Logo Sriti Home | Cerpen | Tentang | Kontak
 


 








 
 

Sakit

Cerpen Eka Kurniawan Silakan Simak!
Dimuat di Media Indonesia Silakan Kunjungi Situsnya! 10/26/2003 Telah Disimak 1670 kali

 

BENCI juga aku dengan tubuh garing dan sekarat ini. Kalau bisa, ingin sekali kutukar dagingku dengan daging sapi, atau babi yang gemuk. Sempat juga kutawar-tawarkan, tetapi tak ada yang mau.

Aku berpikir seseorang mengguna-gunai aku. Barangkali ada orang yang sirik dengan keberhasilan-keberhasilan tak seberapaku. Aku tak mengenal seorang pun dukun untuk menangkalnya, lagi pula akan memalukan jika kucari-cari. Maka, aku hanya meyakin-yakinkan diri bahwa aku orang beriman. Punya pahala. Sering tobat. Konon iman bisa menangkal guna-guna.

Berkali-kali aku harus terkapar meriang di tempat tidur, sambil mengakui kekurangan imanku. Teman-teman datang menengok satu per satu, membawa roti sobek, jeruk, dan pisang ambon yang tak membangkitkan seleraku. Roti, jeruk, dan pisang itu akhirnya mereka makan sendiri, dan sebagai gantinya mereka memberiku nasihat-nasihat membosankan. Seorang teman memberiku kotak kosong bungkus obat. Bungkus obat! Aku bahkan tak tahu bungkus obat apakah itu, sekujur kotak dipenuhi tulisan China melulu, tetapi sahabatku yang penyabar itu meyakinkanku bahwa kakeknya sakit menahun dan akhirnya sembuh setelah minum obat tersebut. Aku tak seberapa tertarik, sebab aku tahu setelah sehat sebentar, kakeknya mati kemudian. Temanku yang lain menyuruhku mendatangi dokter khusus kelamin, sambil mengkhotbahiku bahwa seluruh penyakit datang dari kelamin. Bahkan sistem ekonomi dan politik juga dipengaruhi pandangan kita tentang kelamin, katanya. Aku harus meyakinkannya dengan sungguh-sungguh bahwa kelaminku baik-baik saja.

Telah berbulan-bulan aku menderita penyakit-penyakit aneh yang menderitakan. Aneh karena tak juga kunjung sembuh, meskipun penyakit-penyakit itu tampak sepele sekali. Terus-terusan batuk, flu, meriang, pusing, sakit persendian, sesak napas, dan sakit kepala. Kadang mereka datang satu per satu, lain kali berombongan, seolah tubuhku tempat pelancongan mereka. Dan, bukannya aku tak ada usaha sama sekali untuk menyembuhkannya. Telah kudatangi tiga atau empat dokter, mereka memberi berbungkus-bungkus obat yang tak manjur sama sekali. Telah kuminum jamu dan ramuan-ramuan yang kubaca serampangan di rubrik sehat majalah dan koran. Aku bahkan mengikuti semacam transfer energi, yang hanya menyenang-nyenangkan penyembuhku daripada diriku. Karena mulai bosan dengan semua ketidakberhasilan upaya melawan penyakitku, aku jadi begitu pasrah dan mulai meragukan kesembuhanku sendiri.

Aku mulai mencoba hidup damai berdampingan dengan penyakitku itu. Menjadikannya kawan yang sejati. Tetapi ini pun bukan tanpa masalah. Sahabat-sahabatku yang baik sama sekali tak bisa membiarkan aku membohongi diri sendiri. Mereka melarangku terkena angin malam, yang bisa membuatku masuk angin. Mereka menghindarkanku dari pekerjaan-pekerjaan ruwet, yang membuat migrainku kambuh.

