Logo Sriti Home | Cerpen | Tentang | Kontak
 


 








 
 

Jumat ini tak Ada Khotbah

Cerpen Eka Kurniawan Silakan Simak!
Dimuat di Media Indonesia Silakan Kunjungi Situsnya! 04/11/2004 Telah Disimak 1720 kali

 

MELALUI jendela kamarnya, seseorang bisa melihat Kiai Jahro susah payah mencoba menulis. Beberapa minggu sekali, anak bungsunya akan mengirimi satu rim kertas, dan kini kertas-kertas itu berserak dengan tulisan yang tak satu pun memuaskannya. Ini di luar kebiasaan. Setiap Jumat pagi, selepas subuh, ia akan duduk di meja itu dan menuliskan khotbah untuk salat Jumat. Menjelang istrinya datang mengajak sarapan pagi, ia telah usai dengan empat atau lima lembar tulisan, lengkap dengan beberapa kutipan ayat dan hadis, kadang kala lelucon kecil para imam termasyur. Kecuali hari ini: istrinya telah tiga kali mengajaknya sarapan dan ia belum juga tahu apa yang akan dibacanya pada khotbah nanti.

Tiga kali pula ia mesti mengusir istrinya dengan cara lembut dan mencoba menenangkan diri dengan merajang cengkih dan kemenyan, menaburkannya pada tembakau, menggulungnya dengan daun aren kering. Sekonyong gumpalan asap menerobos celah jendela, mengapung di halaman samping tempat dua ekor induk ayam mengais sarang semut bersama anak-anaknya. Ia bahkan mulai melupakan kewajiban memberi bubur dedak bagi ayam-ayam itu.

Sepanjang tahun-tahun yang lewat, ia telah menulis begitu banyak, tanpa pernah mencoba mengulang apa pun dari minggu yang satu ke minggu lain. Apa yang pernah ditulisnya, kini bertumpuk di sudut kamar, terbebas dari rayap sebab beberapa butir kapur barus selalu tersedia untuk mereka. Serasa baginya ia telah menulis sebuah kitab suci yang lain, dan kadang itu membuatnya takut. Ia telah menulis selembar wasiat, seandainya mati, seseorang mesti membakar musnah tulisan-tulisan tersebut. Sebab, jika tidak, iblis akan membuatnya sesat, katanya.

Ia menoleh memandang lemari kayunya. Di balik kaca yang senantiasa mengilau, ia bisa melihat punggung buku berderet. Ia bertanya-tanya apakah harus membuka kembali salah satu kitab Ghazali, mengutipnya, dan membicarakan keutamaan salat? Atau barangkali keutamaan perkawinan? Ah, setelah berpuluh tahun, ia merasa telah mengkhotbahkan segala sesuatu dan tak lagi tersisa untuk hari ini.

***

Pulang lebih cepat dari anak-anak lainnya, si bocah kecil Hasan selalu memperoleh kesempatan berharga untuk memukul beduk menjelang salat Jumat. Dengan tas masih terayun di punggungnya, ia akan mengambil penabuh dan menyembunyikannya sebelum masuk ke rumah di belakang masjid melalui pintu dapur. Ia akan datang di waktu-waktu yang mencemaskan, ketika orang-orang mencari penabuh tersebut, masih mengenakan seragam pramukanya dan seringai penuh kemenangan, sebelum memukul beduk penuh gaya.

Ia mempelajarinya dari anak-anak yang lebih besar, bagaimana memukul kulit domba itu berselingan dengan tepi drum. Kadangkala bukan tepi drum itu yang dipukul untuk memberi bunyi jeda, melainkan kayu pasak yang menjerat kulit. Lain waktu ia memukul si kulit domba tepat di tengahnya, dengan irama yang ribut sebelum melambat, kala lain memukulnya menyudut, mencari warna bunyi yang lain. Sepanjang bulan puasa lalu, saat-saat pertama perkenalannya dengan beduk dan ia mendapati dirinya jatuh cinta pada benda itu, ia menemukan banyak sekali gaya dan orang-orang memaafkan belaka segala percobaan penuh bising di tengah rasa lapar itu.

Demikianlah ia mengetahui bagaimana memukul beduk untuk membangunkan orang di waktu subuh. Ia juga tahu beduk di kala lohor lebih lambat dan menghanyutkan. Beduk asar merupakan saat yang penuh main-main dan orang tak akan terlalu peduli, hanya ada tiga atau empat orang yang datang menerima panggilan. Beduk magrib selalu ringkas, serupa perkawinan unggas. Isya? Si bocah tahu itu waktu yang tak memberi ruang apa pun bagi seni menabuh beduk.

Di atas segalanya, beduk salat Jumat memberinya serbakemungkinan melimpah ruah. Begitulah, sepulang dari sekolah, selepas makan siang dengan semur jengkol dan jantung pisang, sementara ia jongkok di atas kakus dengan kayu pemukul beduk bertengger di bahunya, si bocah Hasan menyeringai membayangkan satu kejutan pada orang-orang. Ia akan menabuh beduk dengan cara yang tak pernah didengar siapa pun.

