|
#1 Tiba-tiba kau mengajakku bertaruh, mana yang lebih sakti antara kau dan peniup seruling dari Hamelin itu? Setahuku kau tidak suka tikus. Kau akan mulai menjerit manakala mendengar tikus-tikus mulai mencicit. Itu hari pertama kita ditempatkan di sini, dalam satu kamar yang cukup sempit. Satu ranjang yang bertingkat, dua meja dan satu lemari yang kemudian kita bagi sama rata, menjadi pemandangan yang entah berapa tahun lagi akan sama-sama kita rasakan. Besoknya kau mengajakku ke minimarket, membeli perangkap tikus dan keju. Katamu, ini agar tikus-tikus itu tahu dan mengerti, untuk tidak berani-berani lagi masuk ke kamar ini. Tetapi, kau yang tidak tahu bahwa tikus suka keju itu cuma mitos. Dan bahwa tikus-tikus itu besarnya seukuran kucing dan barang tentu perangkap semacam ini tidak akan mampu menjebaknya. Tetapi, ini bukan tentang tikus katamu. Kau menyebutnya domba. Dan kaulah penggembala. Mungkin saja kau tengah terlalu sering membaca Mazmur---kisah Daud. Aku sering melihat deretan kitab-kitab di meja belajarmu. Kau menyebut dirimu pluralis. Tetapi aku lebih suka memanggilmu sinkretis. "Agamaku cinta. Ibadahku juga bercinta." Katamu suatu saat sambil mengepas-ngepaskan komposisi make-up yang tengah kau kenakan. "Mau ikut?" "Ke mana?" "Tentu saja mencari domba, Kawan…" Kau tersenyum nakal. Setengah binal. "Dan tentu tidak perlu seruling," ucapmu lagi sebelum kau menutup pintu kemudian melenggang pergi ke dunia domba-dombamu itu. #2 Secara fisik, aku akui kau memang cantik. Bahkan sangat cantik. Setiap kita jalan berdua, entah itu ke kampus atau menemanimu jalan-jalan ke mall, semua mata laki-laki pasti mampir di tubuhmu barang beberapa detik. Mulai dari remaja sampai yang tua bangka pasti tergoda melihat tonjolan-tonjolan yang sengaja kau pamerkan. Mungkin mereka mulai menebak-nebak berapa ukuran yang kau kenakan atau malah kau sudah telanjang di kepala mereka. Tak mengenakan sedikitpun helai benang. "Kau tidak risih, Rin?" tanyaku yang mulai merasa tidak nyaman dengan situasi ini. "Kenapa harus risih? Aku menikmati ini. Wanita itu harus tampil seksi, Na. Begitulah kodratnya." Jawabmu santai seperti tidak merasa bersalah. "Dari kitab mana kaudapatkan teori itu?" tanyaku penasaran. "Tidak semua hal di dunia ini aku pelajari dari kitab…," kau diam sejenak, menghela napas dua kali. "Hidup bukan sebuah konsep di atas kertas." Lanjutmu tanpa memberitahuku lebih jelas apa yang kau maksudkan. #3 Suatu kali aku memandangi cermin lama-lama. Membanding-bandingkan diriku dan dirimu. Ukuran tubuh, bibir, dan muka. Lekuk-lekuk yang selama ini kusembunyikan coba kutelusuri. "Kau cantik.." Suaramu mengagetkanku. Aku salah tingkah sambil membenahi kerudungku yang lebar---menutupi tonjolan-tonjolan di tubuhku. "lebih cantik lagi kalau kau lepas saja kerudungmu itu," lanjutmu sinis. Kau memang cukup anti dengan kerudung ini. Berkali-kali kau sok menasehatiku agar jangan memakai kerudung yang panjang-panjang. "Seperti telapak meja saja," katamu mengejekku. "Biarin! Yang penting orang tahu kepunyaanku itu jauh lebih mahal harganya. Tidak bebas dipandang. Tidak bebas dipegang seperti barang-barang dagangan yang tengah diobral, dibanting harga dan bebas ditawar sesukanya!" "Kamu menyindirku?!" "O, syukurlah jika kau tersindir!" Dan kita bertengkar malam itu. Kau pergi keluar dengan ekspresi kemarahan. Padahal sudah hampir jam dua belas