidup dalam ketakutan. Kami tersisih dan tersingkir,
kehilangan tanah atas pemilikan karena penguasaan para anjing kota.
(Birokrasi cukup hingga RT, apakah anjing-anjing itu musti dibasmi?).
“Siapa takut…,” si Bujel seakan mendusin dalam ringiknya.
“Aje gilee…!” celoteh rekan waria.
Lalu tohok perempuan, “Gile luh…”
“Ya, kenapa kita takut…?” decahnya, “karena kita diberi takut, tapi
kenapa takut kita tidak kepada yang memberi takut?”
“Ada setaan…!”
“Hi hii, takut luuh…?!”
Sumpahnya, “Anjing, luuh…!!”
Oo, kutukan pada ketakutan. Pada kematian. Kenapa tidak takut kepada
hidup dan yang memberi kehidupan?
Lihatlah, kita mengajarkan cara hidup anjing….
Belum lagi cara hidup kenajisan, yang membuat anak-anak kami
menirukan bayangan moncong anjing yang melolong. Mencoba meneteskan liur
di kota, lalu berak di desa. Menirukan gambar dalam ponsel, tidur dan
bergaul-gaul sepanjang hari. Hidup dari perut ke bawah, tanpa kepala.
Tanpa hati, menjual segala yang bisa dijual, membeli semua yang bisa
dibeli. Mengubah keindahan menjadi kemewahan. “Tak ada anjing
semanis engkau,” desahnya di antara celoteh dan kikik tawa. Adakah
teknologi bisa menciptakan cinta, “Dan kau tetap anjing manisku,
sayangku… sayangku….”
***
Oo, aku percaya pada kesetiaanmu. Kesetiaan anjing manis. Bahkan
dengan penciumannya tahu, mana laki-laki baik dan mana laki-laki tak
punya hati.
Seperti pernah terjadi pada satu malam, si Bujel gelisah saat seorang
laki-laki datang untukku. Menggonggong-gonggong, meringik-ringik.
Berlarian ke sana kemari. Bahkan mau menggigit kaki si Lelaki. Saat itu
aku mengusirnya dengan sumpah serapah. Tapi si Bujel terus menggonggong
dan meringik. Siapa sangka di dalam gubug laki-laki itu memperdayaku,
memreteli perhiasan tabunganku dan menguras uang makanku.
Berbeda saat kau datang dari arah stasiun kota, dengan jaket lusuh,
muka lebam dan tubuh berdarah. Si Bujel meringik-ringik menangisi,
menjilati lukamu, mengingus-ingus mukamu. Aku segera memapahmu masuk
gubug, membasuh lukamu. Dan aku berjanji mau mengurusmu bagai Bujel.
Lihatlah begitu muda dan imut dirimu. Mirip Si Bujel, sayangku…
sayangku….
Kau sama sekali bukan para anjing malam penjarah…. Kau lebih mirip
anak-anak muda yang menghadapi moncong senjata dengan kata….
“Aku bahkan melihat hatimu yang bercahaya di dadamu….” Pertanda
bahkan Bujel bisa melihat yang baik dan yang batil. Ia tidak melolong
seperti anjing-anjing lain, yang seolah ikut berpesta atas pembakaran
kota. Mungkin bahkan Bujel tahu, siapa tangan yang sengaja menyulutkan
api untuk membakar amarah. Lihatlah, dalam rebah nyalang matamu tetap
menyalakan api amarah. Meski ada satu titik cahaya, berharap satu
kebahagiaan dalam kehidupan sesama esok hari.
Ah, apakah kau mengerti bagaimanakah kebahagiaan. Bahwa: kebahagiaan
adalah buah yang dipetik dari pohon tanggung jawab. Selebihnya
hanya Tuhan yang tahu setiap yang hidup.
Oo, bagiku tidak ada kebahagiaan, yang ada susah sedikit dan senang
sedikit. Hidup yang penting dilakoni, susah dan senang sama saja. Karena
hanya itu isi hidup, susah atau senang, yang batasnya bagai kulit ari.
Tapi entah kenapa begitu kau datang, aku merasakan seperti melahirkan
anak yang belum pernah aku kandung. “Apakah ini yang disebut
kebahagiaan…?”
Betapa pun semua ini harus aku katakan.
Kepada semua pecinta hidup.
Juga kepadamu….
Apakah kamu termasuk di antara mereka, yang meneriakkan kemenangan
tapi sesungguhnya itu kemenangan paling sunyi. Kalau begitu apa
sebenarnya perbedaan kalah dan menang. Kenapa manusia memburu manusia.
Sejak Musa, Isa, Muhammad. Hingga engkau, sayangku… sayangku…. Kenapa
engkau diburu hanya karena perkara membasuh muka. Sungguh aku tidak
mengerti, saat kau berkata bahwa itu semata-mata karena persoalan
kekuasaan.
Oo, bagaimanakah wajah kekuasaan yang sebenarnya?
***
Kereta api malam kembali menyorotkan cahaya, menerangi gulita.
Menderu dan menderak. Kemudian gelap kembali menyaput. Panik ringik.
Dari kegelapan rel memanjang tampak sosoksosok bergerak semakin
mendekat. Api menyembur ke arah gerumbul, membakar gubug-gubug. Gonggong
gelisah.
Teriakan-teriakan ketakutan, lari dan lari hanya pilihan oleh perburuan
manusia atas manusia. Suara tembakan ke udara berkali-kali. Aku lihat
engkau tertatih lari menembus kegelapan. Dalam semburan api, aku lihat
engkau tertegak di atas rel bersamaan rentetan tembakan.
Aku tercekat dan hanya bisa menyebut nama Tuhanku….
Aku ingin memelukmu Tuhanku.
Memeluk tubuhku sendiri.
Juga tubuhmu….
Wangi sedap malam bercampur bau mesiu, aroma kematian itu! ***
Tegal, 6 Juli 2010
Untuk penyair Wiji Tukul, Pahlawan
Reformasi. |