Yang lebih menjengkelkanku, mereka mulai menyangkut-pautkanku dengan sweater yang kukenakan. Sungguh, aku memang tak bisa melepas sweater itu sejak sering sakit. Sweater pelindung. Aku dan sweater, mereka mulai melihatnya seperti Donald Bebek dan baju pelaut, Bima dengan kain kotak-kotak. Mereka pikir aku tokoh kartun yang tak pernah ganti baju. Betapa menyebalkan, dan aku mulai menggerutui kembali sakit ini, mendamba sembuh.

***

Sebenarnya kalau dipikir-pikir, keluargaku memang punya riwayat banyak penyakit. Dari generasi ke generasi, bukan uang yang diwariskan, melainkan penyakit. Aku masih mengenang kematian nenek yang mati karena TBC dan asma sekaligus. Karena nenek mati, kakek juga mati. Ayah selalu bilang bahwa kakek mati karena kesepian, aku berpikir sebaliknya, kakek mati karena sakit hati. Waktu aku ke rumah sakit, aku melihat poster yang bilang bahwa TBC bisa sembuh dalam enam bulan pengobatan tanpa henti. Enam bulan! Nenek menderitanya sepanjang tiga puluh sembilan bulan, dan tak pernah lihat poster itu. Betapa dunia yang edan?

Aku juga jadi terkenang bibiku yang cantik itu. Ia mau kawin waktu tiba-tiba sakit demam berdarah dan mati. Kasihan sekali tunangannya. Beberapa waktu lalu adikku menderita sakit yang sama, dan sembuh setelah dua minggu di rumah sakit. Tetapi, bertahun-tahun lalu, kami tak mampu memberi pengobatan yang layak buat bibi. Aku masih ingat betapa miskinnya kami waktu itu sampai ayah harus kerja jadi tukang cukur, dan ibu mesti ngurus anak orang lain padahal anaknya sendiri ada delapan!

Dan, biar kuceritakan keluarga bibiku yang lain. Anaknya ada sepuluh mati satu. Seluruh keluarga menderita gatal-gatal, dan seluruh tubuh mereka dipenuhi bentol-bentol bernanah. Mereka petani miskin di daerah transmigrasi. Ketika salah seorang dari sepupuku datang berkunjung, pernah juga kami tertulari. Kami harus bolak-balik ke puskesmas untuk memperoleh suntikan, ke toko obat untuk membeli bedak, dan nenek membuat adonan tepung beras dan jahe, sebelum kami terbebas dari gatal-gatal yang lebih menggelikan daripada dikitik-kitik itu. Belum lama ini aku mendengar bibiku itu akhirnya mati, dikubur di tanah rantau. Barangkali ia mati karena lelah menggaruk sepanjang lima puluh dua tahun hidupnya. Siapa tahu?

Seolah-olah seluruh keluarga dikutuk untuk mati karena sakit. Atau, mungkin kami anak cucu keturunan Nabi Ayub yang sakit-sakitan itu.

Kini di sinilah aku, sakit dan tampaknya hidupku akan berakhir. Aku berpikir mungkin sebenarnya penyakitku sungguh-sungguh bisa disembuhkan. Tetapi, masalahnya penyakitku begitu ruwet, serupa puisi kesedihan. Obatnya barangkali ada di suatu tempat, begitu mahal sehingga bahkan kami tak pernah mendengarnya. Pernah juga kudengar penyakit-penyakit aneh di radio dua band yang tak seharusnya bicara penyakit, dan kucoba kucocokkan dengan gejala-gejalaku. Aku membuat diagnosis sendiri dan merasa yakin atas dua atau tiga jenis penyakit. Tetapi, radio itu mengatakannya seolah menderita penyakit tersebut bagaikan piknik dan tersesat.

Kalau aku sudah berpikir begitu, aku jadi suka mengutuki keluarga sendiri dan bertanya-tanya mengapa tak dilahirkan jadi anak presiden. Presiden yang mana saja: yang terguling maupun tidak. Itu tak ada bedanya. Mereka begitu sentosa, dan malangnya tak pernah sakit pula. Paling tidak, seandainya aku jadi anak dokter!