malam. Tentunya kau tahu peraturan asrama ini, tetapi kau langgar juga. Aku tidak tidur malam itu, cemas memikirkanmu. Aku menunggumu pulang, tetapi sampai pagi kau tak kunjung datang. Tahu-tahu ketika kubuka pintu, kau tergeletak dengan lugu. Kau masih belum sadar. Kemudian aku menyeretmu masuk ke dalam kamar. Mulutmu bau sekali, pasti kau mabuk-mabukkan lagi. #4 Di balik keangkuhanmu itu, kau seperti anak kecil. Emosimu mudah sekali meledak. Tak jarang meja kau gebrak, dan gumpalan kertas yang habis kau remat tampak berserak. Aku tidak tahu kau sedang menulis apa. Tetapi setiap kali punya waktu luang, kau tampak menghabiskan waktu berjam-jam di meja belajarmu---,menulis sesuatu. Kadang-kadang aku berusaha mengintip, tetapi kau selalu tahu dan memandangku dengan steorotip, "Hanya pencuri yang diam-diam ingin tahu rahasia orang lain!" Untuk kesekian kali kita bertengkar, karena kau baru pulang tengah malam, menggedor pintu lalu meracau,"Buka pintunya buka!" Aku membuka pintu dengan rasa sabar. Tetapi kau malah menghardikku dengan kasar. Rambutmu awut-awutan. Mukamu pun seperti kesetanan. "Kenapa lama sekali sih ngebukain pintunya?!" "Aku sudah tidur, Rin…" "Jam segini sudah tidur? Dasar anak rumahan!" "Setidaknya bukan murahan…" "Apa kamu bilang?! Kamu bilang aku murahan?!" "Aku tidak bilang begitu. Tetapi bukan salahku jika kau menyimpulkan…" Plaak! "Kerudungmu itu pasti untuk menutupi rasa malumu kan? Aku tahu semuanya, Na! Aku membaca buku harianmu itu, kau sudah tidak perawan lagi?!" selorohmu dengan keras. Kau ambruk setelahnya dan tanpa sadar telah membuat airmataku mengalir deras. #5 Domba-domba di rerumputan, akulah gembala kalian. Kemari, kemarilah. Dengarkanlah aku bernyanyi. Nikmati setiap gairah cinta yang aku tawarkan. Aku kira kau sedang membaca puisi. Tahunya kau sedang bermimpi---mengigau tentang domba lagi. Lucu sekali posisi tidurmu. Tanganmu menangkup di dada, dan sesekali membuka, berpindah-pindah, menghadap kiri dan kanan. Spreimu sudah berantakan. Bantal yang seharusnya di kepalamu sudah tergeletak di lantai. Ah, tubuhmu memang seksi sekali. Hampir setiap malam aku menyaksikanmu tidur dengan cara seperti ini. Kau hanya mengenakan celana dalam, memperlihatkan kakimu yang begitu seksi. Dan kau tidak mengenakan bra sama sekali, hanya kaus dalam mini yang memperlihatkan lebih dari setengah dadamu yang tampak begitu menantang. Aku pikir jika ada laki-laki yang melihat ini, kelaminnya pasti akan langsung menegang. Liurnya berlinang. Dan tak menunggu waktu lagi, ia akan langsung menerkam untuk merasakan setiap jengkal tubuhmu. Kau bilang aku tak perawan. Kau benar. Aku memang sudah tak perawan. Aku pernah menjadi domba yang tersesat, dan memilih gembala yang salah. Aku pikir serulingnya adalah hatinya yang ia tawarkan untukku. Ternyata, serulingnya cuma bunyi-bunyian yang melenakan demi menunggu bulu-buluku tumbuh. Kemudian ia cukur sampai tak bersisa. Setelah itu, ia biarkan aku telanjang. Membawa kenang dengan airmata yang berlinang, sampai sekarang. Mungkin aku munafik, seperti katamu. Kerudung ini mungkin saja cuma alat pelarian agar tak ada laki-laki lain yang mendekat dengan niat permainan. Kalaulah boleh aku memilih, aku ingin hidup sendirian saja, menghabiskan sisa umurku yang entah akan mencapai angka berapa. Aku sudah tidak bisa memikirkan bagaimana rasanya mencintai, dengan laki-laki seperti apapun. Sebab