***

Tersebutlah seorang berasma Kiai Badrah. Kenyataannya ia bukanlah seorang imam masjid, sebagaimana setiap orang yang menyebut dirinya kiai. Selepas berkelana dari satu pesantren ke pesantren lain, ia mendapati dirinya belajar pada seorang pendeta Kristen dan mempelajari kitab mereka. Telah lama ia mengetahui dirinya tak bakal jadi seorang muslim yang baik, sebagaimana kemudian ia juga bukan Kristen yang baik. Tetapi, ia saleh bukan main, paling tidak demikian kelak jemaatnya akan mengenang.

Suatu hari ia pergi ke sebuah kampung tak bertuan. Ia menemukannya melalui satu mimpi. Atau wahyu sebagaimana ia mengakuinya. Di kampung tak bertuan itulah ia mendirikan rumah dan gerejanya. Ia membabat alas dan membikin sawah. Sebuah keluarga muncul dan ikut menanam padi, lantas menjadi dombanya yang pertama. Anak-anak domba yang lain datang mencari induk, akasia dan mahoni liar ditebang dan sawah pun semakin terhampar. Rumah-rumah baru tumbuh dan kursi-kursi gereja semakin sesak. Kepada mereka, Kiai Badrah mengajarkan apa yang diketahuinya dari kitab-kitab Islam dan Kristen, sebagaimana yang ia tahu dari kitab orang Buddha dan Hindu. Mereka hidup damai, tetapi tak berapa lama.

Gereja, dan pemerintah kolonial yang selalu cemas, mengingatkan dirinya bahwa semua itu bidah. Bidah dalam makna yang sesungguh-sungguhnya, dilihat dari mana pun. Kiai Badrah bergeming. Mereka menahannya seminggu di dalam sel, dan ia tetap bergeming. Mereka hendak membuangnya ke tempat yang entah, hingga ia mencari perlindungan dari Gereja Inggris yang mengizinkannya mendirikan Gereja Kampung. Salah satu yang menyebut Gereja Kampung. Dengan kitab-kitab mereka sendiri, bahasa sendiri, khotbah sendiri, dan barangkali nabi serta Tuhan sendiri.

Bagaimanapun Kiai Badrah dan domba-dombanya yang saleh tetap merasa tak kurang Kristen dari siapa pun. Mereka membayar sepersepuluhan segiat yang lain. Mereka juga mengadakan misa. Tidak di hari Minggu, tetapi di siang hari Jumat. Dengan beduk ditabuh dan bukan lonceng yang berdenting.

***

Selepas subuh, Komar bin Ayub pulang ke rumah dan kelopak matanya mengingatkan dirinya bahwa hari itu tampaknya ia bakal melewatkan khotbah Jumat. Ia melihat istrinya yang masih terbaring lemah di tempat tidur, dengan selimut bergulung bertumpuk di tubuhnya. Mertua perempuannya sedang menjerang air. Sisa-sisa persalinan dan pemakaman masih terserak. Ia melihat tempat tidur kosong di kamar depan, matanya kelabu, dan otaknya berbisik, siang itu ia tak bakalan mendengar beduk Jumat.

Sepanjang malam ia menunggui kubur bayinya yang lahir hanya untuk meminta keranda, bersama seorang keponakan. Mereka menguburkannya di kebun belakang rumah, dengan nisan kecil dari batu kali, bahkan belum sempat terpikir hendak memberinya nama. Ditemani obor dan seceret kopi, golok yang tergantung di pinggang, nyamuk yang berdengung, codot berkelepak sekali-dua, mereka menunggu sepanjang malam. Yang dinanti tak juga datang, bagaimanapun.

Sebagaimana siapa pun, mereka sangat mencemaskan seseorang entah yang bakal datang di malam pekat. Seseorang, barangkali beberapa orang dengan maksud sendiri-sendiri, akan datang menenteng cangkul dengan sarung melingkar di sebelah bahu. Orang-orang semacam itu selalu tahu dari bau angin bahwa sebongkah bayi mati di malam Jumat, dan bau itu mengantar mereka hingga tempatnya dikubur. Jika tak seorang pun menjaga, seseorang itu tak banyak tanya, ia menggali dengan cangkulnya, membawa pergi bayi mungil tak ada napas itu, ke suatu jarak yang juga entah. Benar, barangkali yang datang tak satu, maka mereka harus bertarung hingga tersisa yang terunggul, yang diperkenankan menggali dan membawa mayat si kecil. Bayi yang mati di malam Jumat bisa menjadi apa pun, paling tidak jimat yang membuatmu kebal dari segala senjata.

Demikianlah Komar bin Ayub mesti berjaga di kuburan bayi kecilnya. Ia akan bertarung dengan siapa pun yang hendak merampas mayat itu dari tempatnya berbaring. Sepanjang malam, ia membuka mata, berbincang ini dan itu dengan keponakannya. Ketika pagi tiba, orang yang ditunggu tak akan datang, maka mereka pulang ke rumah, dengan sebongkah batu menggelayut di kelopak mata. Berbaring di atas tempat tidur, kembali Komar bin Ayub mengingatkan dirinya, ia tak bakalan mendengar khotbah Jumat.