Ya, tentu saja di tengah-tengah keluarga sakit macam kami suatu ketika pernah juga tebersit keinginan seseorang di antara kami untuk jadi dokter. Tetapi, percayalah kami anak-anak bodoh yang baru bisa membaca pada umur sepuluh tahun dan mengerti berhitung umur lima belas tahun. Tak seorang pun di antara kami jadi dokter. Seorang sepupuku jadi penjual nasi goreng, yang lain opas kantor, adikku penjahit di sebuah konveksi, dan aku sendiri penjual baju keliling. Butuh lima generasi lagi untuk keluarga kami melahirkan dokter, dan waktu itu semua orang sudah bisa menyembuhkan diri sendiri.

***

Seorang temanku tak percaya bahwa aku sakit diguna-guna, juga tak percaya itu sebagai penyakit turunan. "Masalah utamanya adalah kamarmu," katanya.

Mau tak mau aku jadi berpikir tentang kamarku, telah kutinggali selama sepuluh tahun terakhir ini. Sama sekali bukan kamar yang menyenangkan memang. Dan, aku bertahan di sini bukan karena betah, melainkan tak kutemukan yang lebih murah dari ini. Lebih dari itu, induk semangku buka warung, di sana aku bisa minta bon di waktu-waktu dagangan tak menentu.

Sebenarnya kamarku cukup besar untuk ukuran kamar pondokan, meskipun bentuknya tak simetris benar. Yang paling parah dari segalanya kamar itu tak memiliki lubang udara, kecuali kisi-kisi kecil tempat masuknya debu. Berkali-kali bocor dan di musim hujan temboknya demikian lembap sampai kadang-kadang pakis tumbuh di sana. Suatu ketika aku berkeliling menjajakan dagangan sampai luar kota berhari-hari, dan waktu pulang kutemukan jamur tumbuh di kasurku. Tuan, kau boleh tak percaya ini, tetapi itu sungguh-sungguh terjadi. Lintah dan cacing bahkan bukan benda asing di kolong tempat tidurku.

Waktu aku pertama-tama datang ke sini, induk semangku masihlah seorang gadis dan kamarku masihlah menyenangkan. Masih ada jendela besar yang menghadap teras bersih tempat kami duduk-duduk di waktu sore. Kamar-kamar kami tidak menghadap ke jalan, tetapi melingkar menghadapi sepetak halaman yang ditanami bunga-bunga. Ada pohon anggur merambat dengan sedikit buahnya yang kering dan selalu hijau. Kami menghabiskan waktu sore dengan bermain gitar dan bernyanyi, dan di hari Minggu mengisi teka-teki silang.

Tragedi itu dimulai ketika kakek pemilik pondokan mati. Warisan dibagi-bagi di antara banyak anak. Anak lelaki tertua membuat rumah di petak kecil itu, begitu kecil sehingga ia harus membuatnya bertingkat untuk mendapatkan kamar yang cukup bagi tiga anaknya. Untuk pertama kali kami mulai kehilangan cahaya matahari. Dan, kamar-kamar pondokan mulai disekat-sekat di antara anak-anak yang lain, memisahkan kami satu per satu. Kami tak lagi bernyanyi, main gitar, dan mengisi teka-teki silang bersama-sama lagi. Si gadis kecil, ibunya sudah mati dan ia cucu si kakek, memperoleh tiga kamar paling depan, salah satunya yang kutinggali. Ketika ia akhirnya kawin, ia membuat kamar baru tepat di teras depan kamarku untuk tinggal bersama pengantinnya. Menutupi jendela besarku.

Sejak itu aku mulai merasa sesak napas, dan tampaknya benar kata temanku, sejak itu pula aku mulai sakit-sakitan.