selalu akan muncul bayangan, ia hanyalah gembala palsu yang kembali akan mencukur bulu-buluku. Kemudian meninggalkan aku. #6 Siang itu, aku pulang tiba-tiba. Kubuka pintu kamar dan aku saksikan kau sedang bercumbu dengan seorang lelaki. Kau sudah hampir telanjang. Dan entah sudah sejauh mana tubuhmu telah digeranyang. Aku marah. Marah sekali. Aku terluka. Tetapi aku tak tahu kenapa aku bisa terlukai. Kau tampak tergesa mengenakan baju dan celana, sementara lelaki kau itu tampak menutupi tubuhnya dengan selimut yang aku belikan di hari ulangtahunmu. Aku masih ingat ekspresimu saat membuka hadiah dariku saat itu. Senyum lugu seperti anak-anak yang baru dibelikan permen oleh ibunya. Kau tampak sangat senang. Aku pun sangat senang. Sengaja aku belikan itu karena aku tidak tahan melihat kau tidur kedinginan dengan pakaian superminimu itu. Atau mungkin, lama-lama aku juga takut tergoda dengan tubuh seksi yang kerap kau pamerkan itu. Kau berusaha meminta maaf kepadaku. Tetapi aku menggeleng dengan airmata yang sudah berlinang di luar kesadaranku. Aku juga tidak mengerti kenapa aku menangis, dan untuk apa aku menangis. Toh, bukankah aku sudah tahu kebiasaanmu yang kerap bercinta dengan para lelaki setiap saat kau mau? Aku limbung. Aku berlari saja, sekencang-kencangnya. Kau tampak berusaha mengejarku sampai lelaki itu sepertinya menahan lenganmu. #7 Domba-domba dalam suratmu. Domba-domba dalam suratku. Sejak saat itu, aku tak pernah melihatmu lagi. Hanya sebuah surat yang kautinggalkan untukku. Kau merasa bersalah lantas berjanji takkan mengulanginya. Kau bilang kau tak punya muka. Makanya, kau memutuskan untuk pergi saja dengan membawa seluruh barang-barang dan kenangan. Termasuk selimut hadiah dariku itu. Aku memang tidak berusaha mencarimu. Aku pun tidak berusaha memaafkanmu. Tetapi aku tidak bilang aku tidak merindukanmu. Aku merindukanmu. Ya, aku merindukanmu. Aku kehilangan momen di setiap saat aku harus merapikan selimutmu saat kau tidur. Aku kehilangan gedoranmu ke pintu di setiap malam-malam kepergianku. Aku kehilangan rutinitasku untuk menunggumu dari setiap penggembelaanmu. Aku kehilanganmu. Aku lihat mejamu lagi. Coretan-coretanmu masih tertinggal di situ. Kutipan yang sering kauucapkan tentang domba-domba itu. Tetapi, sekarang ini, akulah yang merasa menjadi domba yang tersesat di penggembalaan lain, tanpamu. Aku kalap. Aku merasa tersalah sebab perasaan ini telah begitu jauh salah melangkah. Sepertinya, aku mencintaimu. Sangat mencintaimu. #8 Hampir dua tahun setelah itu, aku dengar kau telah menikah. Entah dengan lelaki mana. Seharusnya aku bahagia. Seharusnya aku turut mendoakan kebahagiaanmu. Tetapi, tetap saja ada bagian dari hatiku yang merasa sakit. Tetap saja ada perasaanku yang ingin meneriakkan namamu. Memprotes ketidakbertanggungjawanmu yang telah membuatku menjadi salah satu dombamu. Kau adalah gembalaku… seharusnya kau adalah gembalaku yang menuntunku ke hijau rerumputan! Malam yang remang-remang. Musik yang remang-remang. Aku pun sudah menuruti nasehatmu untuk melepaskan kerudungku. Aku tidak ingin menjadi munafik lagi. Aku tidak ingin lagi berlindung di balik kerudung ini. Toh, bukankah aku tampak lebih cantik berpenampilan begini, dengan tipe busana yang sering kau kenakan? Sekarang, giliranku yang mengajakmu bertaruh. Mana yang lebih sakti antara kau, aku, atau peniup seruling dari Hamelin itu? *** |