***

Di kebanyakan kalender, kita tahu hari Minggu selalu dicetak dengan warna merah dan Jumat dengan hijau. Hari lain hitam pekat di atas dasar putih, kecuali hari ketika kau tak pergi ke kantor atau sekolah. Kenyataan ini sejujurnya memberi tambahan beban yang tak sepele bagi para desainer, sebagaimana kerja tambahan bagi tukang cetak. Cat merah dan hijau, juga bukannya tak menuntut ongkos apa pun bagi pembelinya. Sekadar memberi tahu, jika kalender dicetak dengan warna proses, warna Minggu berarti magenta yang menimpa kuning, dan Jumat berarti kuning yang ditindih cyan.

Sakom, adalah pemilik bengkel las di tepi jalan yang memiliki kalender semacam itu tergantung di dinding rumahnya. Yang tergantung di ruang tamu merupakan pemberian dari kantor pegadaian, bergambar dua belas kucing cantik, satu ekor di setiap bulan. Yang tergantung di ruang bengkelnya tak bergambar apa pun, hadiah langganan koran, hanya deretan angka dengan kertas kusam oleh jelaga. Bagaimanapun benda itu cukup membantunya mengingat kapan ia mesti membayar uang sekolah anaknya yang dua itu, tetapi warna merah dan hijau yang aneh tersebut tak berarti apa pun baginya.

Ia tahu warna merah memberinya penanda untuk rihat. Tetapi, ia tak pernah libur. Di hari merah ia tetap membuka bengkel lasnya, memperbaiki mesin perahu nelayan, menyambung terali besi pesanan, atau membuat kerangka kursi. Ia juga tahu di hari merah yang berderet empat atau lima kali setiap bulan banyak orang pergi mendengarkan misa. Yang didengarnya hanya pukulan palu dan desis api. Serta bau karbit. Demikian pula di hari hijau ia tetap di bengkelnya, meski orang-orang berduyun ke masjid di siang terik, menunggu seorang bocah celaka membawa sepeda bengkok minta diperbaiki. Warna-warna itu, merah dan hijau, memberinya satu sensasi yang aneh dan tak terpahami, dan lama kemudian mulai mengabaikannya.

Hingga tiba satu hari Jumat dan ia menemukan kalendernya berwarna hitam. Barangkali salah cetak, tetapi serasa itu membisikkan satu kebenaran ajaib, Jumat ini tak ada khotbah.

***

Aku duduk bersila dan melihat kiai kami yang sepuh itu tertatih menuju mimbar. Yang ada hanya dengung kipas angin, dan angin yang berpusing membuat kepala kami pun berputar. Punggungku terasa sakit, sebuah pertanda ajakan untuk berbaring. Tetapi, tak ada tempat untuk telentang, kami harus tetap bersila, berdesakan, di atas karpet berumur dua belas tahun yang agak lembap. Aku menguap, dan sebelum kiai kami membuka suara, aku telah terjatuh dalam kisah ajaib tanpa ujung pangkal.

Ketika aku melihatnya kembali, kiai kami itu, ia telah undur diri dari mimbar, sembari membereskan beberapa lembar kertas dan sebuah buku tafsir. Langkahnya masih tertatih, padahal ia hanya butuh dua atau tiga langkah untuk sampai di pengimaman, tempat sajadahnya menunggunya untuk memimpin salat Jumat kami.

Aku masih duduk bersila, masih mencoba mencari tahu keberadaan diri, mengenang semua peristiwa yang baru terjadi dengan susah-payah. Aku memandang kiai kami itu, dan bertanya-tanya apa yang telah dikhotbahkannya beberapa tempo lalu. Ah, barangkali ia berhasil menulis sesuatu pagi ini, tetapi aku tak yakin ia tak mengulang khotbahnya yang lalu. Telah belasan tahun kudengarkan dirinya setiap Jumat siang, ah, tidak, sebagian besar lewat tak terdengarkan dan aku tenggelam dalam buaian pencerita yang tak mahir.

Pencerita yang menyebut Kiai Sadrah sebagai Kiai Badrah, bukankah itu pencerita yang tak mahir? Dan Kiai Sadrah tak mendirikan Gereja Kampung, tapi Gereja Jawa. Kupikir kesadaranku sedikit pulih, tetapi tak mungkinkah sungguh-sungguh ada Kiai Badrah? Di mana aku pernah mendengarnya? Pertanyaan-pertanyaan itu membuatku sedikit kacau, semakin kacau ketika aku ingat si bocah kecil Hasan itu adikku belaka, dan seumur-umur ia belum pernah menabuh beduk.

Seperti hendak menyapu semuanya, kuusap muka. Aku pergi untuk ambil wudhu kembali, dan segera lupa pada semua cerita. Sebagaimana aku selalu melupakan mimpi di Jumat siang sepanjang tahun-tahun yang tak lagi kuingat.

2004


 

 

 

 


© 2002-2009 Sriti.com. All Rights Reserved.
Home | Tentang | Kontak