Kini aku mulai menyadari tempat itu memang sarang penyakit betul. Sampah dari warung makan teronggok persis di depan pintuku. Juga bau anyir ikan dan daging dari pencucian. Dan, sebaiknya kau tak pernah mampir ke kamar mandi kami. Berkali-kali kami membayar penyemprotan tetapi telur nyamuk masih memenuhi bak mandi kami, juga cacing-cacing kecil merah warnanya. Tampaknya itu sudah terjadi sejak bertahun-tahun, aku saja yang baru menyadari. Aku pernah mencoba membersihkan bak mandi, namun sia-sia. Telur nyamuk dan cacing merah selalu datang kembali. Ternyata bak penampungannya sudah menyerupai belukar lumut. Sempat pula ingin kubersihkan, namun segera kuurungkan begitu tahu sumurnya lebih rimba dari hutan raya. Padahal dari sanalah air untuk minum kami.

Inilah duniaku yang tak ada sehatnya.

***

Aku telah bertunangan, dengan seorang gadis manis penjaga toko donat, yang kujanjikan akan kukawin tahun depan. Aku mengikuti sarannya untuk menyenang-nyenangkan diri, demi kesembuhanku. "Kebahagiaan merupakan obat segala penyakit," katanya. Kupikir ia mengutip dari suatu tempat.

Ia mengajakku sedikit jalan-jalan, untuk memperoleh udara segar dan cahaya matahari. Beberapa hari kemudian ia bahkan berani mengajakku nonton film di bioskop murah, pergi dengan becak, semua ongkos atas pertanggungannya. Aku harus melihat film itu dengan dibungkus mantel, dan sama sekali tak mengerti alur ceritanya karena tertidur menggigil demam. Sama sekali tak seromantis sepasang kekasih yang tengah menunggu hari perkawinan.

Gadisku mencoba tak menyerah. Ia mengajakku pergi ke taman dekat balai kota, melihat bunga-bunga dan anak-anak berlarian dengan anjing-anjing pudel yang lucu. Ia memetikkan bunga ratnapakaya untukku, menusukkannya ke rajutan sweater-ku. Aku senang dengan semua yang ia lakukan, tetapi tampaknya semakin jauh dari kesembuhanku. Dari hari ke hari aku semakin kering dan sekarat. Bola mataku seperti mencuat dan pipiku membentuk lembah menyedihkan. Rambutku rontok segenggam demi segenggam. Aku telah mati bahkan sebelum waktunya tiba. Gadisku mencoba mengajakku bersenang-senang, namun aku semakin payah. Semua ini tampaknya mulai menjengkelkan gadisku yang manis.

Ia menuduhku tak berusaha menyembuhkan diri sendiri. Aku tak terima tuduhannya yang menyakitkan itu, dan berkata bahwa tak banyak yang bisa kulakukan dengan tubuh yang semakin ringkih ini. Dengan tubuh yang dipenuhi semua penyakit yang mungkin ada di planet ini. Sebaliknya aku menuduhnya tak memiliki kesabaran yang sepatutnya. Kami jadi sering bertengkar, semakin hebat hingga akhirnya ia pergi meninggalkanku.

Hari pertama kepergiannya aku lihat binar mata cemerlangku di cermin, dan untuk pertama kali aku makan pisang ambon sebesar betis bayi, disusul bubur beras satu piring. Kupikir hari begitu indah, aku tersenyum, dan aku ingin sekali menjelajahi trotoar mencari cahaya. Kemudian kudengar ia telah bersama lelaki yang lain, dan bahkan merencanakan pernikahan dengan segera. Itu membuat kulitku memerah dan cemerlang semakin menjadi-jadi. Di hari perkawinannya aku datang, untuk pastikan ia memang kawin. Kemudian kutemui seorang gadis, penjaga binatu, dan bikin janji kencan. Benar Tuan, aku mesti mainkan sandiwara sakit itu, tujuh bulan, sebab aku pengecut tak ada nyali usir tunangan sendiri, yang sebenarnya baik itu. Untuk si Cantik penjaga binatu.

[2003]


 

 

 

 


© 2002-2009 Sriti.com. All Rights Reserved.
Home | Tentang | Kontak